My WordPress Blog
Budaya  

Biografi Ajoeba Wartabone: Kekuatan Arsip Sejarah

Pentingnya Arsip Sejarah dalam Memahami Perjalanan Bangsa

Arsip sejarah memiliki peran yang sangat penting dalam memahami perjalanan bangsa. Melalui dokumen, foto, dan catatan sejarah, kiprah tokoh-tokoh nasionalis dapat diungkap dan dipelajari. Buku biografi Ajoeba Wartabone karya Basri Amin menegaskan bahwa arsip menjadi bukti autentik yang menjaga memori kolektif dan relevan untuk pembelajaran generasi masa kini.

Pesan Bung Karno, “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah!” menggarisbawahi pentingnya arsip sejarah. Sejarah bukan hanya sekadar nostalgia atau romantisme, tetapi merupakan fondasi identitas bangsa yang tidak boleh diabaikan jika ingin maju dan menjadi bangsa yang besar. Arsip sebagai sumber sejarah primer yang autentik dan terpercaya menjadi bukti konkret, memori kolektif, dan bahan penelitian sejarah.

Dari Gorontalo untuk Indonesia

Dalam konteks inilah kehadiran buku Ajoeba Wartabone (1894-1957): Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja (2025) yang ditulis oleh Dr Basri Amin relevan untuk diketengahkan. Buku setebal lxi+435 halaman ini merupakan biografi gagasan dan kepemimpinan dari Gorontalo untuk Indonesia bersatu. HM Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI (2004-2009; 2014-2019), dalam komentarnya pada bagian back cover menyatakan bahwa buku ini membantu kita mengetahui lebih baik tentang praktik-praktik kepemimpinan nasional, meskipun lebih banyak dikerjakan di tingkat regional Sulawesi, bahkan di Gorontalo.

Apa yang sangat terbukti adalah bahwa kerja-kerja politik nasional di Indonesia sejak awal selalu berjalan sejajar dengan tugas-tugas pemerdekaan bangsa dari kungkungan kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, dan penjajahan.

Penelitian yang Telaten dan Penuh Dedikasi

Buku ini harus diakui dikerjakan dengan telaten dan penuh dedikasi. Ini bisa dicermati dari bagaimana penulis menelusuri arsip sejarah terkait Ajoeba Wartabone seorang tokoh intelektual, jurnalis-pejuang, politikus, dan anggota dewan di masa NIT (Negara Indonesia Timur). Daftar hadir dan posisi duduk Ajoeba Wartabone dalam Konferensi Denpasar, Desember 1946, yang kelak jadi cikal bakal lahirnya NIT bikinan Lt Gubernur Jenderal van Mook, pun tak luput ditampilkan. Nomor kamar Ajoeba Wartabone di Hotel Bali juga terlacak dokumentasinya.

Ajoeba Wartabone lahir di Gorontalo, 11 Juni 1894, dari pasangan Zakaria Wartabone-Tolangohula Kaluku. Menurut kesaksian Tutty Wartabone Gobel (hal ix-xi), salah seorang anggota keluarganya-begitu disegani komunitas Minahasa, Arab, Cina, dan orang-orang politik di masa itu. Sehari-hari orang banyak memanggilnya sebagai Ka De (Kepala Daerah). Karena, waktu itu, ia memang merupakan Kepala Daerah Sulawesi Utara (1949-1950).

Peran yang Signifikan dalam Parlemen NIT

Kiprah, sepak terjang, dan kontribusi Ajoeba Wartabone melewati batas daerah, tak cuma di Gorontalo, dan Sulawesi Utara, tetapi Indonesia Timur, yang mencakup Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, dan Maluku. Perannya sebagai anggota Parlemen NIT begitu signifikan. Ia tergabung dalam Fraksi Progresif, yang jelas garis perjuangannya. Ajoeba adalah definisi dari nasionalis-republikein tulen.

Bukti-bukti tentang apa yang jadi visi dan fokus Ajoeba Wartabone dihadirkan dalam buku ini. Misalnya, Seruan Ajoeba Wartabone “pro Republik” di Parlemen NIT (Negara Indonesia Timur) di Makassar: “Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja sekali merdeka tetap merdeka” yang bersumber dari arsip Republik Indonesia, Provinsi Sulawesi, Kementerian Penerangan, April 1953.

Foto-Foto dan Dokumen Penting

Sejumlah foto terkait NIT dari Nationaal Archief di Den Haag, Belanda, dan Arsip Nasional RI, juga menjadi bagian penting dari buku ini. Beberapa foto yang ditampilkan memperlihatkan Ajoeba Wartabone bersama rombongan Goodwill Missie NIT diterima secara resmi oleh Presiden RI, Ir Soekarno, dan Wakil Presiden Muhammad Hatta, di Istana Negara, di Yogyakarta (18 Februari 1948). Dalam pertemuan penting itu, hadir menteri-menteri, anggota Badan Pekerja KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat), petinggi sipil, dan perwira-perwira tinggi Angkatan Perang, antara lain Jenderal Urip Sumoharjo, Komodor Suryadarma, Laksamana Muda Pardi, dan Mayor Jenderal Purbonegoro.

Foto-foto lain, berbicara tentang misi diplomasi Parlemen NIT di mana Ajoeba Wartabone dan rombongan bertemu dengan sejumlah tokoh nasional, seperti Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Ki Hadjar Dewantara, dan lain-lain. Kunjungan Goodwill Missie di beberapa kota di Jawa ini mendapat publikasi luas media massa, kala itu. Harian pagi Nasional, edisi 19 Februari 1948, di halaman utamanya menuliskan optimismenya bahwa kolonialisme dan imperialisme akan berakhir.

Pembelajaran Sejarah

Buku Ajoeba Wartabone (1894-1957): Sekali ke Djokja Tetap ke Djokja, memberikan pembelajaran bahwa dengan dan melalui arsip sejarah, kita bisa melihat gagasan, visi, dan kepemimpinan seseorang, yang menjadi legacy-nya. Arsip-arsip itu bisa terjaga baik karena ada peran keluarga, negara, dan kaum cendekia (peneliti, arsiparis, penulis). Arsip-arsip tersebut tak hanya berhenti sebagai tumpukan dokumen di ruang sunyi, tetapi dibunyikan, disuarakan, dan dinarasikan kembali untuk edukasi dan literasi.

Buku dan arsip sejarah terkait Ajoeba Wartabone masih sangat mungkin dikemas lagi secara kreatif, dialih-wahanakan menjadi film dokumenter, komik, animasi, novel, dan atau konten serial dalam format digital. Apalagi bila kisah hidupnya dihubungkan dengan keluarga besarnya yang memiliki ketokohan, tentu akan sangat menarik.




Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *