
Pengertian Ayam GPS dan Peran dalam Rantai Pembibitan
Grand Parent Stock (GPS), atau yang dikenal sebagai bibit nenek ayam, merupakan komponen teratas dalam rantai pembibitan ayam komersial. Menurut Kepala Pusat Riset Peternakan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Santoso, GPS adalah hasil seleksi dan persilangan dari perusahaan pembibit global seperti Aviagen, Lohmann, dan Cobb. Dari GPS ini kemudian dihasilkan Parent Stock (PS), yang selanjutnya memproduksi ayam komersial baik untuk kebutuhan pedaging (broiler) maupun petelur (layer).
Struktur pembibitan GPS terdiri dari minimal empat lini, yaitu Line A (male line untuk pejantan PS jantan), Line B (female line untuk pejantan PS jantan), Line C (male line untuk PS betina), dan Line D (female line untuk PS betina). Komposisi impor biasanya tergantung pada kebutuhan line D sebagai basis. Misalnya, jika mengimpor 1.000 line D, maka line A, B, dan C akan mengikuti dalam persentase tertentu.
Keberlanjutan Impor GPS dan Tantangan Pengembangan Lokal
Santoso menjelaskan bahwa Indonesia belum mampu mengembangkan GPS secara mandiri karena GPS merupakan hasil kekayaan intelektual (KI) perusahaan prinsipal di luar negeri. Hal ini membuat Indonesia harus mengimpor setiap tahun sesuai kuota. Saat ini, GPS yang paling banyak digunakan di Indonesia berasal dari Aviagen AS, dengan juga adanya bantuan dari Lohmann dan Cobb, meskipun porsinya lebih terbatas.
Selain faktor hak kekayaan intelektual, sistem kontrol genetik juga sangat ketat. Pada line female hanya boleh berisi betina, sedangkan line male hanya berisi jantan. Jika ditemukan jenis kelamin berbeda dalam satu line, maka harus dieliminasi. Skema persilangan untuk menghasilkan PS pun sudah diatur secara baku oleh perusahaan principle.
Keunggulan GPS Impor dan Tantangan Pengembangan GPS Lokal
Perusahaan-perusahaan global telah melakukan uji performa selama puluhan hingga lebih dari 100 tahun. Contohnya, Lohmann telah melakukan pengujian lebih dari satu abad, Cobb lebih dari 100 tahun, dan Tetra sekitar 75 tahun. Sebaliknya, Indonesia baru sekitar 15 tahun mengembangkan galur ayam unggul lokal, seperti Ayam KUB-1 (2014), Ayam Sensi (2017), Ayam Sembawa (2018), IPB-D1 (2019), KUB Janaka (2021), Gaosi (2021), dan KUB Narayana (2023).
Meski demikian, keragaman genetik ayam lokal Indonesia menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan GPS. Variasi warna bulu dan karakteristik fisik menyulitkan penerapan metode identifikasi jenis kelamin cepat seperti feather sexing dan color sexing yang umum digunakan pada ayam ras. Santoso menegaskan bahwa peneliti Indonesia tengah berproses mengarah ke pengembangan GPS berbasis unggas lokal, namun upaya tersebut membutuhkan waktu panjang dan investasi riset yang berkelanjutan.
Persoalan Kuota Impor dan Potensi Oversupply
Dalam hal penetapan kuota impor GPS, Santoso menyatakan bahwa ini merupakan domain dari Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian berdasarkan analisis tim teknis yang mengevaluasi keseimbangan supply dan demand.
Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Pardjuni, mengkhawatirkan potensi oversupply ayam pada 2028 jika importasi sebanyak 580 ribu ekor dilakukan tahun ini. Setiap satu ekor GPS bisa menghasilkan 150 hingga 155 Day Old Chick (DOC) Final Stock (FS). Realisasi importasi GPS tahun lalu sebanyak 578 ribu ekor membuat Indonesia berpotensi memproduksi lebih dari 80 juta DOC per minggu pada 2027, padahal kebutuhan hanya sekitar 65 juta per minggu.
Pardjuni juga mengkhawatirkan harga GPS yang dianggap murah, yaitu Rp 500 ribu per ekor dari AS, karena biasanya GPS dihargai USD 60-70 per ekor atau sekitar Rp 1 juta sampai Rp 1,17 juta. Ia khawatir hal ini akan memicu impor berlebihan.
Estimasi Nilai Impor dan Harga GPS
Dalam dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART), estimasi nilai importasi 580 ribu ekor induk ayam tersebut adalah sekitar USD 17 juta sampai USD 20 juta atau sekitar Rp 286 miliar sampai Rp 336,48 miliar. Dengan harga Rp 286 miliar untuk pembelian 580 ribu induk ayam, maka Indonesia membeli induk ayam dari AS dengan harga Rp 493 ribu per ekor atau hampir Rp 500 ribu per ekor.











