Kehidupan dan Perjalanan Karier Umar Shihab
Umar Shihab, yang dikenal sebagai Dewan Pembina Yayasan Badan Waqaf Universitas Muslim Indonesia (UMI), wafat di Jakarta pada Jumat (20/3/2026) malam. Ia dimakamkan di TPBU Yayasan Mohdar, Tapos-Depok, Jawa Barat, Sabtu (21/3/2026) setelah Salat Idul Fitri 1447 H. Dalam suasana haru, Quraish Shihab sempat menyampaikan refleksi tentang kematian kepada Lukman, yang menggambarkan kedekatan dan duka mendalam keluarga.
Keluarga dan Latar Belakang
AGH Prof Dr Umar Shihab MA (1939-2026) lahir dari pasangan ulama khas Arab-Bugis Abdurrahman Shihab (1915-1987) dan bangsawan Bugis Rappang, Asma Aburisy (1917-1993). Dari total 13 saudara sekandung, Umar adalah anak ketiga. Tiga adik kandungnya, M Quraish Shihab (82), M Alwi Shihab (80), dan Dr Ahmad Nizar Shihab (75), terlihat di antara kerabat dan pelayat.
Menteri Agama RI (2014-2019) Lukman Hakim Syaifuddin (64) juga hadir dalam pemakaman. Bersama Umar, Lukman duduk di komisi VIII (Agama dan Kesra) DPR-RI periode 1997-1999. Lukman bercerita bahwa saat berjalan di sisi kanan mendampingi Quraish shihab yang duduk bergerak di atas kursi roda elektrik, selepas shalat jenazah menuju liang lahat kakak kandungnya, Abi Quraish berkata lirih kepadaku: “Pak Lukman, sekarang kita ini sedang menunggu giliran”.
Pendidikan dan Peran dalam Dunia Islam
Setelah kelahiran Alwi Shihab dan kemerdekaan Indonesia, 1946, keluarga ini migrasi ke Makassar. Setelah tinggal jadi pendidik selama 10 tahun di Sidenreng Rappang, Abdurrahman dan istrinya Asma Aburisy lalu tinggal di JL Sulawesi Lorong 194/7, Kelurahan Butung, Kampung Buton, sekitar Pasar Boetoeng, tak jauh dari Pelabuhan Makassar.
Saat itulah, ayah Umar aktif merintis dakwah dan pendidikan Islam dan merintis pendidikan Islam di Masjid Raya, Makassar bersama Hadji Kalla, mendiang ayah M Jusuf Kalla.
Karier Politik dan Dakwah
Umar adalah mantan anggota DPR RI Fraksi Golkar asal Sulsel (1992-1999). Dia dikenang sebagai sosok politisi yang “tak banyak mengobral bicara di komisi bidang agama itu.” Namun, setiap kali berbicara, tak hanya para menteri dan jajaran eksekutifnya yang langsung diam terkesima. Kami pun sesama anggota legislatif dibuat hening karena ingin menyimak buah pikirannya. Wibawa Beliau mengagumkan.
Konsistensi pandangan alumnus Universitas Al-Azhar(1968) ini terus berlanjut dalam ceramah, seminar, artikel dan karya tulisannya, termasuk Beda Mazhab Satu Islam (2017), dan Kapita Selekta Mozaik Islam (2015), Kontekstualisasi Alquran, (2009), Alquran dan Kekenyalan Hukum (2015).
Pembelaan terhadap Mazhab Syiah
Saat menjabat Ketua MUI (1998-2015), Umar termasuk salah satu pembela Mazhab Syiah. Dia meyakini, Syiah bukan golongan umat yang layak dihujat karena memiliki dasar teologi sejarah yang kuat, dan bagian dari Rahmatan Lil Alamin.
Dalam sebuah diskusi Sunni – Syiah di kantor MUI di Jakarta, awal tahun 2012 silam, alumnus Universitas Al Azhar Mesir ini, menegaskan sikapnya. “Yang mau anti Syiah silahkan, yang mengatakan Syiah sesat silahkan. Itu pilihan masing-masing. Tapi menurut saya Syiah tidak sesat,” tandasnya seperti dilansir Eramuslim.com, di Kantor MUI, Senin (20/1/2012).
Peran dalam Dunia Pendidikan
Umar sempat kembali ke Makassar untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin, Makassar dan diikuti dua adiknya, Quraish dan Alwi. Ayah Umar, sempat menjadi Rektor Institut Agama Islam Negeri Alauddin Ujung Pandang ke-3 antara tahun 1973–1979, menggantikan KH Muhyiddin Zain, mendiang ayah Prof Dr Majdah M Zain, mantan Rektor UIM Makassar.
Kehidupan Pribadi dan Anak-Anak
Tahun 1969, dia menikah dengan Syarifah Khadijah Aisyah S Mengga, putri Bupati Polmas Sayyid S Mengga (1926-2007). Kini salah satu anaknya, Ari Ikkhtifar Shihab, menjadi anggota DPRD Sulbar. Umar adalah kakak ipar dari dia mantan Wakil Gubernur Sulawesi Barat, Mayjen TNI Salim S Mengga (1948-2026) dan Aladin S Mengga.
Peringatan dan Warisan
Sebagaimana dilaporkan Kantor Berita ABNA, dalam kunjungannya ke Iran atas undangan Forum Pendekatan Mazhab Islam, Umar Shihab beserta beberapa anggota rombongan menyempatkan mengadakan tatap muka dan pertemuan dengan pelajar Indonesia yang sedang menuntut ilmu di kota suci Qom, Iran.
Rombongan MUI terdiri dari ketua pusat, beberapa ketua harian dan ketua komisi, namun beberapa dari rombongan telah bertolak ke tanah air sehingga tidak sempat mengikuti pertemuan dengan para pelajar Indonesia tersebut.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











