My WordPress Blog

Gencatan Senjata atau Perang? Teka-Teki Lima Hari Penundaan Serangan Trump ke Iran

Dialog antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan

Pertemuan penting antara Amerika Serikat dan Iran akan diadakan di Islamabad, Pakistan, pada akhir pekan ini. Pertemuan ini akan membahas isu-isu strategis seperti program rudal Iran, milisi yang terkait dengan Republik Islam, serta jaminan keamanan bagi negara tersebut.

Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, mengungkapkan hal ini dalam wawancara dengan harian Italia Corriere della Sera pada Rabu (25/3). Menurut Grossi, pertemuan kali ini akan lebih luas dibandingkan perundingan sebelumnya.

“Kali ini, pembicaraan juga akan mencakup soal rudal, milisi yang terkait dengan Republik Islam, dan jaminan keamanan bagi Iran,” kata Grossi.

Ia menyebut kemungkinan adanya solusi sementara yang bisa disepakati, meski tidak harus bersifat militer. Grossi menjelaskan ada rencana diplomatik alternatif yang memungkinkan dua pendekatan sekaligus: pertama, penghentian sementara pengayaan uranium karena kondisi politik, militer, dan kepercayaan yang belum memungkinkan; kedua, isu tersebut akan dikaji kembali dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang.

Eskalasi Berdarah Sejak 28 Februari

Dialog ini muncul di tengah eskalasi dahsyat yang telah berlangsung sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran. Serangan itu dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Iran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta wilayah-wilayah di Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Serangan balasan itu menelan korban jiwa, menyebabkan kerusakan infrastruktur, serta menimbulkan gangguan signifikan pada pasar global dan penerbangan internasional.

Trump Perintahkan Penundaan Serangan Lima Hari

Di tengah meningkatnya ketegangan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (23/3) mengatakan bahwa dirinya telah memerintahkan penundaan selama lima hari untuk semua serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran.

Keputusan itu diambil Trump dengan alasan bahwa pihaknya telah melakukan pembicaraan yang “sangat baik dan produktif” dengan Teheran selama dua hari terakhir mengenai penyelesaian lengkap dan total permusuhan di Timur Tengah, sebagaimana disampaikan Trump di platform media sosialnya, Truth Social.

Trump menambahkan bahwa berdasarkan “nada dan isi percakapan yang mendalam, terperinci, dan konstruktif ini, yang akan berlanjut sepanjang minggu,” dirinya telah menginstruksikan Departemen Pertahanan untuk menunda semua serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari, dengan catatan keberhasilan pertemuan dan diskusi yang sedang berlangsung.

Iran Bantah Sedang Berunding dengan AS

Meski demikian, Iran secara tegas menolak klaim Trump tentang adanya pembicaraan tersebut. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyebut bahwa sejumlah negara bersahabat baru-baru ini mengirimkan pesan kepada Iran yang menunjukkan keinginan AS untuk memulai pembicaraan guna mengakhiri perang. Namun, Iran masih belum memberikan tanggapan.

Baghaei menegaskan bahwa posisi Teheran terkait Selat Hormuz serta syarat-syarat mereka untuk mengakhiri perang tetap tidak berubah.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf pun membantah pihaknya sedang berunding dengan Amerika Serikat dan menyebut kabar tersebut sebagai “berita palsu” untuk memanipulasi pasar minyak dan finansial.

“Tidak ada negosiasi yang berjalan dengan Amerika Serikat. Laporan berita palsu tersebut dimaksudkan untuk memanipulasi pasar finansial dan minyak serta untuk melarikan diri dari kekacauan yang menjebak AS dan Israel,” kata Ghalibaf melalui media sosial X, Senin.

Ghalibaf menambahkan bahwa rakyat Iran menuntut hukuman yang “penuh dan menimbulkan penyesalan” bagi para agresor, sementara semua pejabat berdiri teguh mendukung pemimpin negara dan masyarakat hingga tujuan perang tercapai.

Ketegangan Selat Hormuz dan Dampak Global

Dewan Pertahanan Nasional Iran juga menyatakan bahwa setiap upaya oleh “musuh” untuk menargetkan pantai atau pulau-pulau Iran akan menyebabkan pemasangan ranjau di jalur akses dan jalur komunikasi di seluruh Teluk Persia.

Selat Hormuz sendiri telah terganggu secara efektif sejak awal Maret. Sekitar 20 juta barel minyak biasanya melewati jalur tersebut setiap hari, dan gangguan yang ditimbulkannya telah meningkatkan biaya pengiriman dan mendorong harga minyak global lebih tinggi.

Iran pun telah mengambil langkah untuk memastikan kapal transit yang tidak berafiliasi dengan AS atau Israel dapat melintasi selat tersebut. Semua kapal, kecuali kapal “musuh”, bisa melintasi Selat Hormuz asalkan berkoordinasi dengan Iran.

114 Situs Budaya Iran Rusak Akibat Serangan

Di tengah konflik yang berkecamuk, Kementerian Warisan Budaya Iran pada Selasa (24/3) menyatakan bahwa serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel merusak 114 situs budaya dan sejarah di seluruh Iran.

“Berdasarkan penilaian lapangan dan laporan ahli, sejauh ini 114 situs, termasuk Warisan Dunia, situs nasional, dan lokasi bersejarah, telah rusak,” kata kementerian tersebut dalam pernyataan resminya.

Situs yang terdampak mencakup 48 museum dan enam kawasan perkotaan bersejarah di Teheran, Isfahan, Sanandaj, Kermanshah, Qom, dan Khansar. Kerusakan tersebar luas secara geografis, dengan Teheran mencatat 60 kasus, Isfahan 20 kasus, serta provinsi lain seperti Lorestan, Kermanshah, Bushehr, Qom, Alborz, Azerbaijan Timur dan Barat, Mazandaran, Sistan-Baluchestan, Gilan, Ilam, Khuzestan, dan Fars.

Menurut kementerian itu, berdasarkan prinsip hukum internasional, khususnya Konvensi Den Haag 1954, penghancuran warisan budaya merupakan pelanggaran kewajiban internasional dan ancaman terhadap sejarah manusia. Iran mendesak organisasi internasional, terutama UNESCO, untuk berperan lebih aktif, efektif, dan preventif dalam melindungi warisan budaya yang terancam konflik.

Sembilan surat resmi telah dikirim melalui jalur diplomatik kepada berbagai lembaga internasional, termasuk UNESCO, Aliansi Warisan Budaya Asia, Dewan Museum Internasional, Dewan Monumen dan Situs Internasional, serta Organisasi Pariwisata Dunia.

“Warisan budaya Iran adalah amanah masa lalu bagi masa depan, dan perlindungannya merupakan kewajiban nasional sekaligus kemanusiaan,” demikian pernyataan kementerian tersebut.

China Serukan Penghentian Perang Menyeluruh

Di tengah situasi yang semakin memanas, Menteri Luar Negeri China Wang Yi berbicara dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melalui telepon pada Selasa (24/3) untuk mendorong penghentian perang secara menyeluruh.

“Menlu Araghchi menyampaikan Iran berkomitmen untuk mencapai penghentian perang secara menyeluruh, bukan sekadar gencatan senjata sementara,” demikian disebutkan dalam rilis tertulis di laman Kementerian Luar Negeri China.

Araghchi menjelaskan perkembangan terbaru situasi di kawasan serta mengucapkan terima kasih kepada China atas bantuan kemanusiaan darurat yang diberikan. Ia menyatakan bahwa rakyat Iran semakin bersatu dalam menghadapi tindakan agresi dari luar serta menjaga kedaulatan dan kemerdekaan negara.

Menlu Araghchi juga menegaskan bahwa Selat Hormuz terbuka bagi semua pihak, dan kapal-kapal dapat melintas dengan aman, tetapi hal tersebut tidak berlaku bagi negara-negara yang sedang terlibat dalam konflik.

“Saya berharap langkah-langkah yang diambil oleh semua pihak dapat membantu meredakan situasi, bukan justru memperburuk konflik. Saya juga berharap China dapat terus memainkan peran aktif dalam mendorong perdamaian dan menghentikan perang,” kata Araghchi.

Sementara itu, Wang Yi menegaskan kembali posisi prinsip China dengan menekankan bahwa semua ketegangan harus diselesaikan melalui dialog dan negosiasi, bukan dengan penggunaan kekuatan militer.

“Berunding selalu lebih baik daripada terus berperang. Hal ini sejalan dengan kepentingan negara dan rakyat Iran, serta mencerminkan harapan umum masyarakat internasional,” ungkap Wang Yi.

Wang Yi berharap semua pihak dapat memanfaatkan setiap peluang dan momentum untuk perdamaian, serta segera memulai proses perundingan. “China akan terus berpegang pada posisi yang objektif dan adil, menentang pelanggaran terhadap kedaulatan negara lain, secara aktif mendorong perdamaian dan penghentian konflik, serta berkomitmen menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan,” tambahnya.

Hana Zahra

Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *