Perubahan Sikap Suderajat dan Kontroversi yang Muncul
Suderajat, seorang penjual es gabus yang dulu sempat menjadi perhatian publik, kini kembali menjadi sorotan. Tidak lagi mendapat simpati, tindakan dan pernyataannya kini memicu berbagai reaksi dari masyarakat. Seolah tidak bisa menunjukkan rasa terima kasih, ia justru kecewa karena menerima motor dari Kapolres Metro Depok, padahal ia mengharapkan mobil.
Awalnya, Suderajat (50 tahun) menjadi korban fitnah yang melibatkan dua aparat di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Kejadian ini membuatnya menjadi perbincangan luas. Banyak orang merasa prihatin karena ia hanyalah pedagang kecil yang sedang berjuang mencari nafkah. Dukungan pun datang dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun melalui lembaga dan tokoh masyarakat.
Namun, di tengah derasnya dukungan tersebut, muncul fakta yang justru memicu kontroversi. Suderajat diduga memberikan informasi yang tidak sesuai dengan kenyataan kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Ia mengaku memiliki tunggakan biaya sekolah sebesar Rp1,5 juta, belum membayar kontrakan, serta memiliki utang di warung. Namun, ternyata, ia sebenarnya memiliki rumah pribadi yang sedang diperbaiki melalui program rutilahu. Tempat tinggal kontrakannya hanya sementara selama proses renovasi berlangsung.
Kontroversi semakin memanas ketika Suderajat menyampaikan rasa kecewanya terhadap pemberian motor dari Kapolres. Alih-alih bersyukur, ia justru tampak kecewa karena harapan untuk mendapatkan mobil tidak terpenuhi. Hal ini memicu berbagai reaksi dari masyarakat, termasuk pertanyaan tentang kondisi mental dan pemahamannya terhadap bantuan yang telah ia terima.
Di acara Pagi Pagi Ambyar, Suderajat menjelaskan bahwa ia ingin mendapatkan mobil karena ingin digunakan untuk jalan-jalan bersama keluarga. Jawaban ini membuat para host terkejut dan bertanya, “Kenapa jadi minta mobil?” Ia menjawab bahwa mobil lebih cocok untuk keluarga, sedangkan motor hanya untuk dirinya sendiri. Pertanyaan lain seperti “Siapa yang bisa nyetir?” juga dijawabnya dengan mengatakan bahwa ia akan dibantu oleh anaknya.
Akibat sikapnya tersebut, Suderajat kini dinilai tidak tahu berterimakasih dan bersyukur. Camat Bojonggede, Tenny Ramdhani, menyebut bahwa polemik yang berkembang di media sosial disebabkan oleh informasi yang tidak utuh mengenai kondisi Suderajat. Ia menilai bahwa hasil asesmen lintas instansi menemukan indikasi disabilitas pada Suderajat dan istrinya. Kondisi ini diduga berkaitan dengan gangguan mental pascatrauma, sehingga kemampuan komunikasi verbal keduanya cukup terbatas.
Tenny juga menyebut bahwa kondisi istrinya bahkan lebih parah. Informasi dari Ketua RT dan RW setempat juga menunjukkan adanya keterbelakangan secara psikologis dan mental pada Suderajat. Kondisi ini diduga sudah ada sebelumnya dan diperparah oleh tekanan trauma setelah difitnah aparat. Selain itu, banyak orang yang mendatangi rumahnya, membuatnya tidak terbiasa dengan situasi tersebut.
Pernyataan Tenny menunjukkan bahwa Suderajat memang memiliki disabilitas dan membutuhkan perhatian khusus. Selain itu, tekanan setelah kejadian dan banyaknya orang yang datang ke rumahnya juga berkontribusi pada kondisi mentalnya saat ini.











