My WordPress Blog
Opini  

Mencapai Taubat yang Diterima

Jenis-Jenis Taubat dalam Perspektif Ulama Spiritual

Dalam pandangan para ulama spiritual, taubat memiliki berbagai tingkatan. Tentu kita berharap dapat melakukan taubat yang lebih tinggi dari taubat dasar, yaitu taubat yang sering dilakukan oleh orang-orang awam.

Taubat yang dilakukan oleh orang awam biasanya terjadi setelah mereka melakukan dosa besar. Namun, taubat akan semakin tinggi jika seseorang juga bertaubat atas dosa-dosa kecil. Hal ini disebabkan karena kesadaran bahwa dosa-dosa kecil yang menumpuk bisa menjadi dosa besar.

Bulan suci Ramadan, yang dikenal sebagai bulan pertobatan (syahr al-taubah), sebaiknya dimanfaatkan untuk melakukan pertobatan. Jika mungkin, kita bisa menjalani taubat yang lebih tinggi.

Syekh Ibn ‘Athaillah membedakan dua jenis taubat, yaitu taubat inabah dan taubat istijabah. Taubat inabah adalah bentuk taubat seorang hamba yang didorong oleh rasa takut terhadap dosa dan maksiat yang telah dilakukannya. Dalam kondisi seperti ini, ia selalu membayangkan kerugian besar di dunia dan siksa serta malapetaka Tuhan yang sangat pedih di neraka.

Dosa dan maksiat yang pernah ia lakukan membuatnya betul-betul takut kepada Allah SWT. Dalam suasana takut tersebut, ia menyerahkan diri, bertaubat, dan memohon pengampunan kepada Allah. Ia selalu membayangkan api neraka yang akan menyiksa dirinya seandainya Allah tidak memaafkannya.

Siang dan malam, ia terus melakukan ketaatan dengan harapan amal kebajikan bisa mengikis habis segala dosa-dosanya. Sebagaimana firman Allah: Inna al-hasanat yudzhibna al-sayyi’at (sesungguhnya amal kebajikan menghapuskan segala dosa). Sebesar apapun dosa seseorang, pengampunan dosa jauh lebih besar.

Adapun taubat istijabah merupakan bentuk taubat seorang hamba yang malu terhadap kemuliaan-Nya. Dalam tahap ini, taubat tidak lagi membayangkan Allah SWT sebagai Maha Pembalas terhadap segala dosa dan maksiat seperti pada tahap taubat inabah.

Taubat istijabah terjadi ketika seseorang lebih merasa tersiksa rasa malu terhadap Tuhannya daripada panasnya api neraka-Nya. Yang membuatnya tersiksa adalah betapa pedihnya jika terbebani rasa malu yang dalam terhadap Allah SWT. Ia mestinya bersyukur dan mengabdi kepada Allah SWT dengan berbagai kenikmatan yang diperoleh dari-Nya, tetapi justru melakukan dosa dan maksiyat.

Inilah yang membuatnya tersiksa, kecewa, lalu menyesali dirinya tega melakukan sesuatu yang memalukan terhadap Tuhannya. Ketersiksaannya lebih berat daripada ia masuk ke dalam neraka. Seandainya disuruh memilih antara disiksa secara fisik di neraka atau terbebani rasa malu terhadap Tuhannya, maka ia akan memilih disiksa di neraka ketimbang bahagia sesaat di dunia.

Pertanyaan untuk Diri Sendiri

Pertanyaan kita adalah, jenis taubat apa yang kita miliki? Apakah kita sudah melakukan penyesalan terhadap dosa dan maksiat yang telah kita lakukan? Apakah kita tergolong yang selalu membayangkan panasnya api neraka setelah melakukan dosa dan maksiat? Apakah sudah terbetik rasa malu kepada Allah SWT setelah kita melakukan dosa?

Apakah telah muncul penyesalan mendalam dan bertekad untuk memutuskan segenap dosa-dosa dan maksiat langganan kita, karena takut atau malu kepada Allah SWT? Apakah kita telah mengganti langganan dosa dan maksiat itu dengan amal kebajikan? Atau kita sama sekali belum melakukan perubahan di dalam diri kita, dosa dan maksiat masih berjalan terus tanpa ada rasa penyesalan sedikit pun, na’udzu billah.

Tak terkecuali siapa pun di antara kita sepantasnya mengintip umur kita. Tanda-tanda ketuaan apa yang kita sudah miliki, semisal uban sudah bercampur di tengah rambut hitam kita, rasa ngilu di tulang persendian sebagai akibat gejala penuaan, pembatasan-pembatasan apa yang diminta dokter pribadi kita, semisal membatasi makanan dan pergerakan fisik.

Lihatlah anak-anak kita yang sudah mulai besar dan membutuhkan figure keteladanan orang tua, atau mungkin kita sudah punya cucu yang selalu mengidolakan kita? Tataplah diri kita tanpa topeng kepalsuan. Apakah diri kita pantas diidolakan atau mereka semua terkecoh dengan topeng-topeng kepalsuan yang melekat di wajah kita.

Di depan mereka kita malaikat, tetapi di luar sana kita iblis. Masyarakat modern sarat dengan tradisi hipokrasi dan kemunafikan. Hanya karena menginginkan jabatan atau harta maka di antara mereka mengorbankan musuh-musuhnya.

Semoga kita semua bisa meraih taubat Istijabah pada bulan Ramadan kali ini.

Halwa Futuhan

Penulis yang rajin memberitakan kegiatan masyarakat lokal dan peristiwa lapangan. Ia gemar berkunjung ke pasar tradisional, memotret aktivitas warga, dan mencatat percakapan menarik. Hobinya termasuk mendengar musik tempo dulu. Motto: “Cerita kecil sering kali memiliki dampak besar.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *