Pengalaman Menegangkan Pasangan Suami Istri Saat Berlayar di Laut
Keinginan untuk menghabiskan libur panjang akhir pekan dengan aktivitas memancing justru berujung pengalaman tak terduga bagi pasangan suami istri asal Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Peristiwa ini terjadi pada Jumat (3/4/2026), ketika keduanya mengalami insiden mati mesin di tengah laut saat cuaca tiba-tiba memburuk.
Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Nelayan Sabang Ruk, Desa Pembaharuan, Kecamatan Kelapa Kampit sekitar pukul 06.00 WIB menuju Pulau Pekandis, yang dikenal sebagai spot favorit memancing. Awalnya perjalanan berjalan lancar dengan cuaca cerah. Namun, sekitar pukul 10.05 WIB kondisi alam berubah drastis. Langit mendadak gelap disertai angin kencang yang menandakan datangnya cuaca buruk.
Iqbal, sang suami, memutuskan untuk kembali ke daratan. Sayangnya, dalam perjalanan pulang mesin perahu yang mereka tumpangi tiba-tiba rusak dan mati total. Mereka terjebak dalam situasi darurat, terombang-ambing tanpa daya, sementara tidak ada satu pun perahu nelayan lain yang melintas di sekitar lokasi pada saat itu.
“Ikut mencari pertolongan nelayan sekitar yang mau balik ke daratan, tapi ditunggu lama tidak ada yang lewat,” ujar Iqbal. Dalam kondisi perahu yang terus terombang-ambing, Iqbal terus berusaha menghubungi orang di daratan, tetapi upaya tersebut berkali-kali gagal karena buruknya sinyal ponsel.
Iqbal tidak menyerah. Ia membiarkan perahunya sedikit berhanyut sambil terus memantau layar ponselnya. Harapannya adalah mendapatkan sinyal untuk mengirimkan pesan darurat.
“Kami menunggu sinyal dulu. Agak berhanyut sedikit, sekitar jam 12.00 kurang baru ada sinyal setelah jangkar diturunkan. Nah, dari situlah kami menelepon,” ucapnya. Setelah berhasil mendapatkan sinyal, Iqbal langsung menghubungi Oscar Habib, anggota DPRD Belitung Timur, untuk meminta bantuan evakuasi. Laporan tersebut kemudian diteruskan secara berantai kepada tim BPBD, Tagana, hingga Basarnas.
Komandan Tim SAR Gabungan, Dimas, menjelaskan bahwa pihaknya segera bersiap melakukan operasi evakuasi setelah menerima laporan pada pukul 12.09 WIB. Tim SAR Gabungan langsung bergerak cepat menuju titik koordinat korban.
Syukurlah sebelum tim SAR tiba di lokasi, takdir baik menghampiri pasangan ini. Sekitar pukul 13.55 WIB, sebuah perahu nelayan milik pria bernama Sarman melintas di dekat posisi Iqbal dan Riska.
“Kebetulan ada perahu nelayan atas nama Bapak Sarman lewat. Beliau langsung mengevakuasi korban dan membawa mereka menuju daratan,” ungkap Dimas. Saat Tim SAR dalam perjalanan menuju Pulau Pekandis, mereka bertemu dengan perahu Sarman yang sedang menarik perahu korban. Tim SAR kemudian melakukan pendampingan hingga perahu tersebut tiba di dermaga secara selamat.
Sekitar pukul 15.10 WIB, korban beserta perahunya akhirnya tiba di Dermaga Nelayan Sabang Ruk. Kondisi keduanya dinyatakan sehat dan selamat, meski terlihat sedikit kelelahan.
Dimas mengapresiasi kesigapan nelayan lokal yang turut membantu proses evakuasi sebelum tim SAR tiba. Atas kejadian ini, Tim SAR Gabungan mengimbau kepada para nelayan maupun masyarakat yang hendak melaut agar selalu waspada. Pemeriksaan kondisi mesin perahu sebelum berangkat adalah hal yang tidak boleh diabaikan.
“Pastikan kondisi perahu dalam keadaan prima dan selalu pantau perubahan cuaca. Jangan memaksakan melaut jika kondisi alam sudah mulai menunjukkan tanda-tanda buruk,” tutup Dimas.











