Penyebaran Ikan Sapu-Sapu di Asia Tenggara
Ikan sapu-sapu, yang dikenal dengan berbagai nama seperti ikan bandaraya, pleco, atau suckermouth fish di Malaysia, serta janitor fish di Filipina, telah menjadi masalah serius di kawasan Asia Tenggara. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga melibatkan negara-negara seperti Malaysia dan Filipina, yang melaporkan invasi spesies ini di sungai-sungai hingga mengganggu ekosistem dan aktivitas nelayan.
Di Malaysia, ikan ini pertama kali muncul pada awal 2000-an di kawasan Asia Tenggara dan kini berkembang pesat karena kemampuannya bertahan di air tercemar serta minim oksigen. Dalam laporan yang dirilis oleh Malay Mail, komunitas pemancing dan relawan berhasil menangkap 75 ton ikan tersebut sejak akhir 2023 hingga Desember 2025. Mohamad Haziq A. Rahman, pendiri kelompok pemburu ikan asing SPIA Malaysia, menyebutkan bahwa penangkapan dilakukan bersama berbagai pihak, termasuk kelompok Pemburu Ikan Sapu-Sapu dan Pemburu Monster Sungai, untuk menekan dampak terhadap ekosistem sungai.

Dari Akuarium Jadi Ancaman
Laporan Bernama yang dimuat The Star menyebutkan bahwa ikan sapu-sapu awalnya merupakan ikan hias yang dilepas ke perairan umum Malaysia, termasuk Sungai Langat. Tanpa predator alami, populasinya berkembang pesat dan mulai mendominasi habitat. Chang Chun Kiat, Wakil Direktur Pusat Penelitian Rekayasa Sungai dan Drainase Perkotaan (REDAC), Kampus Teknik Universiti Sains Malaysia, menjelaskan bahwa saat ikan bandaraya menggali jaringan terowongan dan rongga yang luas, mereka secara signifikan mengganggu kestabilan sedimen, terutama di area tepi sungai.

Pola serupa juga terjadi di Filipina. Di negara ini, ikan sapu-sapu telah menyebar luas di sungai-sungai utama. Janitor fish telah menginvasi Laguna de Bay, Sungai Pasig, dan sistem sungai lainnya. Laporan Esquire Philippines pada 7 Juni 2023 menyebutkan bahwa ikan ini juga ditemukan di kawasan rawa Agusan Marsh di Mindanao. Para peneliti menduga keberadaannya di sana berasal dari pelepasan ikan peliharaan ke alam liar secara terpisah.
Ganggu Nelayan, Mulai Ditangani
Keberadaan ikan sapu-sapu di Filipina juga berdampak langsung pada nelayan. Ikan ini merusak jaring, mengubah struktur sungai, hingga menggeser ikan lokal. Media lokal Panay News melaporkan upaya pemberantasan terus dilakukan karena dampaknya yang meluas terhadap lingkungan dan ekonomi. Baik Malaysia maupun Filipina kini mengandalkan penangkapan massal dan edukasi publik untuk mengendalikan populasi ikan ini.

Ketua Komite Infrastruktur dan Pertanian Selangor, Izham Hashim, mengatakan pemerintah sejak 2024 memberikan insentif sebesar 1 ringgit Malaysia atau sekitar Rp 4.200 per kilogram ikan yang berhasil ditangkap warga. “Jika memungkinkan, kami ingin menjadikan program ini berkelanjutan. Saya yakin populasi ikan bandaraya di kawasan perkotaan bisa dikurangi, bahkan dihilangkan,” katanya, dilansir The Strait Times pada 1 September 2025. Menurut Izham, ikan-ikan yang ditangkap tidak semua dibuang, melainkan diolah menjadi pakan ternak bernutrisi tinggi dan pupuk organik menggunakan teknologi Bio-Nano Yanisys.
Filipina juga mengadopsi strategi yang sama, dengan mengolah ikan sapu-sapu menjadi fish fillet, fish ball, serta pakan ternak. Warga Manila dan sekitarnya diberi edukasi terkait spesies invasif tersebut. Fenomena ini menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu bukan hanya masalah di Indonesia, melainkan ancaman yang sudah menyebar di kawasan Asia Tenggara.











