Peristiwa Kematian Awak Pesawat Angkatan Udara AS di Irak Barat
Pada hari Kamis (12/3/2026), enam awak pesawat pengisian bahan bakar Angkatan Udara AS tewas setelah diduga ditembak jatuh oleh sekutu Iran di Irak Barat. Insiden ini terjadi dalam konteks ketegangan yang meningkat antara Amerika Serikat dan Iran, yang semakin memperburuk situasi keamanan di kawasan tersebut.
Izin untuk Kapal LPG India Melintasi Selat Hormuz
Dalam perkembangan terkini, Iran mengizinkan dua kapal pengangkut gas minyak cair (LPG) berbendera India untuk melintasi Selat Hormuz. Langkah ini dilakukan setelah percakapan telepon antara Perdana Menteri Narendra Modi dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang merupakan pertemuan pertama mereka sejak dimulainya konflik Iran-AS.
Modi menyampaikan bahwa ia telah membahas “keselamatan dan keamanan warga negara India” serta “kebutuhan akan kelancaran arus barang dan energi” dengan Pezeshkian. Ia menekankan bahwa masalah ini menjadi prioritas utama bagi pemerintah India.
Sebelumnya, duta besar Iran Mohammad Fathali mengindikasikan bahwa kapal-kapal India akan diberikan izin untuk melewati Selat Hormuz dengan aman. Jalur pelayaran ini sangat penting karena mengangkut hampir 50 persen impor minyak India. Fathali juga menyatakan bahwa Iran dan India memiliki kepentingan bersama dan nasib yang sama.
Peningkatan Tensi di Wilayah Timur Tengah
Selain itu, orang-orang yang mengetahui masalah ini mengatakan bahwa pihak India terus berhubungan dengan Iran terkait jalur aman bagi sekitar dua lusin kapal berbendera India yang saat ini berada di sebelah barat Selat Hormuz.
Dalam perkembangan terpisah, sebuah kapal tanker minyak mentah diperkirakan akan tiba di India pada hari Sabtu, membawa minyak Arab Saudi setelah berlayar melalui selat tersebut.
Serangan Rudal terhadap Pesawat Angkatan Udara AS
Peristiwa kematian awak pesawat Angkatan Udara AS terkonfirmasi lewat pernyataan Komando Pusat AS (CENTCOM) dalam sebuah unggahan di platform media sosial X pada Jumat (13/3/2026). CENTCOM mengklaim bahwa jatuhnya pesawat bukan karena tembakan musuh atau tembakan dari pihak sendiri.
Namun, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran pada Kamis malam menyatakan bahwa pesawat tersebut menjadi sasaran dan terkena rudal yang ditembakkan Front Perlawanan di Irak Barat. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan bahwa pesawat tersebut dicegat dan dihancurkan saat sedang melakukan misi pengisian bahan bakar untuk sebuah pesawat tempur.
Front Perlawanan di Irak mengklaim bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Mereka menyatakan bahwa mereka telah menembak jatuh pesawat pengisian bahan bakar udara KC-135 milik Angkatan Udara AS. Mereka tidak menjelaskan secara rinci bagaimana pesawat itu ditembak jatuh, hanya menyatakan bahwa senjata yang digunakan sesuai dengan yang biasa mereka gunakan.
Kejadian Tambahan di Israel
Berdasarkan laporan awak dari pesawat yang mendarat darurat di Israel dalam kondisi selamat. Front Perlawanan di Irak mengklaim telah menyerang pesawat Angkatan Udara AS tersebut. Mereka menyatakan bahwa insiden ini juga terjadi di wilayah barat Iran.
Insiden tersebut menambah jumlah tentara AS yang tewas, menurut data Pentagon, prajurit yang tewas menjadi setidaknya 13 orang sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Sejak saat itu, kelompok-kelompok perlawanan Irak telah melakukan serangan terhadap aset-aset AS di Irak dan di seluruh wilayah tersebut.











