Presiden Prabowo Subianto memiliki rencana untuk mengonversi seluruh kendaraan yang menggunakan bahan bakar bensin menjadi kendaraan listrik. Ide ini disebut sebagai “game changer” oleh Presiden. Namun, menurut para ahli, ada beberapa tantangan yang harus diatasi agar gagasan ini bisa diwujudkan. Dalam diskusi bersama sejumlah tokoh media nasional, Presiden Prabowo menyampaikan dua tujuan utama dalam konversi kendaraan listrik. Pertama, ia ingin seluruh kendaraan di Indonesia berbasis listrik. Kedua, ia berharap sumber energi listrik tersebut berasal dari sumber terbarukan seperti tenaga surya.
Dalam wawancara yang diunggah di akun YouTube-nya dengan judul ‘Presiden Prabowo Menjawab!!!’ , Presiden Prabowo menyatakan bahwa dalam dua tahun ke depan, Indonesia harus memiliki pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas 100 GW (Gigawatt). Haliman, seorang pengemudi ojek daring di Jakarta, mengaku bahwa penggunaan motor listrik memberinya penghematan besar. Ia kini hanya menghabiskan Rp8.000 per hari untuk mengisi daya motor listriknya, dibandingkan Rp60.000 yang dikeluarkan sebelumnya untuk bensin. Namun, ia juga harus membayar cicilan motor listriknya selama 1,5 tahun, yaitu sebesar Rp55.000 per hari.
Motor listrik Haliman adalah salah satu dari 236.000 unit motor listrik di Indonesia. Jumlah ini jauh lebih sedikit dibandingkan 139.450.013 sepeda motor berbahan bakar fosil yang ada di Indonesia, menurut data Badan Pusat Statistik Nasional (BPS). Mobil listrik jumlahnya sekitar 123.000 unit, jauh lebih sedikit dibanding mobil berbahan bakar fosil sebanyak 20.444.507 unit. Untuk mempercepat pertumbuhan kendaraan listrik, beberapa kendala harus diatasi.
Kendala Utama dalam Pengembangan Kendaraan Listrik
- Ekosistem Kendaraan Listrik
Menurut Ferry Triansyah, Koordinator Pelayanan Usaha Ketenagalistrikan, Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) hingga Oktober 2025 baru mencapai rasio 1:26. Artinya, satu SPKLU melayani 26 kendaraan listrik. Idealnya, rasio itu seharusnya 1:17. PLN telah mengoperasikan 4.272 mesin SPKLU di 2.811 lokasi, dan menyediakan lebih dari 57.000 layanan pengisian daya listrik di rumah di seluruh Indonesia. Proyeksi SPKLU hingga 2030 mencapai 62.918 unit, terutama di Pulau Jawa.
Peningkatan proyeksi SPKLU akan diiringi dengan konversi sekitar 120 juta sepeda motor berbahan bakar fosil menjadi kendaraan listrik. Menurut Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, konversi ini sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu, dengan sekitar 200 ribu sepeda motor dikonversi setiap tahunnya. Namun, Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), mengingatkan bahwa ekosistem kendaraan listrik tidak hanya sebatas kendaraan dan SPKLU saja. Masalah suku cadang dan pengelolaan baterai juga perlu diperhatikan.
- Sumber Tenaga Kendaraan Listrik
Meski Presiden Prabowo ingin sumber listrik berasal dari energi terbarukan, saat ini sebagian besar listrik masih berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Dalam Statistik Ketenagalistrikan 2024, PLTU masih mendominasi pasokan listrik dengan 66,43%, disusul gas (17,65%) dan minyak (3,93%). Sementara itu, energi terbarukan seperti tenaga surya hanya menyumbang 0,26%.
Selain itu, pengolahan limbah baterai kendaraan listrik belum tersedia secara maksimal. Deputi Bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon Kementerian Lingkungan Hidup, Ary Sudjianto, mengatakan bahwa Indonesia belum memiliki fasilitas maupun industri yang mendukung pengolahan baterai kendaraan listrik. Dengan proyeksi 15 juta kendaraan listrik pada 2030, masalah ini bisa menjadi isu lingkungan yang serius.
Solusi Alternatif yang Bisa Dipertimbangkan
Menurut Bhima Yudhistira, solusi terbaik untuk menurunkan konsumsi BBM dan emisi karbon adalah dengan meningkatkan penggunaan transportasi publik. Ia menyarankan subsidi transportasi publik dan infrastrukturnya sebagai solusi jangka panjang. WALHI juga menyebut bahwa sektor transportasi mengonsumsi 52% total BBM nasional, 93% dari itu digunakan kendaraan pribadi. Ini menunjukkan kebutuhan pembangunan ekosistem transportasi publik yang lebih baik.
Namun, menurut Uli Arta Siagian, Koordinator Pengkampanye Eksekutif Nasional WALHI, pemerintah belum menjadikan transportasi publik sebagai solusi utama. Gagasan Prabowo tentang konversi kendaraan listrik dinilai sebagai solusi parsial atau “solusi yang nanggung”. Tanpa perbaikan ekosistem antara kendaraan pribadi dan transportasi publik, Indonesia tetap bergantung pada komoditas energi tertentu, seperti batu bara.





Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











