.CO.ID – JAKARTA.
Pengumuman kebijakan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) mulai 1 Januari 2026, telah memicu persiapan dari sejumlah bank swasta dalam menghadapi dampaknya terhadap likuiditas valuta asing (valas). Kebijakan ini merupakan hasil revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 8 Tahun 2025 tentang DHE SDA, yang menetapkan kewajiban bagi eksportir untuk menempatkan DHE mereka di bank milik negara (Himbara). Meskipun penerbitan resmi kebijakan tersebut belum diberikan oleh pemerintah, bank-bank swasta tetap berupaya mengantisipasi perubahan ini.
Salah satu contohnya adalah Bank Danamon. Transaction Banking Head Bank Danamon Indonesia, Edy Supriyanto, menyatakan bahwa pihaknya memahami kebijakan penempatan DHE SDA secara penuh di Himbara. Namun, ia juga menegaskan bahwa bank terus menawarkan solusi finansial bersama MUFG sebagai parent company, guna mendukung pembiayaan perdagangan dan transaksi mata uang asing bagi nasabah pelaku usaha.
Edy mengungkapkan bahwa meskipun kebijakan tersebut dapat menyebabkan penurunan penempatan DHE, Bank Danamon tetap fokus meningkatkan penghimpunan simpanan dalam bentuk valas. Ia menyebutkan bahwa tren simpanan valas bank masih positif, dengan pertumbuhan sebesar 13% secara tahunan hingga akhir tahun lalu. Selain itu, struktur pendanaan valas Bank Danamon dinilai tetap kuat, sejalan dengan likuiditas valas yang cukup aman. Bank memproyeksikan kemampuan pendanaan valas mampu menopang pertumbuhan kredit valas sesuai target regulator, sambil menjaga likuiditas yang stabil.
Di sisi lain, Direktur Utama Permata Bank, Meliza Rusli, menyatakan bahwa pihaknya sedang memantau perkembangan kebijakan regulasi terkait pengelolaan DHE SDA. Ia menegaskan bahwa bank akan mendukung inisiatif pemerintah dalam memperkuat ekosistem keuangan nasional, sambil tetap menyiapkan strategi untuk menjaga likuiditas valas. “Kami akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” kata Meliza.
Risiko Peningkatan Suku Bunga
Menurut Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance, M. Rizal Taufikurahman, kebijakan penempatan DHE SDA penuh di Himbara secara struktural akan menggeser likuiditas valas dari bank swasta. Dalam jangka pendek, kebijakan ini dapat menekan buffer likuiditas valas bank swasta, terutama bagi bank yang sebelumnya sangat bergantung pada DHE sebagai sumber dana murah.
Namun, Rizal menilai bahwa kebijakan ini tidak langsung menciptakan keketatan likuiditas secara sistemik. Pasalnya, bank masih memiliki akses ke berbagai sumber pendanaan alternatif seperti pinjaman luar negeri, pasar antarbank, maupun instrumen swap. “Dampaknya lebih ke redistribusi likuiditas, bukan kekeringan total. Tapi ini tetap menciptakan fragmentation risk di pasar valas domestik,” jelas Rizal.
Lebih lanjut, ia menyoroti implikasi signifikan dari kebijakan ini, yaitu kenaikan biaya dana (cost of fund) valas di bank swasta. Hilangnya aliran DHE memaksa bank mencari sumber pendanaan alternatif yang cenderung lebih mahal dan volatil. Hal ini berpotensi memperlebar spread suku bunga valas antar bank, khususnya antara bank BUMN dan bank swasta.
Bank Swasta Lebih Selektif Menyalurkan Kredit
Rizal memperkirakan bahwa penyaluran kredit valas oleh bank swasta bisa menjadi lebih selektif. Ini bukan karena likuiditas ketat, melainkan karena biaya dan risiko likuiditas yang meningkat. Bank akan cenderung memprioritaskan debitur dengan natural hedge dan profil risiko yang lebih rendah. Di sisi lain, korporasi mungkin mengalihkan pembiayaan ke bank BUMN atau bahkan ke sumber pendanaan luar negeri.
“Yang terjadi adalah market shifting, bukan peningkatan total pembiayaan,” ujarnya. Secara agregat, Rizal melihat likuiditas valas di sistem perbankan Indonesia masih relatif longgar. Namun, pada level individu, khususnya bank swasta, terjadi pengetatan relatif.
Ia menekankan bahwa isu utama dari kebijakan ini bukan kekurangan likuiditas secara sistemik, melainkan ketimpangan distribusi likuiditas yang berpotensi menurunkan efisiensi pasar dan memperlemah transmisi kredit. “Di satu sisi kebijakan ini memperkuat kontrol negara atas devisa. Tapi di sisi lain, ada trade-off berupa distorsi likuiditas dan kompetisi antar bank,” pungkasnya.
Rizal mengingatkan bahwa tanpa diimbangi mekanisme pasar yang lebih fleksibel, kebijakan ini berisiko menekan intermediasi valas oleh bank swasta dalam jangka menengah.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”











