Pemimpin AS Berupaya Buka Jalur Diplomasi dengan Iran
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan bahwa pemerintahannya sedang menjalankan komunikasi dengan Teheran dalam upaya mencari solusi untuk mengakhiri konflik yang berlangsung. Pernyataan ini disampaikan pada Senin (23/3) dan diikuti oleh penundaan rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari. Tujuannya adalah memberi ruang bagi diplomasi.
Trump menyebut bahwa Washington sedang berbicara dengan seorang tokoh tinggi di Iran. Ia menegaskan bahwa jika pembicaraan tersebut gagal dalam lima hari ke depan, AS akan melanjutkan operasi militer.
Menurut laporan media AS, utusan Washington seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner kemungkinan akan bertemu delegasi Iran dalam pembicaraan yang bisa berlangsung di Pakistan. Meskipun Gedung Putih tidak secara langsung membantah laporan tersebut, juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan bahwa spekulasi tentang pertemuan tersebut belum dapat dianggap pasti.
“Spekulasi tentang pertemuan tidak boleh dianggap final sampai secara resmi diumumkan oleh Gedung Putih,” katanya.
Iran Tidak Akui Adanya Pembicaraan
Iran segera menolak klaim Washington mengenai adanya negosiasi. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan bahwa tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung antara kedua negara. Ia menuduh Trump berusaha memanipulasi pasar minyak dan keuangan global melalui pernyataannya.
Seorang anggota parlemen Iran, Esmail Kowsari, juga memperingatkan agar pemerintah Iran tidak mempercayai klaim Washington. “Trump, Netanyahu dan yang lainnya pada dasarnya adalah pembohong. Sifat mereka adalah menciptakan perpecahan,” kata Kowsari.
Di tengah ketegangan diplomatik tersebut, Iran meluncurkan gelombang baru rudal ke Israel pada Selasa (24/3). Serangan itu menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan di Tel Aviv dan melukai beberapa orang.
Wali kota Tel Aviv, Ron Huldai, mengatakan sebuah bangunan di kota itu terkena serangan langsung. “Ini adalah serangan langsung yang merusak sebuah bangunan di lingkungan permukiman,” kata Huldai kepada wartawan.
Polisi Israel menduga kerusakan tersebut disebabkan oleh rudal jenis cluster munition dengan beberapa hulu ledak, masing-masing membawa sekitar 100 kilogram bahan peledak.
Qatar Dukung Diplomasi, Namun Belum Jadi Mediator
Qatar menyatakan dukungan terhadap semua upaya diplomatik untuk mengakhiri perang Iran, namun menegaskan bahwa saat ini mereka belum terlibat langsung sebagai mediator antara Washington dan Teheran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, mengatakan negaranya mendukung berbagai jalur komunikasi yang dapat membuka jalan menuju penyelesaian konflik. “Kami mendukung semua upaya diplomatik dalam kerangka ini, baik melalui jalur resmi maupun tidak resmi,” kata al-Ansari pada Selasa (24/3), seperti dilaporkan AFP.
Namun ia menegaskan bahwa Doha saat ini tidak menjalankan peran mediasi langsung dalam proses tersebut. “Saya ingin menekankan bahwa saat ini tidak ada upaya langsung dari Qatar untuk memediasi antara kedua pihak,” ujarnya.
Kekhawatiran Krisis Energi Global
Perang ini juga mulai mengguncang pasar energi global. Iran sebelumnya membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Badan Energi Internasional memperingatkan bahwa jika konflik berkepanjangan, gangguan pasokan minyak dapat memicu krisis energi global. Kepala Badan Energi Internasional, Fatih Birol, mengatakan bahwa kehilangan pasokan minyak akibat konflik ini berpotensi memicu krisis yang lebih besar.
“Jika perang ini berkepanjangan, kehilangan pasokan minyak harian dapat membuka jalan menuju krisis yang bahkan lebih besar daripada gabungan dampak krisis minyak tahun 1970-an dan perang Rusia di Ukraina,” kata Birol.
Sementara itu sejumlah negara di kawasan mencoba mendorong jalur diplomasi. Qatar mengatakan pihaknya mendukung semua upaya diplomatik untuk mengakhiri perang. “Kami mendukung semua upaya diplomatik dalam kerangka ini, baik melalui jalur resmi maupun tidak resmi,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed al-Ansari.











