Prof Hasnawi Haris, Akademisi Sulawesi Selatan yang Kembali Berkiprah di Nasional
Prof Hasnawi Haris, seorang guru besar Universitas Negeri Makassar (UNM), kembali menunjukkan kontribusinya dalam lingkup nasional. Ia resmi dikukuhkan sebagai salah satu anggota formatur Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) periode 2026–2030. Pengukuhan ini dilakukan dalam rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) IPSI yang berlangsung di Jakarta pada Sabtu, 11 April 2026.
Pembukaan Munas IPSI dilakukan langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Dalam kesempatan tersebut, Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PB IPSI sekaligus Ketua Formatur masa bakti 2026–2030. Sugiono sebelumnya telah menjadi Ketua Terpilih IPSI periode 2025–2030.
Prof Hasnawi Haris menjadi salah satu dari enam anggota formatur yang mendampingi Sugiono. Ia juga mewakili wilayah Indonesia tengah dalam struktur kepengurusan nasional IPSI. Keterpilihan ini dinilai strategis karena merepresentasikan kawasan Indonesia tengah dalam organisasi nasional.
Saat ini, Prof Hasnawi juga menjabat sebagai Ketua Umum IPSI Sulsel. Tujuh formatur PB IPSI periode 2026–2030 terdiri dari:
- Sugiono (ketua formatur)
- Djalaluddin Salampessy (wilayah timur)
- Prof Hasnawi Haris (wilayah tengah)
- Vasvo Rusaemy (wilayah barat)
- Benny Gautama Sumarsono (perwakilan demisioner)
- Afnan Hadikusumo (perwakilan perguruan sejarah)
- Edhy Prabowo (perwakilan perguruan besar)
Ketujuh formatur tersebut diberi mandat untuk menyusun struktur kepengurusan lengkap dalam waktu paling lambat 30 hari setelah Munas.
Latar Belakang Akademis dan Karier Prof Hasnawi Haris
Prof Hasnawi Haris lahir di Dusun Akkampeng, Kabupaten Soppeng, pada 31 Desember 1967. Perjalanan akademiknya dimulai dari IKIP Ujung Pandang, kini Universitas Negeri Makassar. Ia mengambil jurusan Pendidikan Moral Pancasila dan Kewarganegaraan, yang diselesaikannya pada tahun 1992.
Sejak menjadi mahasiswa, ia dikenal sebagai aktivis yang gigih. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa IKIP Ujung Pandang, posisi yang kini setara dengan Presiden BEM. Ketertarikannya pada bidang hukum membawanya melanjutkan studi magister Hukum Tata Negara di Universitas Hasanuddin, sebelum meraih gelar doktor di bidang yang sama dari Universitas Airlangga.
Dalam kariernya, Prof Hasnawi telah mengabdikan diri sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNM selama dua periode, serta pernah menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik UNM. Ia juga saat ini dipercaya sebagai Ketua PGRI Sulawesi Selatan.
Kontribusi di Bidang Pendidikan dan Penelitian
Sebagai akademisi, Prof Hasnawi aktif mengajar berbagai mata kuliah di bidang hukum dan kebijakan publik, seperti Hukum Tata Negara, Hukum Administrasi Negara, Demokrasi dan HAM, serta Metodologi Penelitian Ilmu Sosial. Di luar aktivitas pengajaran, ia juga aktif melakukan penelitian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan pemerintah daerah.
Salah satu penelitiannya membahas pengawasan DPRD dalam pelaksanaan pemerintahan di Kabupaten Sinjai sebagai upaya mendorong tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Selain itu, ia juga meneliti sikap dan perilaku DPRD di Kabupaten Soppeng terkait fungsi pengawasan, serta melakukan analisis Ujian Nasional untuk pemetaan dan peningkatan kualitas pendidikan di Sulawesi Selatan.
Agenda Strategis PB IPSI Periode 2026–2030
Sebelumnya, Ketua Tim Penjaringan, Bayu Syahjohan, mengungkapkan bahwa terdapat dua nama yang sempat muncul sebagai kandidat Ketua Umum, yakni Prabowo Subianto dan Sugiono. Namun, dalam forum Munas, Presiden Prabowo menyatakan tidak bersedia untuk kembali dicalonkan sebagai Ketua Umum PB IPSI.
“Hari ini saya menyatakan bahwa saya mohon izin untuk tidak melanjutkan menjadi ketum PB IPSI. Karena saya sudah mengemban tugas kebangsaan yang menyita waktu saya, sehingga tidak mungkin saya efektif sebagai ketua IPSI,” ujarnya.
Kepengurusan PB IPSI periode 2026–2030 mengusung sejumlah agenda strategis, salah satunya mendorong pencak silat agar dapat dipertandingkan dalam ajang Olimpiade sebagai bentuk pengakuan global terhadap warisan budaya Indonesia.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.










