My WordPress Blog
Budaya  

5 Fakta Menarik Jembatan Cirahong: Dari Sejarah Hingga Kontroversi Pungli

Fakta Menarik tentang Jembatan Cirahong

Jembatan Cirahong, yang memiliki sejarah panjang dan nilai budaya tinggi, kini menjadi sorotan publik karena beberapa isu yang muncul. Berikut adalah fakta-fakta menarik tentang jembatan ini, mulai dari sejarah hingga kontroversi terkini.

Peninggalan Kolonial Belanda

Secara administratif, keberadaan Jembatan Cirahong berada di dua desa, yaitu Desa Pawindan dan Desa Panyingkiran. Jembatan ini dibangun oleh perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda, Staatspoorwegen (SS), sebagai bagian dari pembangunan jalur kereta api lintas selatan Jawa (jalur Bandung-Banjar-Yogyakarta). Dikutip dari Buku Sejarah Perkeretaapian Indonesia ditulis Sjarifuddin, dkk, Jembatan Cirahong diresmikan pada tahun 1893.

Satu-satunya Jembatan “Double Deck” di Indonesia

Salah satu fakta sejarah lainnya tentang Jembatan Cirahong adalah sistem pembangunannya. Jembatan ini memiliki struktur bertingkat dua (double deck), dengan bagian atas digunakan untuk jalur kereta api, sementara bagian bawahnya digunakan untuk kendaraan roda dua, pejalan kaki, dan (dulu) bahkan bisa dilalui kendaraan roda empat kecil. Namun, sejak tahun 2021-2022, PT KAI dan pemerintah setempat mulai melakukan pembatasan ketat demi menjaga beban struktur jembatan yang sudah tua. Saat ini, kendaraan roda empat (mobil) sudah dilarang melintas di bagian bawah jembatan untuk menjaga keselamatan dan umur teknis baja.

Dirancang Arsitek asal Belanda

Menurut Inventarisasi Bangunan Cagar Budaya Banten-Jawa Barat, Jembatan Cirahong dibangun menggunakan struktur baja yang dirancang oleh H.J. Wijers, seorang arsitek kenamaan asal Belanda. Material bajanya didatangkan langsung dari Eropa. Konstruksinya menggunakan teknik baut tanam dan baja susun yang sangat kokoh, sehingga masih berdiri tegak meski usianya sudah melampaui 130 tahun. Konstruksinya terdiri dari pilar-pilar besi yang sangat besar dan kuat untuk menahan beban kereta api yang melintas di atasnya. Jembatan Cirahong ini memiliki panjang sekitar 202 meter dan berada di ketinggian sekitar 66 meter di atas permukaan Sungai Citanduy.

Revitalisasi dan Estetika

Pemprov Jabar di bawah Gubernur Dedi Mulyadi telah mengalokasikan anggaran lebih dari Rp1 miliar untuk perbaikan lantai jembatan. Selain itu, rencana penambahan lampu penerangan dan pengecatan ulang juga sedang dipertimbangkan untuk meningkatkan nilai estetika dan keamanan bagi warga yang melintas di malam hari.

Mitos dan Daya Tarik Wisata

Selain fungsi utamanya, Cirahong dikenal memiliki suasana “mistis” dan “estetik” karena lokasinya yang berada di atas jurang Sungai Citanduy. Hal ini menjadikannya spot favorit bagi fotografer dan pecinta sejarah (heritage enthusiast). Namun, jembatan ini juga sering menjadi perhatian terkait isu keamanan dan pengawasan sosial oleh warga setempat. Seperti baru-baru ini terjadinya dugaan pungli terhadap pengendara yang melintasi jembatan tersebut.

Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *