My WordPress Blog

Guru Relawan Hanya Dapat Gaji Rp250 Ribu, Meski Punya Serdik dan Lulusan PPG

Kondisi Guru Honorer di Kabupaten Madiun dan Jawa Tengah

Di tengah dedikasi tinggi yang ditunjukkan oleh para guru, kesejahteraan mereka sering kali tidak sebanding dengan upaya yang mereka lakukan. Hal ini terlihat dari pengalaman seorang guru di salah satu Sekolah Dasar (SD) Negeri di Kabupaten Madiun, yang hanya menerima gaji Rp250 ribu per bulan. Meski memiliki kualifikasi akademik mumpuni, ia kini tidak lagi disebut sebagai guru honorer, melainkan relawan.

Perubahan istilah ini berdampak langsung pada pendapatan yang diterima. MY, nama samaran guru tersebut, mengaku bahwa status sebagai relawan membuatnya sulit memenuhi kebutuhan hidup. Ia harus membuka usaha sampingan seperti jual beli suku cadang sepeda motor hingga menjadi pelatih hadrah untuk menambah pemasukan. Tambahan penghasilan hanya bisa diperoleh jika terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler atau lomba siswa, yang jarang terjadi.

Kondisi ini tidak hanya dialami oleh MY. Di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 6 Sragen, Jawa Tengah, Ahmad Falih Al Hafid (24) juga mengalami nasib serupa. Statusnya sebagai guru ekstra membuat honor yang diterimanya hanya sekitar Rp500.000 per bulan. Meskipun tugas dan tanggung jawabnya tidak berbeda dengan guru honorer lainnya, Falih mengatakan bahwa kondisi ini masih jauh dari kata layak.

Kehidupan yang Penuh Tantangan

Falih mulai mengajar sejak Juli 2025 dan telah menghabiskan satu semester di MIN 6 Sragen. Ia mengaku bahwa idealisme sebagai seorang guru bertabrakan dengan realitas ekonomi. Dengan penghasilan yang tidak cukup, ia memilih bekerja sampingan dengan beternak ayam dan kambing. Usaha ini menjadi penopang utama kehidupannya, karena tanpa pekerjaan tambahan, ia akan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

Selain itu, Falih mengaku bahwa beban kerja guru honorer tidak sebanding dengan honor yang diterima. Ia harus menghadapi puluhan hingga ratusan siswa dengan karakter yang beragam, yang membutuhkan tenaga, kesabaran, dan kesiapan mental. Meskipun begitu, ia tetap bertahan karena keinginannya sendiri menjadi guru dan harapan ibunya.

Harapan dan Tantangan di Masa Depan

Meski kesejahteraan belum memadai, Falih tetap menyimpan harapan untuk bisa diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) atau Calon Aparatur Sipil Negara (CPNS). Namun, ia mengakui bahwa persaingan semakin ketat. Setiap tahun, jumlah lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) prajabatan terus meningkat, sementara formasi PPPK atau CPNS semakin sedikit.

Falih mengambil contoh pengalamannya saat mengikuti PPG prajabatan di Blora. Dari sekitar 800 pendaftar, awalnya tersedia 130 formasi. Namun, menjelang pelaksanaan tes, jumlah tersebut terus menyusut hingga tersisa sekitar 50-an. Kondisi ini membuat posisi guru honorer muda seperti Falih semakin sulit.

Keputusan untuk Bertahan

Meski ada keinginan untuk berpindah pekerjaan, Falih memilih tetap mengabdikan dirinya sebagai guru. Selain karena keinginan pribadi, ia juga merasa terikat dengan harapan ibunya. Selain itu, ia masih belum berani memikirkan pernikahan karena penghasilan yang tidak stabil.

Ke depan, Falih berencana mengembangkan usaha ternaknya agar bisa menjadi penopang ekonomi yang lebih kuat. Di sisi lain, ia tetap menyimpan harapan untuk bisa mendapatkan pekerjaan sebagai guru dengan penghasilan yang lebih manusiawi. “Saya ingin tetap mengajar, tapi juga memperbesar usaha ternak supaya ekonomi bisa lebih kuat,” ujarnya.

Hendra Susanto

Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *