My WordPress Blog

Iran kehilangan Rp2,4 kuadriliun akibat konflik dengan AS-Israel

Kerugian Ekonomi dan Infrastruktur Iran Akibat Perang dengan AS dan Israel

Pemerintah Iran diperkirakan mengalami kerugian ekonomi hingga 145 miliar dolar Amerika Serikat atau setara Rp2,4 kuadriliun akibat perang dengan AS dan Israel sejak 28 Februari 2026. Prediksi ini berasal dari sumber internal pemerintah dan intelijen Iran yang diungkapkan dalam laporan terbaru.

Selain kerugian ekonomi, perang juga menyebabkan banyak alutsista Iran rusak. Salah satu alutsista yang mengalami kerusakan adalah mesin peluncur rudal. Diperkirakan sekitar 160 sampai 190 mesin peluncur rudal balistik milik Iran telah rusak akibat konflik tersebut. Kerusakan ini menambah beban biaya perbaikan yang tidak murah bagi negara tersebut.

Fasilitas Militer Iran Rusak Akibat Konflik

Menurut laporan dari sumber internal pemerintah dan intelijen Iran, sebagian besar fasilitas militer nasional juga mengalami kerusakan akibat perang dengan AS dan Israel. Tercatat, lebih dari 66 persen pabrik rudal dan drone milik Iran rusak karena konflik tersebut.

Selain itu, beberapa fasilitas kritis Iran juga terkena dampak perang. Salah satunya adalah situs nuklir. Selama konflik, AS dan Israel sering melakukan serangan terhadap situs-situs tersebut. Kerusakan pada fasilitas-fasilitas kritis ini berdampak langsung pada kemampuan Iran dalam menjaga keamanan nasional.

Korban Jiwa dan Luka-Luka Akibat Serangan

Perang antara Iran dengan AS dan Israel juga berdampak pada warga sipil. Data terbaru menyebutkan bahwa sebanyak 2.076 warga Iran dinyatakan tewas akibat serangan AS dan Israel. Sementara itu, sekitar 26.500 warga lainnya mengalami luka-luka.

Korban jiwa dan luka-luka ini menjadi bukti bahwa konflik tidak hanya memengaruhi infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga kehidupan masyarakat secara langsung.

Gencatan Senjata Antara Iran, AS, dan Israel

Sebagai informasi, perang antara Iran dengan AS dan Israel kini sudah mereda. Presiden AS, Donald Trump, telah menyepakati gencatan senjata dengan Iran selama dua pekan pada Selasa (7/4/2026). Israel juga terlibat dalam kesepakatan ini.

Langkah ini diambil karena Iran bersedia membuka Selat Hormuz untuk kapal-kapal dari semua negara. Sebelumnya, Iran bersikukuh menutup Selat Hormuz, terutama untuk kapal-kapal dari AS dan Israel. Meski demikian, Iran tetap meminta kapal-kapal yang ingin melintas di Selat Hormuz untuk berkoordinasi terlebih dahulu dengan mereka.

Gencatan senjata ini disambut baik oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Ia menyatakan bahwa keputusan ini sangat berguna bagi AS, Israel, dan Iran untuk mengakhiri perang.

Lebanon Tidak Terlibat dalam Kesepakatan Gencatan Senjata

Sayangnya, AS dan Israel menegaskan bahwa Lebanon tidak terlibat dalam kesepakatan gencatan senjata yang disetujui dengan Iran. Oleh karena itu, Israel hingga kini masih terus menyerang Lebanon. Menurut Iran, dokumen gencatan senjata yang diberikan AS seharusnya melibatkan Lebanon.

Serangan terbaru Israel ke Lebanon terjadi pada Rabu (8/4/2026). Saat itu, Israel melancarkan lebih dari 100 serangan udara ke sejumlah wilayah di Lebanon, termasuk Ibu Kota Beirut. Serangan tersebut menewaskan 256 orang dan melukai 1.165 lainnya.

Serangan Israel ke Lebanon ini dikecam oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). PBB menilai serangan tersebut bisa mengganggu kesepakatan gencatan senjata yang telah disetujui AS.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *