Mengapa Anak Lebih Memilih Papa Daripada Mama, dan Bagaimana Menjaga Konsistensi dalam Orang Tua
Pernahkah Anda mengalami situasi di mana anak meminta izin kepada Mama, namun Mama menolak, lalu anak langsung pergi ke Papa dan mendapatkan jawaban “boleh”? Hal ini sering kali membuat Mama merasa kecewa atau bingung. Namun, ternyata hal tersebut bukan berarti Papa lebih baik atau lebih ramah, melainkan tanda bahwa wibawa rumah tangga sedang terancam.
Dalam konten edukasi parenting yang dibagikan oleh seorang kreator konten @vitaherdiyanti, ia menjelaskan bahwa banyak orang tua yang salah kaprah dalam memahami bagaimana anak harus meminta izin. Berikut beberapa poin penting untuk menjaga konsistensi dalam pengasuhan anak dan menjaga struktur keluarga yang kuat:
Pahami Struktur Perusahaan Rumah Tangga
Mama Vita dalam unggahannya menggunakan analogi rumah tangga sebagai sebuah organisasi atau perusahaan. Dalam struktur ini, Papa berperan sebagai CEO atau kepala sekolah yang bertugas menentukan visi, aturan utama, serta kebijakan besar keluarga. Sementara itu, Mama berperan sebagai manajer operasional atau wali kelas yang menjalankan aturan tersebut secara harian.
Secara hierarki, Papa adalah pemimpin tertinggi, tetapi ia telah mendelegasikan wewenang harian kepada Mama. Oleh karena itu, kedua peran ini harus saling mendukung dan bekerja sama, Ma dan Pa.
Bedakan Ranah Izin Antara Mama dan Papa

Tidak semua izin harus anak tanyakan langsung kepada Papa. Ada ranah operasional yang sepenuhnya menjadi wewenang Mama, seperti urusan makan, pakaian, waktu bermain, hingga pekerjaan rumah. Di ranah ini, Papa tidak perlu ikut campur apalagi melakukan mikro management yang mendetail sampai anak pun bingung.
Namun sebaliknya, ada ranah prinsip yang perlu diputuskan oleh Papa setelah berdiskusi dengan Mama, misalnya pemilihan sekolah, izin menginap, kepemilikan gawai atau kendaraan, hingga aturan berpacaran. Jika pembagian ini sudah jelas, anak pun tidak akan bingung ketika meminta izin. Tidak hanya anak, tapi Mama dan Papa juga tidak akan lagi saling tumpang tindih karena adanya perbedaan ranah.
Terapkan Protokol Satu Suara

Kesalahan fatal yang kerap dilakukan Papa adalah menjadi penyelamat saat Mama sudah melarang. Mama pasti sering merasa jengkel ketika Papa bersikap demikian, kan? Ketika Mama sudah mengatakan “tidak”, Papa juga tidak boleh mengatakan “ya” di depan anak. Tindakan ini justru bisa merusak wibawa Mama dan membuat anak belajar menyepelekan Mamanya karena merasa memiliki sandaran dari Papa.
Lebih lanjut, Mama Vita menyarankan protokol satu suara, yakni setiap kali anak merengek kepada Papa, cukup jawab dengan kalimat, “Kata Mama bagaimana? Kalau Mama bilang tidak, berarti Papa juga tidak.” Hal ini menunjukkan bahwa manajemen orang tua dalam mendidik anaknya itu solid dan tak bisa dipecah belah oleh siapa pun, termasuk anak sendiri.
Pentingnya Konsistensi dan Kesatuan Orang Tua
Jadi, dapat digarisbawahi bahwa sebagai orangtua, kita perlu saling mendukung dan jalan beriringan untuk kepentingan anak. Jika Papa tidak setuju dengan keputusan Mama, tegurlah Mama secara privat di dalam kamar, bukan di depan anak. Di depan anak, Mama dan Papa harus tampak sebagai satu paket yang utuh.
Jangan biarkan anak belajar “politi”k dua kaki sejak dini, karena konsistensi dan kesatuan suara orang tua adalah fondasi utama rasa hormat anak terhadap kita sebagai orang tua. Dengan begitu, anak akan tumbuh dengan keyakinan bahwa orang tua selalu bersatu dan saling mendukung dalam setiap keputusan.











