My WordPress Blog

Kenali trigger dan cara mengatasi kepribadian ganda seperti dalam Can This Love Be Translated?

Drama Korea “Can This Love Be Translated?” dan Gangguan Kepribadian Ganda

Dalam dua pekan penayangannya, drama Korea Can This Love Be Translated? (2026) terus menduduki posisi paling atas di peringkat Netflix global. Salah satu elemen psikologis penting dalam drama ini adalah gangguan kepribadian ganda atau Dissociative Identity Disorder (DID) yang dialami oleh Cha Mu Hee, tokoh utama yang diperankan dengan apik oleh Goo Youn Jung.

Spoiler alert, ya. Dalam Can This Love Be Translated?, Cha Mu Hee adalah seorang selebritis yang digambarkan sebagai sosok dengan trauma masa lalu yang cukup dalam. Kondisi itu membuat kepribadian Cha Mu Hee memiliki banyak lapisan yang kompleks. Gejala kepribadian ganda sudah muncul di episode awal, namun penyebabnya baru terungkap di akhir cerita.

Apa Itu DID?

DID merupakan gangguan kesehatan mental serius yang telah lama menjadi perhatian komunitas psikiatri dan psikologi klinis. Kondisi tersebut merupakan gangguan mental yang ditandai oleh kehadiran dua atau lebih identitas atau kondisi kepribadian yang berbeda dalam satu individu. Identitas-identitas ini dapat memiliki pola emosi, ingatan, persepsi diri, hingga respons terhadap lingkungan yang berlainan.

American Psychiatric Association memasukkan DID dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) sebagai gangguan disosiatif yang berkaitan erat dengan pengalaman trauma berat, terutama pada masa kanak-kanak. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa DID hampir selalu berhubungan dengan trauma kronis di usia dini. Bukan trauma tunggal, melainkan pengalaman menyakitkan yang berulang dan berlangsung lama.

Pemicu DID yang Umum

Beberapa pemicu yang sering ditemukan antara lain:

  1. Kekerasan dan Penelantaran Masa Kecil

    Studi dalam Journal of Trauma & Dissociation mencatat mayoritas pasien DID memiliki riwayat kekerasan fisik, emosional, atau seksual sebelum usia 10 tahun. Disosiasi muncul sebagai mekanisme pertahanan untuk “memisahkan” kesadaran dari rasa sakit yang tak tertanggungkan.

    Ini sebagian cocok dengan yang dialami Cha Mu Hee. Di masa kecil, dia menyaksikan Ibu mencoba membunuh ayahnya, kemudian mengajak Cha Mu Hee bunuh diri bersama dengan makan kue tart beracun. Trauma ini membuat Cha Mu Hee ingin terlepas dari diri aslinya. Kepribadian gandanya merupakan bentuk dari sosok Ibu yang pernah mengatakan bahwa kelak tidak akan ada yang mencintai Cha Mu Hee.

    Sebelumnya Cha Mu Hee mengira sosok lain dalam dirinya adalah Do Ra Mi, karakter horor yang melejitkan namanya. Namun ternyata sosok itu bukanlah Do Ra Mi, melainkan Ibu yang memang memiliki wajah sangat mirip dengan dirinya.

  2. Stres Emosional Intens

    Situasi yang memicu rasa terancam seperti konflik relasi, kehilangan, atau tekanan psikologis ekstrem, dapat mengaktifkan identitas tertentu sebagai bentuk perlindungan diri. Dalam diri Cha Mu Hee, ini pula lah yang terjadi.

    Saat menjalin relasi dengan Joo Hoo Jin, penerjemah multibahasa yang diperankan Kim Seon Ho, Cha Mu Hee terus menerus dihantui perasaan takut ditolak. Maka setiap dikuasai kegalauan itu, sosok lain Cha Mu Hee, yang awalnya mereka yakini sebagai Do Ra Mi, selalu muncul.

  3. Stimulus yang Mengingatkan Trauma

    Bau, suara, tempat, atau bahkan nada bicara tertentu bisa memicu perpindahan identitas secara tiba-tiba, sering kali tanpa disadari oleh penderitanya. Dalam diri Cha Mu Hee lebih parah lagi. Setiap kondisi tertekan, identitasnya kerap langsung berubah.

    Penelitian di Psychiatric Clinics of North America menyebutkan bahwa banyak penderita DID baru terdiagnosis di usia dewasa setelah bertahun-tahun mengalami gejala seperti gangguan ingatan (amnesia disosiatif).

    Dalam kisah Cha Mu Hee, dia bahkan lupa dengan wajah ibunya sendiri sehingga mengira identitas lain dalam dirinya adalah Do Ra Mi. Gejala lain adalah perasaan terlepas dari diri sendiri dan depresi dan kecemasan kronis.

Bagaimana DID Ditangani?

Penanganan DID menuntut pendekatan jangka panjang dan tidak instan. Berikut beberapa pendekatan yang bisa ditempuh:

  • Terapi Berbasis Trauma

    Pendekatan utamanya adalah psikoterapi berorientasi trauma. Tujuannya bukan “menghapus” identitas, melainkan membangun integrasi fungsi psikologis dan komunikasi yang sehat antar bagian diri. Di sini, peran ahli menjadi penting. Di cerita Cha Mu Hee, dia akhirnya baru mengetahui bahwa identitas lain dalam dirinya adalah sang Ibu setelah berkali-kali berkonsultasi dengan ahli.

  • Identifikasi dan Pengelolaan Trigger

    Pasien dibantu mengenali situasi pemicu agar dapat merespons secara lebih adaptif. Di Can This Love Be Translated?, Cha Mu Hee juga pelan-pelan mengenali apa yang membuat identitas lain dirinya muncul.

  • Dukungan Sosial yang Aman

    Lingkungan yang stabil, tidak menghakimi, dan konsisten terbukti berperan penting dalam proses pemulihan. Nah, di sini Cha Mu Hee beruntung menjalin hubungan dengan Joo Hoo Jin (Kim Seon Ho). Meskipun di awal sama-sama problematik, kesabaran Joo Ho Jin membuat Cha Mu Hee pelan-pelan mampu mengatasi masalah dalam dirinya.

  • Terapi Farmakologis Pendukung

    Obat digunakan untuk menangani gejala penyerta seperti depresi, gangguan tidur, atau kecemasan, bukan untuk menyembuhkan DID itu sendiri. Dengan bantuan ahli, Cha Mu Hee juga menjalani ini.

DID merupakan jejak luka psikologis yang panjang dan pada saat yang sama, seperti yang dialami Cha Mu Hee, merupakan cermin ketahanan manusia dalam menghadapi trauma ekstrem.

Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *