Serangan Houthi ke Wilayah Israel Memicu Ketegangan di Timur Tengah
Pada hari Sabtu (28/3/2026), kelompok Houthi Yaman meluncurkan serangan pertamanya ke wilayah Israel. Serangan ini menandai perubahan signifikan dalam dinamika konflik Timur Tengah, yang sebelumnya lebih fokus pada persaingan antara Iran, AS, dan negara-negara Teluk. Dengan adanya serangan ini, perang di kawasan tersebut semakin memanas dan menghadirkan ancaman baru bagi stabilitas regional.
Houthi, yang dikenal sebagai kelompok pemberontak di Yaman, telah menyatakan dukungan penuh kepada Iran dan berkomitmen untuk berjuang bersama dalam menghadapi ancaman dari AS dan Israel. Meski sebelumnya mereka memilih untuk tidak terlibat langsung dalam konflik antara Iran dan aliansi AS-Israel, kini mereka menunjukkan sikap yang lebih aktif. Hal ini dianggap sebagai bentuk loyalitas terhadap Iran, yang selama bertahun-tahun memberikan dukungan politik dan militer kepada Houthi.
Serangan Houthi ke wilayah Israel dilaporkan oleh Israel, yang mengklaim sedang melakukan upaya pencegahan dengan mencoba mencegat rudal yang ditembakkan dari Yaman. Ini menjadi langkah pertama Houthi setelah menjalani masa “menahan diri” sejak perang antara AS-Israel melawan Iran meletus pada akhir Februari lalu. Para analis percaya bahwa keterlibatan Houthi sudah diprediksi sebelumnya, meskipun risiko bagi posisi mereka di Yaman tetap tinggi.
Farea Al-Muslimi, peneliti dari Chatham House, menjelaskan bahwa Houthi sebenarnya ingin menghindari konfrontasi langsung. Namun, mereka merasa harus membalas budi kepada Iran, yang telah mendukung mereka selama bertahun-tahun. Selain itu, dengan memilih target langsung ke wilayah Israel, Houthi ingin menunjukkan kesetiaan mereka terhadap perjuangan Palestina.
Perusahaan konsultan risiko asal AS, Basha Report, memprediksi bahwa langkah Houthi selanjutnya adalah serangan terhadap lalu lintas maritim regional. Tujuan utamanya adalah menciptakan tekanan tanpa memicu respons langsung dari AS. Namun, konsekuensi nyata dari keterlibatan Houthi adalah ancaman terhadap jalur pelayaran global di Laut Merah.
Dari benteng pegunungan mereka di atas Laut Merah, Houthi memiliki kemampuan untuk mengganggu pelayaran secara serius menggunakan drone dan rudal. Hal ini telah dibuktikan selama perang Gaza, ketika para pemberontak menargetkan kapal-kapal yang mereka klaim terkait dengan Israel. Ancaman ini menghambat perjalanan melalui Selat Bab al-Mandeb, jalur air sempit yang merupakan pintu gerbang menuju Terusan Suez dari Samudra Hindia.
Laut Merah merupakan jalur pelayaran penting antara Eropa dan Asia, sehingga jika Selat Bab al-Mandeb terancam, pasar global yang sudah rapuh akan semakin terguncang. Arab Saudi, yang sangat bergantung pada jalur ini, kemungkinan besar tidak akan tinggal diam. Dengan Selat Hormuz yang praktis tertutup, kapal tanker dialihkan ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Namun, ini adalah jalur keluar terakhir yang aman bagi minyak Arab Saudi.
Jika jalur ini diblokir, Riyadh mungkin akan meninggalkan pendiriannya saat ini untuk mencegat serangan rudal dan pesawat tak berawak Iran. Analis keamanan Saudi, Hesham Alghannam, mengatakan bahwa netralitas yang hati-hati dalam perang ini bisa runtuh. “Riyadh mungkin mempertimbangkan pembalasan, walaupun terbatas,” ujarnya.
Dalam pernyataan mereka, Houthi mengisyaratkan kemungkinan serangan terhadap negara-negara tetangga. Seperti yang dicatat Al-Muslimi, Houthi lebih dekat dan berada di posisi yang lebih baik daripada Iran untuk menyerang infrastruktur Arab Saudi dan pangkalan-pangkalan Barat di seluruh Teluk. Serangan semacam itu dapat menimbulkan konsekuensi serius, termasuk risiko tinggi konfrontasi langsung antara Houthi dan Arab Saudi.
Sebelumnya, Houthi berperang melawan koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional pada 2015 hingga 2022, ketika gencatan senjata diberlakukan. Kini, situasi kembali memanas, dan dunia menantikan bagaimana reaksi negara-negara lain terhadap tindakan Houthi.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











