My WordPress Blog

Berani Melintasi Selat Hormuz, Dua Kapal Perang AS Nyaris Hancur oleh Rudal Iran

Insiden Militer di Selat Hormuz yang Nyaris Memicu Bencana

Pada hari Minggu (12/4/2026), dua kapal perang perusak Amerika Serikat (AS) yaitu USS Michael Murphy (DDG 112) dan USS Frank E Peterson (DDG 121) hampir mengalami kehancuran setelah dicegat oleh pasukan Iran saat mencoba melintasi Selat Hormuz secara ilegal. Peristiwa ini terjadi saat negosiasi antara AS dan Iran di Islamabad, Pakistan tidak menemui titik temu.

Iran menuduh AS melakukan taktik tipu muslihat dengan mematikan sistem pelaporan posisi kapal dan menyamar sebagai kapal komersial Oman. Menurut laporan, aksi tersebut dilakukan untuk memengaruhi proses negosiasi yang sedang berlangsung.

Insiden ini berakhir dramatis setelah rudal jelajah Iran berhasil mengunci target dan memaksa kapal-kapal AS mundur dalam waktu 30 menit demi menghindari kerusakan total. Berdasarkan laporan Press TV, insiden militer ini nyaris memicu bencana besar di jalur nadi minyak dunia.

Taktik Penyamaran yang Gagal

Investigasi terbaru menunjukkan bahwa dua kapal perusak kelas Arleigh Burke milik Angkatan Laut AS berada dalam hitungan menit menuju kehancuran total setelah mencoba menerobos Selat Hormuz yang tengah diblokade. Upaya AS melalui kapal USS Michael Murphy dan USS Frank E. Peterson disebut-sebut sebagai “aksi propaganda” yang gagal.

Menurut investigasi, armada AS mencoba mengelabui pasukan IRGC dengan mematikan sistem pelaporan posisi elektronik. Bahkan, kapal-kapal perang canggih tersebut mencoba melakukan spoofing identitas atau menyamar sebagai kapal dagang milik Oman yang sedang melakukan transit pesisir.

Mereka memilih rute perairan dangkal yang sangat dekat dengan pantai, berharap kelengahan pasukan Iran di tengah suasana gencatan senjata yang rapuh.

Lock-On Rudal Jelajah yang Membuat Kapal AS Mundur

Namun, taktik ‘kucing-kucingan’ ini terendus oleh radar IRGC yang sedang berpatroli di sekitar Fujairah. Saat armada AS mencapai mulut Teluk Persia, situasi memanas secara instan. Rudal jelajah Iran dilaporkan telah melakukan lock-on atau mengunci sasaran ke arah kapal perusak tersebut, sementara kawanan drone penyerang mulai terbang mengepung di atas dek kapal.

Melalui saluran internasional Channel 16, operator IRGC memberikan peringatan terakhir yang mencekam. “Putar balik dan tinggalkan area ini dalam 30 menit, atau kalian akan menjadi target penghancuran,” ujar operator IRGC. Dalam komunikasi radio tersebut, pihak Amerika dilaporkan menunjukkan kepatuhan penuh setelah menyadari bahwa mereka hanya berjarak beberapa menit dari ledakan besar jika nekat melanjutkan haluan.

Semua kapal komersial di sekitarnya pun diperintahkan menjauh radius 10 mil demi menghindari dampak serangan.

Propaganda yang Berbalik Menjadi Bencana

Analis militer menyebut operasi berisiko tinggi ini dirancang untuk memberikan daya tawar bagi negosiator AS yang tengah berunding dengan delegasi Iran di Islamabad, Pakistan. Sayangnya, kegagalan di lapangan ini justru disebut mempermalukan posisi AS di meja runding.

Investigasi juga mencatat bahwa kecerobohan taktis ini kemungkinan dipicu oleh gejolak internal di militer AS, menyusul pemecatan sejumlah jenderal top oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth baru-baru ini. Kekosongan kepemimpinan strategis dinilai membuat militer AS lebih mengedepankan aksi propaganda daripada perhitungan risiko yang matang.

Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaqari dari Markas Pusat Khatam al-Anbiya menegaskan bahwa prioritas transit di jalur strategis Selat Hormuz ini sepenuhnya berada di tangan Iran. Dengan kegagalan negosiasi di Islamabad dan insiden nyaris hancurnya kapal perang ini, ketegangan di Selat Hormuz kini berada pada level tertinggi sejak dimulainya konflik.

Di sisi lain, klaim ini belum mendapat konfirmasi resmi dari pihak militer AS. Namun jika benar, insiden ini menambah daftar panjang gesekan militer di kawasan yang selama ini menjadi titik panas geopolitik global.

Pentingnya Jalur Selat Hormuz

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar sepertiga pasokan minyak dunia. Setiap eskalasi di kawasan ini tidak hanya berdampak pada keamanan regional, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global.


Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *