Kenaikan dan Penurunan Angka Pendaftar Prodi Sosial Humaniora
Di satu pojok ruangan salah satu unit di kampus saya, suasana agak gelap. Bukan karena rasa pahitnya “Arabica” yang baru saja diminum, bukan juga karena topik tugas mahasiswa yang menumpuk atau laporan administratif perkuliahan yang belum selesai, tetapi karena angka pendaftar di prodi sosial humaniora yang semakin merosot.
Ada rekan yang mengatakan ini hanya tren sesaat, ada yang sibuk memikirkan bagaimana cara membuat konten dan “kurikulum” sosialisasi yang lebih masuk ke gen Z agar prodi tetap bertahan, ada juga yang berargumen bahwa diperlukan program dan strategi canggih dengan data-data kuantitatifnya.
Tetapi saya termenung. Penurunan ini bukan hanya soal salah strategi marketing. Ini adalah sinyal bahwa bangsa kita sedang kena “demam teknokrasi” yang parah. Apalagi sejak kebijakan pemerintah tahun 2026 ini memprioritaskan beasiswa LPDP menjadi “STEM-sentris” hingga 80 persen. Pesan implisitnya jelas: “negara ini tidak akan baik-baik saja kalau kita tidak segera mengambil kebijakan atau kalau kamu tidak bisa koding atau membuat robot, kamu tidak punya tempat di masa depan.”
Logika Tukang vs Arsitek Peradaban
Sejujurnya, kebijakan ini menggunakan logika yang agak dangkal. Kita seolah-olah ingin mencetak “tukang” sebanyak mungkin untuk mengisi pabrik dan industri digital. Padahal, data World Economic Forum (WEF) Future of Jobs Report jelas-jelas menyebutkan bahwa top skills yang paling dicari bukan hanya soal teknis, tetapi analytical thinking, empathy, dan social influence.
Data dari British Academy (2020) menunjukkan bahwa 8 dari 10 sektor pekerjaan dengan pertumbuhan tercepat justru membutuhkan keahlian ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Kita butuh STEM untuk membangun mesin, tetapi kita butuh humaniora untuk menjaga agar mesin tersebut tidak menghancurkan manusia. Koding itu bisa dipelajari AI dalam hitungan detik. Tetapi memahami keresahan sosial, merancang etika teknologi, dan menjaga keadilan? Itu human skill yang hanya ada di rahim ilmu sosial dan humaniora. Kita tidak butuh cuma “tukang” eksekusi, kita butuh “arsitek” yang paham makna pembangunan bagi manusia.
Kekuatan “Oppa” dan Sejarah Emas
Milennia dan Gen Z mana yang tidak tahu K-Pop? Tetapi kita harus melek: Korea Selatan tidak hanya menjual Samsung (STEM). Sejak akhir 90-an, mereka investasi gila-gilaan di Cultural Studies. Hasilnya? Gelombang Hallyu yang membuat ekonomi mereka meroket lewat “cerita” dan “karakter”, bukan cuma perangkat keras. Hal ini dibuktikan oleh Euny Hong dalam The Birth of Korean Cool.
Bahkan di zaman keemasan Islam, Baghdad menjadi pusat dunia bukan hanya karena matematika Al-Khwarizmi, tetapi karena mereka memiliki “Baitul Hikmah” tempat di mana filsafat, etika, dan sains duduk di satu meja. Mereka memahami bahwa teknologi tanpa nilai itu buta. Jika kita hanya mengejar STEM dan mematikan ilmu sosial, kita sedang membangun peradaban yang canggih, tetapi “mati rasa”.
Orang seperti Ibnu Rusyd juga begitu, beliau tidak hanya ahli di kedokteran saja, tetapi di bidang-bidang lainnya seperti filsafat, logika bahkan hukum hingga pada akhirnya bisa membawa Islam menuju golden age-nya.
Suara dari Kampus: STEM+H atau Mati Gaya?
Di kampus PTKI tempat saya mengabdi, kami memiliki konsep “Integrasi-Interkoneksi”. Semacam “tegur sapa keilmuan” kata Prof. Amin Abdullah, ilmu bersifat tidak dikotomis. Bayangkan jika kita punya ahli nuklir, tetapi tidak paham etika kemanusiaan. Atau punya data scientist, tetapi tidak mengerti sosiologi agama, akhirnya algoritmanya malah membuat orang makin berantem di medsos karena filter bubble. Itu namanya Cultural Lag, istilah dari sosiolog William Ogburn untuk menggambarkan teknologi yang melaju kayak Ferrari, tetapi mentalitas dan hukum kita masih jalan di tempat kayak kura-kura.
Keresahan di pojok ruangan salah satu unit tadi adalah “alarm” bagi kita semua. Jangan sampai di tahun 2045 nanti, Indonesia dipenuhi manusia-manusia “Zombie Digital”: pintar membuat aplikasi tetapi tidak punya empati, jago membuat infrastruktur tetapi tidak tahu cara berdialog dengan masyarakat lokal.
Sudah bukan zamannya lagi mengadu domba anak IPA vs anak IPS. Itu kuno banget! Yang kita butuh adalah STEM+H (STEM plus Humanities). Beasiswa negara harusnya menjadi tiket untuk memanusiakan manusia, bukan cuma mencetak buruh teknologi bermerek “doktor”.
Jangan biarkan meja-meja diskusi di prodi-prodi sosial makin sepi, karena dari sanalah “kemudi” bangsa ini sebenarnya dirancang. Beasiswa harusnya membangun manusia seutuhnya, yang mahir mengelola teknologi, tetapi juga teguh menjaga martabat kemanusiaan.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











