Malam Lailatul Qadar menjadi salah satu momen penting dalam kehidupan spiritual umat Islam. Dalam Alquran, malam ini disebut sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ayat 3 dari Surah Al-Qadr menjelaskan bahwa amal kebaikan yang dilakukan pada malam tersebut memiliki nilai yang jauh lebih besar dibandingkan dengan amal yang dilakukan selama seribu bulan tanpa mengalami Lailatul Qadar.
Dari perspektif spiritual, pesan Lailatul Qadar menekankan bahwa kualitas waktu lebih penting daripada kuantitasnya. Di era teknologi modern, manusia hidup dalam dunia yang terus bergerak tanpa henti. Internet, media sosial, dan perangkat pintar membuat manusia terus terhubung selama 24 jam. Informasi bergerak cepat, pekerjaan semakin kompleks, dan kehidupan sering kali terasa padat. Namun, di balik kecepatan itu, banyak orang merasakan kelelahan mental dan kehilangan ketenangan batin.
Cendekiawan Muslim Indonesia, Prof M Quraish Shihab, menjelaskan bahwa kemuliaan Lailatul Qadar adalah sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dipahami akal manusia. Nilai spiritual malam tersebut melampaui ukuran logika dan perhitungan manusia. Jika diibaratkan dengan dunia teknologi, bahkan superkomputer sekalipun tidak akan mampu mengukur keberkahan malam tersebut secara matematis. Di sinilah Lailatul Qadar menjadi semacam “jeda spiritual” bagi manusia modern.
Ketika dunia digital terus bergerak tanpa henti, malam ini mengajak manusia berhenti sejenak, menundukkan hati, dan kembali kepada Tuhan. Dalam keheningan doa dan ibadah, manusia menemukan sesuatu yang tak pernah bisa diberikan teknologi: kedamaian jiwa. Refleksi tentang hubungan antara teknologi dan spiritualitas juga menjadi perhatian dalam dunia pendidikan teknologi informasi.
Di Program Studi Informatika Universitas BSI Kampus Pontianak, mahasiswa tidak hanya belajar tentang pemrograman, jaringan komputer, atau kecerdasan buatan. Kurikulum yang diajarkan menanamkan nilai-nilai etika, tanggung jawab, dan kesadaran bahwa teknologi harus digunakan untuk kebaikan umat manusia. Mata kuliah seperti Artificial Intelligence, Internet of Things, Rekayasa Perangkat Lunak, hingga Etika Profesi di Bidang Teknologi Informasi menjadi bagian penting dalam membentuk generasi teknologi yang tidak hanya cerdas secara teknis, juga memiliki kesadaran moral.
Dalam konteks ini, nilai-nilai spiritual seperti yang diajarkan dalam Ramadhan—termasuk makna Lailatul Qadar—dapat menjadi landasan penting bagi mahasiswa untuk memahami bahwa teknologi seharusnya memperkuat nilai kemanusiaan, bukan justru menjauhkan manusia dari makna hidup. Para mahasiswa informatika pada akhirnya akan menjadi arsitek masa depan dunia digital. Mereka akan merancang sistem, algoritma, dan teknologi yang mungkin akan digunakan oleh jutaan orang.
Karena itu, pemahaman tentang nilai spiritual dan etika menjadi sangat penting agar teknologi berkembang sejalan dengan nilai kemanusiaan dan moralitas. Lailatul Qadar memberikan pelajaran yang sangat dalam bagi generasi teknologi: bahwa tidak semua hal dalam hidup dapat diukur dengan angka, data, atau algoritma. Ada nilai-nilai yang hanya dapat dirasakan hati yang tenang dan jiwa yang berserah kepada Tuhan.
Di tengah dunia yang semakin digital, mungkin justru malam seperti Lailatul Qadar yang paling dibutuhkan manusia modern. Sebuah malam yang mengingatkan bahwa di balik kecanggihan teknologi, manusia tetaplah makhluk spiritual yang membutuhkan doa, harapan, dan kedekatan dengan Sang Pencipta. Karena pada akhirnya, teknologi boleh terus berkembang, tetapi cahaya spiritual dalam diri manusia tetap menjadi kompas yang menuntun arah peradaban.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”











