My WordPress Blog

13 Tahun Lalu, Pendakwah Meninggal Usai Kecelakaan Motor, Anak Kenang Momen Terakhir: Ada Penyesalan

Kenangan Pahit dan Penyesalan Abidzar Al Ghifari

Belasan tahun telah berlalu sejak kepergian Ustaz Jefri Al Buchori, yang dikenal dengan panggilan Uje. Kejadian tersebut terjadi dalam sebuah kecelakaan tunggal di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, pada 26 April 2013. Meski waktu telah berlalu, kenangan kelam itu masih terasa jelas bagi sang putra, Abidzar Al Ghifari.

Dalam sebuah perbincangan hangat di podcast bersama Praz Teguh yang diunggah ulang oleh akun @lambegosiip (22/11/2024), Abidzar mengenang momen paling traumatis dalam hidupnya. Salah satu yang paling menyentuh adalah saat ia menyaksikan sang ibu, Umi Pipik, runtuh dalam kesedihan. Ia mengaku hatinya hancur melihat Umi Pipik menangis histeris di rumah sakit sesaat setelah tim medis menyatakan Uje telah tiada.

Di balik tragedi tersebut, terselip sebuah penyesalan mendalam yang hingga kini masih membekas di hati Abidzar. Saat itu, ia yang baru menginjak usia 12 tahun sempat merengek meminta dibelikan sepatu bola kepada sang ayah. Permintaan sederhana seorang anak kecil yang tak pernah ia sangka akan menjadi kenangan terakhir sebelum sang ayah pergi untuk selamanya.

“Di SD itu aku lagi gengsi-gengsi sepatu futsal bang, pengin nyari lah sepatu futsal paling baru kan,” ungkap Abidzar. Kala itu, keinginan sederhana seorang anak berusia 12 tahun muncul di waktu yang kurang tepat. Uje, yang baru saja berangsur pulih dari sakitnya, belum bisa memenuhi keinginan Abidzar secara langsung. Alhasil, demi menyenangkan sang putra, Abidzar akhirnya ditemani oleh Umi Pipik untuk mencari sepatu bola idaman.

Sempat Dilarang Naik Motor

Pada saat itu, ponsel Umi Pipik berdering; sebuah panggilan masuk dari Ustaz Jefri Al Buchori. Dalam percakapan singkat tersebut, sang pendakwah meminta izin kepada istrinya untuk berkendara menggunakan sepeda motor kesayangannya. “Terus enggak lama umi ditelepon sama almarhum, ngomong izin mau naik motor malam-malam. Sama umi tuh udah dilarang nggak usah kan lagi sakit,” ujar Abidzar.

Firasat buruk sebenarnya sudah menyelimuti benak Umi Pipik. Ia sempat melarang keras suaminya untuk berkendara, mengingat kondisi fisik Ustaz Jefri Al Buchori yang saat itu belum pulih sepenuhnya. Tak lama setelah Abidzar dan ibunya menginjakkan kaki di rumah dengan membawa sepatu baru, suasana tenang mendadak pecah. Sebuah panggilan telepon kembali masuk ke ponsel Umi Pipik.

“Nggak lama ada yang nelepon umi, umi angkat. Nangis sampai jatuh, cabut,” lanjutnya. Abidzar Al Ghifari hanya bisa terpaku melihat sang ibu runtuh dalam tangis. Meski belum memahami badai apa yang sedang menerjang keluarganya, air mata Abidzar ikut jatuh secara naluriah.

Penyesalan yang Tak Kunjung Mengering

Tanpa penjelasan panjang, ia pun bergegas dibawa menuju rumah sakit, tempat di mana kenyataan pahit itu akhirnya terungkap. Di koridor rumah sakit itulah, dunia Abidzar seolah runtuh. Ia mendapati kabar bahwa sang ayah telah mengembuskan napas terakhirnya akibat kecelakaan motor tersebut.

Kepergian sang ayah meninggalkan luka yang tak kunjung mengering bagi bintang film Balada Si Roy ini. “Umur 12 tuh aku nyalahin diri sendiri karena kematian papaku,” sesal Abidzar. “Tapi emang karena sepatu bang. Aku ngerasa karena aku maksa banget mau beli sepatu, aku akhirnya enggak bisa ngelarang papaku motoran,” jelasnya.

Dalam benaknya, Abidzar Al Ghifari sering kali memutar ulang waktu. Ia meyakini bahwa takdir mungkin saja berbicara lain jika saat itu ia berada di rumah. Dengan penuh keyakinan, putra almarhum Uje ini merasa bahwa kehadirannya bisa menjadi penghalang bagi sang ayah untuk melangkah keluar pintu dan memacu motornya hari itu.

“Kalau aku di rumah, kemungkinannya aku bisa ikut sama papaku naik motor mati sekalian, atau pun aku bisa ngelarang papaku naik motor akhirnya nggak jadi naik motor, matinya lebih tenang,” terang Abidzar. Sampai sekarang, bayang-bayang peristiwa memilukan itu tak pernah benar-benar lekang dari ingatan Abidzar.

“Sampai sekarang aku masih ada penyesalan, dan akhirnya baru ketemu itu sepatu 10 tahun kemudian, baru dapat tahun ini aku sepatunya.” katanya. Setiap kali melihat sepatu yang pernah dia inginkan, Abidzar membeli dua pasang sekaligus, mengaku melakukannya karena merasa ada rasa dendam.

“Akhirnya aku beli tuh sepatu dua, karena memang sepatu dendam,” pungkasnya.

Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *