Puasa Syawal: Waktu Terbaik dan Tata Cara Pelaksanaannya
Setelah merayakan Idul Fitri 1447 Hijriah, umat Muslim kini dianjurkan untuk melanjutkan amalan sunnah yang memiliki keutamaan luar biasa, yaitu puasa enam hari di bulan Syawal. Puasa Syawal bukan sekadar ibadah tambahan, tetapi memiliki pahala yang setara dengan berpuasa selama satu tahun penuh.
Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka pahalanya setara dengan berpuasa setahun penuh. Namun, kapankah waktu terbaik untuk memulainya?
Jadwal Terbaik Menurut Mazhab Imam Syafi’i
Menurut mazhab Imam Syafi’i, yang mayoritas dianut masyarakat Indonesia, puasa Syawal sangat dikukuhkan untuk dikerjakan segera setelah hari raya, yakni mulai tanggal 2 Syawal (Minggu, 22 Maret 2026) secara berurutan selama enam hari hingga tanggal 7 Syawal.
Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah, Prof. Yahya Zainul Ma’arif atau yang akrab disapa Buya Yahya, menjelaskan bahwa dalam mazhab Imam Syafi’i, puasa 6 Syawal disunnahkan secara berurutan dari tanggal 2 hingga tanggal 6.
- “Penjelasan dari Faatbaahu Sittan, puasa 6 Syawal itu disunnahkan, menurut Imam Syafi’i disunnahkan di atas sunnah sangat dikukuhkan, jika ditanggal ke-2 berurutan sampai tanggal ke-6. Itu dalam mazhab Imam Syafi’i radhiallahu ‘anhu,” kata Buya Yahya.
Namun, bagi pengikut mazhab Imam Syafi’i, boleh mengerjakan puasa sunnah Syawal kapan saja selagi masih dalam bulan Syawal. Akan tetapi, mengerjakan langsung setelah tanggal 1 Syawal merupakan sunnah di atas sunnah.
- “Menurut apa yang saya ketahui, menurut Imam Syafi’i dijelaskan, setelah hari raya, lebaran sehari, kemudian puasa lagi,” terangnya.
- “Kalaupun kita orang Mazhab Imam Syafi’i, pengen puasanya nanti setelah tanggal 7 saja deh, boleh ga masalah dan tidak dikatakan tidak sunnah dalam Mazhab Syafi’i,” pungkasnya.
Bolehkah Tidak Dikerjakan Secara Berurutan?
Menurut mazhab Imam Syafi’i, puasa Syawal tidak harus dilakukan berturut-turut selama 6 hari. Namun, ada sebagian ulama yang memakruhkan jika puasa Syawal langsung dikerjakan setelah tanggal 1 Syawal.
- “Sebagian ulama itu langsung, jangan tanggal 2 deh nanti aja ada akhir-akhir di belakang. Khawatir nanti dipikir orang wajib, sehingga memberatkan orang,” kata Buya Yahya.
Niat Puasa Syawal dan Ketentuannya
Ada sedikit perbedaan niat puasa sunnah Syawal dengan puasa Ramadhan. Niat puasa sunnah tidak harus dipanjatkan pada malam hari. Pasalnya, kewajiban niat di malam hari hanya berlaku untuk puasa wajib.
Untuk puasa sunnah, niat boleh dilakukan di siang hari sejauh yang bersangkutan belum makan, minum, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa sejak subuh.
Bagi yang baru berniat puasa Syawal pada siang hari, dianjurkan untuk melafalkan niat puasa Syawal di siang hari. Berikut bacaan niat puasa Syawal di siang hari:
ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺻَﻮْﻡَ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟﻴَﻮْﻡِ ﻋَﻦْ ﺃَﺩَﺍﺀِ ﺳُﻨَّﺔِ ﺍﻟﺸَّﻮَّﺍﻝِ ﻟِﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ
Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ.
Artinya, “Aku berniat puasa sunah Syawwal hari ini karena Allah SWT.”
Sementara bagi yang sudah berniat puasa Syawal pada malam hari untuk keesokan harinya, bisa menggunakan niat puasa yang biasa dilafazkan sebagai berikut:
ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺻَﻮْﻡَ ﻏَﺪٍ ﻋَﻦْ ﺃَﺩَﺍﺀِ ﺳُﻨَّﺔِ ﺍﻟﺸَّﻮَّﺍﻝِ ﻟِﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ
Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhita‘âlâ.
Artinya, “Aku berniat puasa sunah Syawal esok hari karena Allah SWT.”
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.











