Sektor Perdagangan di Tana Tidung Menunjukkan Pertumbuhan yang Menggembirakan
Sektor perdagangan di Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara, terus menunjukkan tren positif sebagai salah satu penopang utama ekonomi kerakyatan. Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas jual beli di wilayah ini mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Tana Tidung, kontribusi sektor perdagangan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) meningkat secara nyata.
Kepala BPS Tana Tidung, Achmad Sani Setiawan atau yang akrab disapa Iwan, menjelaskan bahwa geliat ekonomi di pasar-pasar tradisional hingga toko kelontong di Tana Tidung memberikan kontribusi besar terhadap PDRB. Dalam dokumen Kabupaten Tana Tidung Dalam Angka 2026, nilai PDRB sektor Perdagangan Besar dan Eceran (atas dasar harga konstan) menunjukkan kenaikan rill. “Sektor perdagangan kita tumbuh dari Rp 480,12 miliar pada tahun 2024 menjadi Rp 505,45 miliar pada tahun 2025. Ini artinya ada pertumbuhan ekonomi yang sehat di tingkat pedagang kita,” ujar Iwan.
Kecamatan Sesayap sebagai Pusat Perdagangan
Dari sisi jumlah unit usaha, Kecamatan Sesayap masih mendominasi sebagai pusat aktivitas perdagangan di Bumi Upun Taka. Dari total sarana perdagangan yang ada, tercatat terdapat 14 pasar tradisional yang tersebar di lima kecamatan, dengan rincian terbanyak berada di Kecamatan Sesayap dan Sesayap Hilir. “Keberadaan pasar ini sangat vital. Selain pasar, kita juga mencatat pertumbuhan jumlah toko dan warung kelontong yang mencapai lebih dari 850 unit di seluruh wilayah Tana Tidung. Ini menunjukkan akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok semakin mudah,” jelas Iwan.
Tak hanya perdagangan skala besar, Iwan juga menyoroti peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Data menunjukkan bahwa lapangan usaha perdagangan ini mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang cukup besar, bersaing dengan sektor pertanian dan jasa. “Perdagangan ini menjadi sektor yang paling tahan banting. Kita bisa lihat perbandingannya, meskipun ada fluktuasi di sektor tambang atau kehutanan, sektor perdagangan eceran tetap stabil karena berkaitan langsung dengan konsumsi harian masyarakat,” tambahnya.
Distribusi Barang dan Tantangan Logistik
Dari sisi distribusi barang, BPS mencatat bahwa sebagian besar pasokan barang kebutuhan pokok di Tana Tidung masih didatangkan dari luar daerah seperti Malinau, Bulungan, hingga Sulawesi melalui jalur sungai dan darat. “Tantangannya memang di biaya logistik, namun dengan perbaikan infrastruktur jalan yang terus dilakukan pemerintah daerah, kita optimis distribusi barang akan semakin lancar dan harga di tingkat pedagang bisa lebih stabil,” tuturnya.
Iwan berharap, dengan data yang tersaji ini, para pelaku usaha dapat melihat peluang pasar yang masih terbuka lebar, terutama untuk pengembangan produk lokal yang bisa masuk ke rantai perdagangan regional. “Data ini bukan sekadar angka, tapi gambaran bahwa daya beli masyarakat kita masih terjaga. Kami di BPS akan terus memantau perkembangan ini agar pemerintah bisa mengambil kebijakan yang tepat untuk para pedagang kita,” pungkasnya.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











