My WordPress Blog

Infeksi Pasca Persalinan yang Mengancam Kesehatan Ibu

Gejala Umum Infeksi Puerperal



Infeksi pascamelahirkan dapat menunjukkan berbagai gejala yang perlu diperhatikan. Beberapa gejala umum yang sering muncul antara lain:

Demam,

Sakit perut,

Pembengkakan payudara dengan eritema dan nyeri tekan,

Nyeri uterus,

Keputihan yang berbau tidak sedap,

Kemerahan dan nyeri yang terlokalisasi di atas lokasi sayatan,

* Perasaan sakit atau tidak nyaman.

Jika Mama mengalami salah satu dari gejala tersebut, segera konsultasikan ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.

Faktor Penyebab Infeksi Puerperal



Beberapa faktor risiko dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi pascamelahirkan, antara lain:

Metode persalinan (vaginal atau caesar),

Kegemukan,

Waktu persalinan yang panjang,

Pemeriksaan vagina ganda,

Ketuban pecah dini atau berkepanjangan,

Diabetes,

Infeksi yang sudah ada sebelumnya seperti vaginosis bakterial, infeksi intra-amnion, dan korioamnionitis,

Pemantauan janin internal,

Status gizi (anemia atau malnutrisi),

Usia ibu yang terlalu muda,

Pengangkatan plasenta secara manual,

Kolonisasi dengan bakteri streptokokus grup A atau B,

* Kebersihan yang buruk.

Faktor-faktor ini bisa memengaruhi tingkat risiko infeksi pascamelahirkan, sehingga penting untuk diperhatikan.

Jenis Infeksi Puerperal dan Penyebabnya



Berikut beberapa jenis infeksi pascamelahirkan yang umum terjadi:

1. Mastitis nifas

Infeksi payudara ini terjadi ketika bakteri memasuki area puting-areola karena puting pecah-pecah atau erosi saat menyusui. Mastitis biasanya disebabkan oleh adanya bakteri Staphylococcus aureus. Gejala awal mungkin termasuk eritema, nyeri tekan, dan bengkak. Beberapa komplikasi termasuk mastitis kronis dan abses payudara.

  1. Infeksi saluran kemih (ISK)

    ISK terjadi pada 2-4 persen dari semua kelahiran. Meskipun dianggap sebagai infeksi ringan, ISK menyebabkan ketidaknyamanan dan telah dikaitkan dengan masa tinggal di rumah sakit yang lebih lama dan risiko penghentian menyusui. Faktor risiko meliputi kateterisasi, persalinan lama, membran pecah, ISK selama kehamilan, dan kolonisasi streptokokus beta grup B.

  2. Infeksi luka (caesar)

    Infeksi tempat pembedahan adalah salah satu komplikasi paling umum setelah sesar dengan tingkat kejadian 3-15 persen. Infeksi ini sering disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus yang menyerang tempat operasi dalam waktu 30 hari setelah prosedur. Faktor risiko meliputi diabetes melitus pragestasional, obesitas, persalinan lama sebelum pembedahan, ketuban pecah dini, dan korioamnionitis. Amati sayatan sesar setiap hari, dan laporkan gejala seperti demam, nyeri tekan, eritema (kemerahan), dan keluarnya cairan bernanah (nanah) ke dokter.

  3. Nyeri perineum

    Nyeri perineum cukup umum terjadi setelah persalinan pervaginam. Rasa tidak nyaman biasanya timbul di daerah perineum (daerah antara vagina dan anus) dan terjadi karena memar atau robek (trauma) saat melahirkan. Rasa sakit juga bisa terjadi akibat episiotomi (luka yang dibuat untuk memperbesar area perineum untuk memudahkan kelahiran bayi). Beberapa robekan dan episiotomi alami membutuhkan jahitan (jahitan). Ibu yang mengalami persalinan lama (mendorong aktif dalam waktu lama) mungkin juga mengalami nyeri perineum bahkan tanpa adanya trauma perineum.

  4. Keputihan parah

    Persalinan per vaginam dapat menyebabkan perdarahan vagina postpartum hingga enam minggu. Awalnya, gumpalan kecil mungkin muncul. Secara bertahap, perdarahan bisa berubah dari merah menjadi merah muda. Debit tersebut selanjutnya dapat berubah warna menjadi kuning, diikuti oleh putih. Kotoran akan hilang dengan sendirinya, tetapi temui dokter jika cairan menjadi lebih kental, menimbulkan bau busuk, gumpalan yang lebih besar muncul, atau perdarahan semakin parah.

  5. Infeksi rahim (endometritis)

    Endometritis terjadi pada saluran genital bagian atas, meliputi endometrium, miometrium (miometritis), dan jaringan di sekitarnya (parametritis). Ini umumnya terjadi ketika bakteri yang menjajah vagina mencapai saluran genital bagian atas setelah melahirkan. Metode pengobatan yang umum adalah penggunaan antibiotik yang dapat membantu menghilangkan bakteri penyebab infeksi. Antibiotik dapat diberikan secara oral atau intravena tergantung pada jenis dan luasnya infeksi postpartum.

Apakah Infeksi Puerperal Dapat Menyebabkan Komplikasi?



Diagnosis dan pengobatan infeksi puerperal yang terlambat dapat menyebabkan beberapa komplikasi, seperti:

Sindrom respons inflamasi sistemik (SIRS),

Sepsis,

Sindrom syok toksik,

Tromboflebitis pelvis septik,

Selulitis,

Abses,

Trombosis vena dalam,

Emboli paru,

* Fasciitis nekrotikans.

Komplikasi ini bisa sangat berbahaya dan memerlukan penanganan medis segera.

Pencegahan Infeksi Puerperal



Tindakan pencegahan berikut dapat membantu mengurangi risiko infeksi pascamelahirkan:

Lakukan pemeriksaan kehamilan dan pascamelahirkan secara teratur. Ini akan membantu deteksi dini infeksi apa pun.

Waspadai setiap perubahan di lokasi sayatan.

Jika Mama merasa tidak enak badan, segera konsultasikan dengan dokter.

Jaga kebersihan yang baik dengan mencuci tangan dan menjaga kebersihan daerah perineum.

Gizi yang cukup dapat membantu mencegah defisiensi sekaligus menjaga sistem kekebalan tubuh tetap kuat.

Banyak rumah sakit dan fasilitas kesehatan telah menerapkan strategi dan pedoman WHO untuk mengurangi risiko infeksi puerperal.

Infeksi pascamelahirkan ini seringkali diabaikan sehingga berisiko memengaruhi kesehatan jangka panjang mama. Kenali gejala dan penyebabnya sehingga Mama dapat mengambil tindakan dengan cepat.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *