My WordPress Blog

Manfaat Tempe untuk Kesehatan Tulang: Mengapa Pengakuan UNESCO Belum Cukup?

Rekomendasi Global untuk Konsumsi Tempe

Beberapa negara di berbagai belahan dunia, seperti Jepang, Brasil, Kanada, dan Belgia, telah merevisi pedoman gizinya dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu contohnya adalah Belgia, yang merevisi kebijakan gizinya pada 2025 karena sebagian besar warganya mengonsumsi daging olahan secara berlebihan—yang diketahui dapat memicu kanker.

Dalam panduan gizi terbarunya, pemerintah Belgia menganjurkan warganya untuk mengurangi konsumsi daging olahan, menghindari makanan ultraproses, serta membatasi makanan tinggi gula, garam, dan lemak jenuh. Sebagai gantinya, mereka didorong untuk memperbanyak konsumsi makanan berbasis nabati utuh, seperti kacang-kacangan dan biji-bijian. Menariknya, Belgia secara eksplisit merekomendasikan tempe sebagai sumber protein nabati utama.

Selain Belgia, Australia dan Jepang juga merekomendasikan tempe sebagai alternatif protein nabati sehat dan bernutrisi tinggi. Tempe merupakan makanan fermentasi berbahan kacang kedelai asli Indonesia, pertama kali terdokumentasikan pada abad ke-17 di Desa Tembayat, Klaten, Jawa Tengah.

Manfaat Kesehatan Tempe

Berdasarkan berbagai penelitian, tempe kaya akan protein, serat, dan probiotik alami. Selain dapat meningkatkan kebugaran, tempe bermanfaat dalam melancarkan pencernaan, mencegah obesitas, diabetes, hingga pikun.

Penelitian kami dalam jurnal Nutrients tahun 2024 menemukan bahwa tempe berkhasiat dalam mendukung kesehatan tulang. Kami melakukan penelitian eksperimental terkontrol kepada dua kelompok tikus betina dengan kondisi menyerupai menopause. Kondisi ini dikenal bisa mempercepat pengeroposan tulang.

Kelompok pertama diberi makan tempe, sementara kelompok kedua tidak. Kami kemudian mengukur sejumlah tanda alami dalam tubuh (biomarker) tikus untuk melihat bagaimana tulang terbentuk dan menyusut, antara lain:

  • Procollagen type I (P1NP): Penanda pembentukan kolagen atau fondasi tulang.
  • Bone alkaline phosphatase (BALP): Enzim yang berperan dalam mineralisasi (pengerasan) tulang.
  • C-telopeptide (CTX) dan pyridinoline (PYD): Penanda proses penyusutan atau pengeroposan tulang.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok tikus yang makan tempe memiliki pertumbuhan tulang lebih aktif dan tidak mudah keropos. Hal ini jika dibandingkan dengan kelompok tikus yang tidak makan tempe. Secara sederhana, kami menduga konsumsi tempe berpotensi meningkatkan pertumbuhan jaringan tulang baru, mencegah tulang cepat keropos, serta melindungi kesehatan tulang saat hormon seks perempuan (estrogen) menurun, misalnya setelah masa menopause.

Efek ini diduga berasal dari kombinasi nutrisi tempe, termasuk isoflavon alami (seperti genistein dan daidzein), peptida bioaktif hasil fermentasi, serta kandungan mineral (kalsium dan magnesium) yang berperan dalam menjaga kepadatan tulang.

Keamanan Konsumsi Tempe

Secara umum, tempe aman dikonsumsi setiap hari sebagai bagian dari pola makan sehat bergizi seimbang. Fermentasi membuat tempe lebih mudah dicerna, mempermudah penyerapan mineral (seperti fosfor dan kalsium) di dalam tubuh, serta bermanfaat untuk kesehatan usus. Tempe juga rendah lemak jenuh, tinggi serat, serta bebas kolesterol.

Namun, seperti halnya makanan lain, kita tetap perlu menyesuaikan porsi konsumsinya. Terlebih, bagi individu dengan alergi kedelai atau kondisi khusus tertentu (seperti asam urat), berkonsultasilah dengan dokter sebelum memasukkan tempe dalam pola makan harian.

Pengakuan UNESCO Saja Tidak Cukup

Dengan tingginya minat global terhadap tempe dan banyaknya bukti ilmiah terkait manfaat kesehatannya, pemerintah Indonesia harusnya lebih jeli menjadikan produk pangan lokal ini sebagai kekuatan ekonomi nasional.

Pemerintah memang sudah berupaya untuk mengusulkan tempe sebagai warisan budaya takbenda UNESCO sejak tahun 2024. Menurut Kementerian Kebudayaan, pengakuan UNESCO diharapkan dapat mendorong perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan budaya tempe yang berkelanjutan.

Meski begitu, upaya mengejar status simbolis ini tidaklah cukup untuk benar-benar bisa melestarikan dan menjadikan tempe Indonesia sebagai produk pangan unggulan di dalam negeri dan mancanegara.

Pemerintah perlu memberdayakan industri tempe secara konkret dengan:

  • Menjamin stabilitas harga kedelai dan memberikan insentif bagi petani lokal untuk menanam benihnya.
  • Membantu pengadaan alat produksi modern, melakukan pembinaan, serta memfasilitasi sertifikasi mutu seperti sistem manajemen keamanan pangan berbasis sains alias Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) bagi produsen tempe.
  • Mendukung penelitian tempe lebih lanjut pada manusia. Ketika manfaat klinis tempe terpublikasi secara luas, nilai jual tempe turut meningkat.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *