Kehidupan Nur di Terminal Cicaheum, Seorang Pedagang yang Bertahan Meski Tidak Mudik
Di tengah ramainya arus mudik Lebaran 2026 di Terminal Cicaheum, Nur (61), seorang pedagang asal Padang, memilih untuk tetap berada di tempatnya. Ini adalah tahun ke-11 baginya tidak pulang kampung. Di saat banyak orang sibuk menyiapkan perjalanan pulang, Nur justru duduk di balik lapak kecilnya, menjual nasi Padang dan minuman dingin.
Perubahan yang Terasa Jelas
Meskipun jumlah penumpang meningkat, Nur merasakan penurunan daya beli yang drastis dibanding masa kejayaannya 30 tahun lalu. Ia mengatakan bahwa sekarang pembeli tidak lagi datang seperti dulu. “Sekarang masih sepi,” ujarnya. Ia menyebutkan bahwa kondisi ekonomi menjadi penyebab utamanya. “Susah duit. Sekarang mah ya, duitnya susah.”
Selama 30 tahun berdagang di Terminal Cicaheum, Nur sudah melihat banyak perubahan. Dari masa ketika angkot memenuhi jalur dan pembeli datang tanpa henti, hingga sekarang ketika dagangannya sering tak tersentuh. “Dulu mah ramai. Zaman dulu, zaman Suharto,” katanya. Saat itu, beras yang ia jual bisa mencapai puluhan karung dalam seminggu. “20 karung seminggu,” ujarnya. Kini, dua kilogram pun belum tentu habis dalam sehari.
Tantangan Ekonomi dan Pencurian
Nur mencoba peruntungan dengan menjual sop buah dan kolak. Salah satu kudapan yang paling banyak dicari untuk takjil. “Cuman dua hari enggak jualan lagi, dibuang, Dek. Enggak ada yang beli,” tuturnya. Situasi ini membuatnya tak punya banyak pilihan. Ia tetap berjualan setiap hari, meski sering harus membuang makanan yang tak laku.
Tidak hanya tantangan ekonomi, Nur juga menghadapi musibah pencurian alat dagang. Tempat tinggalnya pernah dibongkar dan barang-barangnya raib diambil orang. Peralatan dapur, tabung gas, hingga mesin serut es semuanya hilang. “Gas tiga kilo, panci catering diambil,” tuturnya. Ia bahkan masih ingat detail barang-barang itu, seolah belum rela melepasnya.
Rencana Pengalihan Terminal
Rencana pengalihan Terminal Cicaheum menjadi Bus Rapid Transit (BRT) di Kota Bandung membuatnya bingung memikirkan nasib ke depan. Ia tak tahu harus pindah ke mana, apalagi dalam kondisi keuangan yang serba terbatas. Penghasilannya habis untuk modal harian. “Sekarang nyimpen uang Rp 100 ribu saja susah. Boro-boro beli baju, atau buat pindah lapak,” ujarnya.
Lebaran, yang bagi banyak orang identik dengan pulang dan berkumpul, bagi Nur hanyalah hari biasa. Ia tetap di lapaknya, sendirian, jauh dari anak-anaknya di Padang. “Anak jauh di Sumatera,” katanya. Sejak ditinggal sang suami, Nur berjuang seorang diri di Kota Kembang. Hampir seluruh waktunya dihabiskan di Terminal Cicaheum.
Kondisi ini membuat rumahnya yang tak jauh dari sana sering kosong, tak ada orang. Tak ada yang bisa ia lakukan selain mengikhlaskan. Dia pun tak ingin berdiam diri dengan keadaan. Nur kini lebih sering tidur di lapaknya.
Harapan dan Keberlanjutan
Nur tetap berjualan warung nasi padang, khas makanan dari daerah tempat tinggalnya. “Sekarang jualan nasi padang, ada mie juga. Warung kecil-kecilan, penumpang sebelum berangkat atau datang bisa ke sini. Jualan minuman dingin juga,” pungkasnya.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”











