Visi Indonesia Emas 2045 dan Peran Aceh
Satu abad setelah proklamasi kemerdekaan, bangsa Indonesia telah menancapkan visi besar: Indonesia Emas 2045. Visi ini bukan sekadar jargon, melainkan peta jalan yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045. Visi tersebut adalah “Negara Kesatuan Republik Indonesia yang Bersatu, Berdaulat, Maju, dan Berkelanjutan,” dengan target ambisius seperti peningkatan pendapatan per kapita sebesar 30.300 dolar AS dan penurunan tingkat kemiskinan menjadi hanya 0,5–0,8 persen.
Empat pilar utama pembangunan adalah pembangunan manusia serta penguasaan iptek, pembangunan ekonomi berkelanjutan, pemerataan pembangunan, serta pemantapan ketahanan nasional dan tata kelola. Dalam bingkai visi kebangsaan yang besar ini, Provinsi Aceh menyimpan potensi sekaligus tantangan yang unik.
Di satu sisi, data terkini menunjukkan pertumbuhan ekonomi Aceh masih di bawah rata-rata nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Aceh pada triwulan II 2025 tumbuh 4,82 persen, lebih rendah dari nasional 5,12 persen. Sementara itu, meskipun angka kemiskinan berkurang menjadi 704,69 ribu orang pada Maret 2025, Aceh masih menduduki peringkat pertama dalam persentase penduduk miskin di Sumatera, yaitu sebesar 12,33 persen.
Ironisnya, Aceh merupakan daerah dengan dana otonomi khusus yang sangat besar, diperkirakan telah menerima lebih dari Rp100 triliun sejak 2008 hingga 2025. Di sisi lain, Aceh menyimpan potensi luar biasa yang masih “tertidur.” Provinsi ini memiliki kekayaan alam, budaya, dan identitas keislaman yang menjadi fondasi kuat bagi pengembangan pariwisata yang berkarakter.
Mulai dari wisata religi seperti Masjid Raya Baiturrahman, wisata bahari di Sabang, hingga keindahan alam Danau Laut Tawar dan Taman Leuser, semuanya adalah aset yang belum tergarap optimal. Potensi inilah yang menjadi titik tolak untuk merefleksikan masa lalu Aceh yang gemilang, sebagai sumber inspirasi untuk meraih Indonesia Emas 2045.
Refleksi Kejayaan: Dari Samudera Pasai hingga Aceh Darussalam
Tidak banyak wilayah di Indonesia yang memiliki rekam jejak sejarah segemilang Aceh. Pada abad ke-13, Kerajaan Samudera Pasai berdiri sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara. Letaknya yang strategis di pesisir utara Sumatera, di jalur perdagangan internasional Selat Malaka, menjadikan Samudera Pasai sebagai pusat perdagangan dunia.
Pada puncak kejayaannya di bawah Sultan Malik al Tahir II (1326–1345), kerajaan ini mengekspor lada, sutra, kapur barus, dan emas dalam jumlah besar, serta mengeluarkan mata uang emas Dirham yang menjadi alat pembayaran resmi. Samudera Pasai bukan hanya pusat ekonomi, tetapi juga pusat penyebaran agama Islam dan ilmu pengetahuan.
Kemudian, tongkat estafet kejayaan diteruskan oleh Kesultanan Aceh Darussalam, yang mencapai puncaknya di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607–1636). Di era inilah Aceh menjelma menjadi salah satu kekuatan besar di Asia Tenggara. Dengan menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka dan menarik pedagang dari Timur Tengah, Asia Selatan, hingga Eropa, Banda Aceh berkembang menjadi pusat perdagangan maritim yang penting.
Komoditas lada yang saat itu disebut “emas hitam” menjadi andalan utama, permintaannya sangat tinggi di pasar Eropa. Namun, kejayaan Aceh tidak hanya diukur dari kemakmuran ekonominya. Di masa Sultan Iskandar Muda, Aceh menjelma menjadi pusat peradaban dan ilmu pengetahuan, yang hingga kini dikenal dengan julukan “Serambi Mekkah.”
Julukan ini lahir karena Aceh menjadi pusat kegiatan pendidikan keagamaan yang diikuti oleh berbagai bangsa dari berbagai pelosok, sebagaimana yang terjadi di Mekkah. Pada masa itu, pendidikan Islam mengalami zaman keemasan. Banyak pesantren (dayah) didirikan dan lahir ulama-ulama besar seperti Syekh Nuruddin ar-Raniri, Syekh Abdur Rauf as-Singkili, dan Syekh Hamzah Fansuri.
Posisi Aceh sebagai pusat pendidikan Islam di Nusantara menyebabkan lembaga pendidikannya dikunjungi oleh para pelajar dari dunia Melayu dan Jawa. Mereka datang untuk mendalami ilmu agama Islam. Tradisi intelektual inilah yang melahirkan jaringan ulama Nusantara dan menyebarkan Islam ke seluruh pelosok Indonesia.
Dayah, sebagai lembaga pendidikan tertua di Aceh, pada masa kerajaan menjadi rujukan utama, tempat bertanya para keluarga kerajaan, dan ikut aktif merancang serta menetapkan hukum. Dari sinilah, peradaban dan tata kelola yang efisien terbangun.
Rahasia Kejayaan Aceh di Masa Lalu
Apa rahasia kejayaan Aceh di masa lalu? Setidaknya ada tiga faktor utama yang dapat kita petik sebagai pelajaran. Pertama, posisi geografis yang strategis dan keberanian untuk menjadi poros maritim dunia. Kedua, tata kelola pemerintahan yang efisien dan penguasaan atas jalur perdagangan. Ketiga, pembangunan sumber daya manusia unggul melalui pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai lokal dan agama, yang pada gilirannya melahirkan inovasi dan diplomasi global. Tiga faktor inilah yang menjadi fondasi kejayaan Aceh di masa lalu.
Kesenjangan Masa Kini dan Pelajaran Berharga
Jika kita bandingkan dengan kondisi Aceh saat ini, tampaklah sebuah kesenjangan yang kontras. Meskipun Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Aceh meningkat dari 73,29 pada 2020 menjadi 76,23 pada 2025, kualitas pendidikan justru memprihatinkan. Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA 2025 menempatkan Aceh pada posisi ke-26 dari 38 provinsi, dengan nilai rata-rata gabungan hanya 35,93 jauh tertinggal dari DI Yogyakarta yang mencapai 46,33.
Capaian numerasi dan literasi bahasa asing yang rendah mencerminkan lemahnya penguasaan kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher-order thinking skills), yang merupakan fondasi utama untuk berinovasi dan beradaptasi dengan perubahan ekonomi global. Ini adalah “early warning” serius bagi masa depan Aceh.
Kesenjangan ini menunjukkan bahwa selama ini kita mungkin lebih fokus pada pembangunan fisik dan kuantitas, namun lalai dalam membangun kualitas sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing. Padahal, kunci untuk meraih Indonesia Emas 2045, seperti yang ditegaskan oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, adalah sumber daya manusia yang berkualitas.
Menuju Indonesia Emas: Aceh sebagai Garda Terdepan
Tahun 2045 adalah momentum emas bagi Indonesia. Pada tahun itu, bangsa ini akan menikmati puncak bonus demografi, di mana jumlah penduduk produktif mencapai 70 persen dari total populasi. Namun, bonus demografi ini hanya akan menjadi dividen kesejahteraan jika diiringi dengan peningkatan kualitas SDM yang masif. Di sinilah peran strategis Aceh. Sebagai wilayah yang pernah menjadi pusat peradaban dunia, Aceh harus kembali bangkit menjadi garda terdepan.
Untuk itu, ada tiga langkah konkret yang harus dilakukan Aceh dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.
Pertama, merevitalisasi pendidikan berbasis akhlak dan iptek. Sistem pendidikan Aceh perlu dikembalikan pada akar kejayaannya, yaitu integrasi antara nilai-nilai Islami dan penguasaan ilmu pengetahuan modern. Dayah sebagai lembaga pendidikan tradisional harus bertransformasi dengan mengintegrasikan kurikulum nasional tanpa kehilangan identitas keislamannya. Konsep integrasi kurikulum dayah tradisional dalam menghadapi modernisasi pendidikan harus menjadi gerakan kolektif, di mana dayah tidak hanya mengajarkan kitab kuning (turats), tetapi juga membekali santri dengan keterampilan digital, kewirausahaan, dan bahasa asing.
Kedua, membangkitkan ekonomi kreatif berbasis warisan budaya. Sejarah kejayaan rempah Aceh harus menjadi inspirasi untuk membangun ekonomi modern. Jalur rempah tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi potensi ekonomi masa depan. Aceh saat ini sedang menggalakkan program hilirisasi rempah, seperti pengolahan bumbu kering menggunakan teknologi oven drying blower yang memangkas waktu pengeringan dari tiga hari menjadi 6–8 jam, serta program “Banda Aceh Kota Parfum Indonesia” yang mengolah nilam menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Ketiga, memperkuat tata kelola yang efisien dan bersih. Kejayaan Aceh di masa lalu tidak lepas dari tata kelola pemerintahan yang efisien dan diplomasi yang cerdas. Saat ini, Aceh perlu membenahi tata kelola keuangan daerah, memastikan dana otonomi khusus yang sangat besar benar-benar tepat sasaran untuk pembangunan manusia, bukan hanya untuk proyek-proyek fisik. Pemerataan pembangunan antara desa dan kota, serta antara wilayah pesisir dan pedalaman, harus menjadi prioritas.
Refleksi untuk Masa Depan
Mewujudkan Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai secara instan, melainkan melalui kesabaran, kerja keras, dan ketulusan yang ditanamkan sejak hari ini. Bagi Aceh, ini adalah panggilan sejarah. Kita tidak bisa terus hidup dari kejayaan masa lalu sambil membiarkan generasi muda kita tertinggal dalam kualitas pendidikan. Kita tidak bisa terus menikmati dana otonomi khusus yang melimpah sementara tingkat kemiskinan masih yang tertinggi di Sumatera.
Sudah saatnya Aceh bangkit, tidak hanya sebagai “Serambi Mekkah” dalam ritual keagamaan, tetapi sebagai “Serambi Peradaban” yang melahirkan generasi emas yang berakhlak, cendekia, dan berdaya saing global. Dengan merevitalisasi pendidikan, membangkitkan ekonomi kreatif, dan memperkuat tata kelola, Aceh dapat kembali menjadi mercusuar peradaban di Nusantara.
Mari kita jadikan refleksi kejayaan Aceh di masa lalu sebagai bahan bakar untuk melesat menuju Indonesia Emas 2045. Karena pada akhirnya, Indonesia Emas tidak akan pernah tercapai jika Aceh, sebagai bagian integral dari bangsa, masih terpuruk dalam kualitas SDM dan kesejahteraan.
Mewujudkan Indonesia Emas dimulai dari mewujudkan Aceh yang Emas: Aceh yang maju, sejahtera, berdaulat pangan dan energi, serta tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam yang berkemajuan.











