Peran Pakistan sebagai Penengah Konflik AS-Iran
Pakistan disebut memiliki potensi besar untuk menjadi mediator dalam konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Hal ini didasarkan pada hubungan baik yang dimiliki negara tersebut dengan kedua pihak, serta komunikasi stabil yang terjalin antara mereka. Selain itu, pengalaman Pakistan dalam mediasi konflik juga menjadi faktor penunjang posisi negara ini sebagai penengah.
Meski peluang terbuka, hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi mengenai kemungkinan peran Pakistan dalam upaya perdamaian. Sementara itu, AS dan Iran masih berselisih terkait klaim adanya negosiasi. Dalam situasi seperti ini, Pakistan dinilai dapat memainkan peran penting di panggung internasional jika berhasil menengahi gencatan senjata antara AS dan Iran.
Pada Senin (23/3/2026), Presiden AS Donald Trump mengklaim telah mengadakan pembicaraan dengan seorang pejabat Iran, yang diduga adalah Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf. Pembicaraan tersebut disebut menghasilkan jeda lima hari dalam serangan terhadap infrastruktur listrik di Iran, sehingga meningkatkan prospek kesepakatan perdamaian jangka panjang. Namun, Iran dan Qalibaf membantah bahwa dialog tersebut terjadi. Mereka menyebutnya sebagai “berita palsu” dan menilai itu sebagai cara bagi Trump untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak guna keluar dari situasi sulit yang dihadapi AS dan Israel.
Di tengah laporan yang saling bertentangan dan ketidakpastian mengenai kemungkinan dialog antara Iran dan AS, Pakistan dinilai dapat turun tangan sebagai mediator antara kedua pihak. Pakistan, sebagai negara bersenjata nuklir, secara historis memiliki hubungan yang baik namun kompleks dengan AS dan Iran. Jika mengambil peran tersebut, Pakistan kemungkinan akan berupaya menemukan jalan tengah yang adil bagi kedua negara.
Hubungan Pakistan-Iran dan Pakistan-AS
Iran merupakan negara pertama yang mengakui Pakistan saat negara itu merdeka pada 14 Agustus 1947, setelah dipisahkan dari India menyusul ratusan tahun pemerintahan kolonial Inggris. Kedua negara memiliki ikatan linguistik, budaya, dan sejarah yang kuat, serta telah mempertahankan hubungan yang relatif ramah selama beberapa dekade, meskipun sesekali menghadapi ketegangan.
Kerja sama keduanya sebagian besar berfokus pada isu keamanan kawasan, khususnya terkait Afghanistan, perdagangan narkoba, dan pemberontakan di wilayah Balochistan. Di sisi lain, hubungan AS dengan Pakistan lebih kompleks, dipengaruhi oleh isu terorisme dan dugaan loyalitas ganda dalam dinas intelijen. Meski demikian, hubungan militer kedua negara tetap kuat.
Pakistan juga berupaya mendekatkan diri dengan Trump, termasuk dengan mencalonkannya untuk Hadiah Nobel Perdamaian atas perannya dalam menengahi gencatan senjata antara Pakistan dan India pada 2025. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga menerima undangan Trump untuk bergabung dalam “Dewan Perdamaian”, meskipun sejumlah negara mayoritas Muslim lainnya menolak berpartisipasi dalam rencana kontroversial terkait Gaza.
Mengapa Pakistan?
Komunikasi yang stabil antara Pakistan dan Iran, serta hubungan hangat antara kepala militer Pakistan Asim Munir dan Trump, menjadi alasan utama mengapa Pakistan dinilai layak menjadi mediator. Sebelumnya, Gedung Putih mengonfirmasi bahwa kepemimpinan militer Pakistan telah menawarkan diri untuk menengahi negosiasi antara AS dan Iran melalui percakapan telepon dengan Trump.
Tahun lalu, Trump menyebut Munir sebagai “pejuang hebat”, “orang yang sangat penting”, dan “manusia luar biasa”. Trump juga menyatakan merasa terhormat dapat bertemu Munir dalam kunjungan kenegaraan, yang menjadi pertama kalinya Gedung Putih menjamu kepala militer Pakistan, bukan kepala negara. Dalam pertemuan tersebut, Trump secara terbuka menyebut Pakistan memahami Iran dengan sangat baik, bahkan lebih baik dibandingkan banyak negara lain.
Trump tercatat telah memuji Munir belasan kali sepanjang 2025, termasuk dalam konteks mediasi konflik dengan India dan KTT Sharm El-Sheikh pada Oktober. Sementara itu, PM Sharif melakukan panggilan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Senin, dan berjanji membantu mewujudkan perdamaian di kawasan serta menegaskan komitmen Pakistan untuk mengakhiri konflik.
Potensi Gencatan Senjata
Iran telah menguraikan sejumlah syarat untuk menyetujui gencatan senjata. Media pemerintah Press TV menyebut syarat tersebut meliputi:
* jaminan tidak adanya aksi militer di masa depan,
* penutupan seluruh pangkalan militer AS di kawasan Teluk,
* pembayaran ganti rugi oleh AS dan Israel,
* penghentian konflik regional yang melibatkan sekutu Iran, serta
* pembentukan kerangka hukum baru terkait Selat Hormuz.
Sementara itu, AS belum memberikan pernyataan rinci dan menegaskan bahwa isu ini bersifat sangat sensitif secara diplomatik.
Pernyataan Militer Iran
Seorang juru bicara militer Iran mengecam klaim Presiden AS Donald Trump terkait perundingan gencatan senjata, dengan menyebut bahwa AS “bernegosiasi dengan dirinya sendiri”. “Apakah pergulatan batin Anda telah mencapai tahap di mana Anda bernegosiasi dengan diri sendiri?” kata Ebrahim Zolfaqari, juru bicara komando gabungan angkatan bersenjata Iran, Rabu (25/3/2026), mengutip Deccan Herald.
Zolfaqari menambahkan bahwa kondisi investasi dan harga energi tidak akan kembali seperti sebelum perang selama AS belum mengakui bahwa stabilitas kawasan dijamin oleh militer Iran. Pernyataan serupa juga disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei. “Kami telah menegaskan bahwa tidak ada pembicaraan atau negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat,” ujarnya kepada India Today.
Ia menambahkan bahwa Iran memiliki pengalaman buruk dengan diplomasi AS, termasuk serangan yang terjadi saat proses negosiasi nuklir berlangsung. Baghaei juga menyebut klaim AS terkait diplomasi dan mediasi tidak kredibel, karena AS dan Israel masih terus melancarkan serangan terhadap Iran.
Terkait peran Pakistan, Baghaei menyatakan Iran melihat adanya “niat baik” dari Islamabad. Ia juga mengungkapkan bahwa Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah menjalin komunikasi dengan mitranya di Pakistan dan negara lain. “Negara-negara kawasan memahami risiko konflik ini dan berupaya membantu meredakan situasi,” ujarnya.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”











