My WordPress Blog

Dipenjara 7 Bulan, Pria Pengangguran Curangi Alat Tukang untuk Makan, Elpirudin Rugi Rp4 Juta

Pengangguran di Surabaya Divonis 7 Bulan Penjara Karena Mencuri

Edi Darmanto, seorang pengangguran di Kota Surabaya, terbukti bersalah melakukan tindak pidana pencurian dengan pemberatan. Peristiwa ini terjadi pada Rabu, 26 November 2025, sekitar pukul 17.00 WIB. Edi mencongkel rumah korban Moch. Elpirudin yang berada di Jalan Gading Karya. Untuk melakukan aksinya, ia membawa sebatang besi betel yang telah disiapkannya sebelumnya.

Setelah berhasil masuk ke dalam rumah, pelaku mengambil tiga unit peralatan pertukangan, yaitu mesin kompresor listrik, mesin gosok kayu, dan mesin gerinda. Ketiga alat tersebut dibungkus ke dalam karung berwarna putih. Namun, aksi Edi tidak berlangsung mulus.

Saat hendak meninggalkan rumah korban dengan membawa hasil curiannya, Edi dicurigai oleh seorang petugas dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), Aziz Achirudin. Aziz kemudian menegur dan memeriksa isi karung yang dibawa Edi. Setelah memastikan bahwa barang-barang tersebut merupakan milik korban, Aziz segera menghubungi pemilik rumah. Akhirnya, Edi diamankan dan diserahkan kepada polsek setempat.

Putusan Persidangan

Dalam persidangan, Edi mengaku melakukan pencurian karena terdesak kebutuhan ekonomi. Ia tidak memiliki pekerjaan tetap, sementara harus menanggung biaya hidup sebagai kepala keluarga. Barang-barang curian itu rencananya akan dijual untuk mendapatkan uang. “Maksud dan tujuan terdakwa mengambil tersebut adalah untuk dijual agar mendapatkan keuntungan atau uang karena terdakwa tidak bekerja dan membutuhkan biaya hidup sebagai kepala rumah tangga,” ujar Ketua Hakim, Ristanti Rahim saat membacakan putusan di Ruang Candra Pengadilan Negeri Surabaya.

Atas dasar itu, hakim memvonis Edi dengan hukuman penjara selama 7 bulan, dikurangi masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani. Selain itu, terdakwa juga diwajibkan membayar biaya perkara sebesar Rp 2.000. Barang bukti berupa besi betel dan karung putih dirampas untuk dimusnahkan, sedangkan ketiga peralatan pertukangan yang menjadi objek pencurian dikembalikan kepada pemiliknya, Moch. Elpirudin.

Psikis Pengangguran

Secara psikologis, pengangguran tidak otomatis membuat seseorang menjadi pencuri, tetapi kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko seseorang melakukan tindakan kriminal. Salah satu penyebab utamanya adalah stres ekonomi. Ketika seseorang tidak memiliki penghasilan, kebutuhan dasar seperti makan, tempat tinggal, dan kebutuhan keluarga menjadi sulit dipenuhi. Tekanan ini dapat menimbulkan kecemasan, frustrasi, dan rasa putus asa yang mendorong individu mencari jalan pintas, termasuk tindakan ilegal, demi bertahan hidup.

Selain itu, pengangguran sering kali berdampak pada harga diri dan identitas diri. Banyak orang mengaitkan pekerjaan dengan nilai diri dan peran sosial. Ketika kehilangan pekerjaan, seseorang bisa merasa tidak berguna, rendah diri, atau kehilangan arah hidup. Kondisi psikologis ini dapat melemahkan kontrol diri dan membuat individu lebih rentan mengambil keputusan impulsif, termasuk mencuri, terutama jika mereka merasa tidak punya pilihan lain.

Faktor Luar

Faktor lingkungan sosial juga berperan penting. Individu yang menganggur dan berada di lingkungan dengan tingkat kriminalitas tinggi atau memiliki teman yang melakukan tindakan ilegal cenderung lebih mudah terpengaruh. Dalam situasi seperti ini, mencuri bisa dianggap sebagai hal yang “wajar” atau bahkan sebagai strategi bertahan hidup, sehingga norma moral menjadi bergeser.

Di sisi lain, kurangnya aktivitas yang produktif juga dapat memengaruhi kondisi mental. Pengangguran sering menyebabkan kebosanan, kehilangan rutinitas, dan perasaan tidak memiliki tujuan. Dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat menurunkan kemampuan seseorang untuk berpikir jangka panjang dan mempertimbangkan konsekuensi. Hal itu yang membuat lebih mudah tergoda melakukan tindakan berisiko seperti mencuri.

Namun, penting untuk ditekankan bahwa tidak semua pengangguran akan melakukan pencurian. Banyak faktor lain seperti nilai moral, pendidikan, dukungan keluarga, dan akses terhadap bantuan sosial yang sangat memengaruhi perilaku seseorang. Pengangguran adalah salah satu faktor risiko, bukan penyebab tunggal, dan perilaku kriminal tetap merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor psikologis, sosial, dan ekonomi.


Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *