Guru Honorer di Nganjuk: Kehidupan yang Penuh Tantangan
Di tengah upaya pemerintah meningkatkan kualitas layanan pendidikan melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan anggaran fantastis, ironi masih membayangi dunia pendidikan. Banyak guru honorer di Tanah Air menjadi ujung tombak pembelajaran justru harus bertahan dengan gaji yang sangat rendah dan jauh dari kata layak.
Pengalaman Mohamad Anang Arianto
Mohamad Anang Arianto (26), seorang guru agama di SDN 2 Pacekulon yang diperbantukan mengajar di SDN Gondang, adalah salah satu contoh dari kondisi ini. Anang telah menjadi guru agama selama tujuh tahun terakhir ini, namun hanya menerima honor sebesar Rp400 ribu per bulan. Angka tersebut jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Bahkan, honor itu tidak cukup untuk membeli sepatu.
Anang mengaku bahwa kondisi ekonomi dengan honor yang sangat kecil membuatnya tak mampu membeli sepatu baru. Ia terpaksa menggunakan sepatu rusak untuk mengajar para siswanya. Sepatu rusak yang dipakainya mengajar itu adalah satu-satunya yang dimiliki. Tak ada uang lagi yang bisa disisihkannya untuk membeli sepatu karena honor Rp400 ribu yang diterimanya sudah habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan kurang.
Untuk menyambung hidup, Anang pun memilih mencari pekerjaan sampingan sebagai ojek online. Meski honor yang diterimanya jauh dari kata cukup, Anang tetap menjalani profesinya sepenuh hati.
Masalah dalam Sistem Pendidikan
Anang mengaku belum masuk Dapodik sejak awal mengajar. Ia menyebut persoalan itu bermula sekitar tahun 2019 atau 2020. Saat itu, menurut Anang, dirinya tidak bisa masuk Dapodik karena belum memiliki ijazah sarjana. Kini, dia telah menamatkan studi Strata Satu (S1), tapi juga tak kunjung tercatat di Dapodik.
Anang mengaku telah berupaya mengurus persoalan tersebut dengan mendatangi Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Nganjuk sebanyak dua kali. Namun, usahanya belum membuahkan hasil. Menurut Anang, alasan yang diterimanya adalah karena lembaga tempatnya mengabdi sudah tidak menerima tenaga honorer baru.
Selama mengajar, Anang hanya menerima honor yang nilainya jauh dari kata cukup. Dia menyebut, honor pertamanya sebesar Rp150.000, dan kini menjadi Rp400.000 per bulan. Honor tersebut, menurut dia, jelas tidak mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.
Harapan untuk Kesejahteraan Guru Honorer
Anang berharap ada perhatian dari pemerintah daerah terhadap nasib guru honorer seperti dirinya. Ia berharap nanti ke depannya, guru honorer seperti dirinya bisa diangkat menjadi pegawai negeri, dan untuk di Dinas Pendidikan ya utamanya yang honorer seperti dirinya itu lebih disejahterakan.
Kepala SDN Gondang, Sukirno, membenarkan bahwa sekolahnya masih bergantung pada tenaga honorer untuk memastikan kegiatan belajar mengajar berjalan. Saat ini, menurut Sukirno, di SDN Gondang terdapat dua tenaga honorer yakni seorang tenaga administrasi yang mengurus operasional sekolah dan seorang petugas kebersihan.
Sementara untuk Anang, ia mengatakan, merupakan tenaga honorer yang diperbantukan dari SDN 2 Pacekulon karena di SDN Gondang sempat tidak memiliki guru agama. Di sini (SDN Gondang) tidak ada guru agama, karena guru agama sebelumnya mutasi ke Lengkong, sehingga tidak ada yang mengajar di kelas.
Terkait honor Anang, Sukirno menyebut bahwa dana tersebut bukan berasal dari anggaran sekolah. Melainkan dari guru agama SDN Gondang yang lama. “Dari lembaga tidak ada (honor) sama sekali,” katanya.
Sebagai kepala sekolah, Sukirno berharap ada jalan keluar bagi nasib para tenaga honorer. Termasuk Anang yang saat ini belum masuk Dapodik dan statusnya hanya diperbantukan di SDN Gondang.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”











