My WordPress Blog

Seni Memahami Pesan Teks untuk Menghindari Baper dalam Komunikasi atau PDKT

Peran Komunikasi dalam Kehidupan Manusia

Manusia merupakan makhluk sosial yang keberadaannya sangat bergantung pada interaksi dan komunikasi. Apabila faktor komunikasi ini terputus, maka dampaknya bisa dirasakan secara langsung, yaitu kegagalan menjalani fungsi sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu, berkomunikasi sendiri merupakan seni yang harus diperhatikan.

Di tengah kemajuan teknologi, komunikasi tidak lagi sebatas pada percakapan antar dua atau lebih orang dalam pertemuan langsung semata, namun telah berevolusi dengan berbagai bentuknya. Salah satunya adalah melalui teks secara real time. Dulu, pendekatan dengan seseorang seperti Jono harus memulai percakapan atau lewat surat yang sering tertunda karena situasi tertentu. Namun, berkat perkembangan internet, PDKT (pendekatan kekasih) kini lebih mudah dan cepat tanpa hambatan ruang dan waktu.

Mereka yang sedang LDR (pacaran jarak jauh) tidak perlu lagi menunggu surat cinta dari pasangan, karena isi hati bisa sampai dalam hitungan detik. Saking mudahnya, cara penyampaian isi hati pun tidak hanya melalui pesan teks, tetapi juga bisa berubah menjadi pesan suara, video, atau bahkan cuplikan konten terkini.

Fenomena model PDKT atau interaksi romantis melalui pesan chat, baik itu melalui WhatsApp maupun direct message, kini sangat umum di sekitar kita. Selain memberikan jeda waktu berpikir, mengirimkan pesan teks juga memberikan ruang untuk membaca atau menganalisa respons dari target.

Namun, pesan teks juga digunakan oleh para marketing pinjol, judi slot, atau penipu. Contohnya, “Butuh dana darurat? Rupiah lambat kasih pinjaman tanpa jaminan sampai 100 juta. Klaim kupon gratis. Cek limit www.wwwww”. Hal ini bahkan ampuh menggaet peminjam, terutama jika dipertemukan dengan target nasabah yang baru saja mengalami kekalahan dalam judi slot.

Meskipun demikian, interaksi melalui pesan teks memiliki beberapa hambatan. Salah satunya adalah proses penangkapan pesan lewat aspek emosi dan gesture tubuh yang biasanya bisa dilakukan saat komunikasi tatap muka. Bahkan jika pesan online dibekali emoticon yang menggambarkan perasaan, hal tersebut tidak sepenuhnya bisa menggantikan interaksi langsung.

Memahami Pesan Teks, Agar Tidak Baper dalam Berkomunikasi

Penambahan emoticon mungkin sedikit banyak membantu dalam proses penyempurnaan pesan, akan tetapi komunikasi langsung memiliki kedalaman psikologis dan biologis yang tidak bisa direplikasikan sepenuhnya oleh teknologi digital. Meski chatting menawarkan efisiensi, interaksi tatap muka melibatkan seluruh sistem sensorik yang lebih kompleks.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sherman, L.E., et al (2013) berjudul The power of the next generation: Adolescent communication and the bonds of friendship, mengungkapkan bahwa teknologi merupakan alat hebat untuk menjaga hubungan, tetapi tidak semua interaksi digital mampu menciptakan kesetaraan seperti interaksi langsung.

Semakin manusiawi medianya, semakin kuat ikatan yang dirasakan. Hal ini disebabkan karena banyak isyarat manusiawi yang hilang seperti nada bicara, kontak mata, atau sentuhan. Hal ini menjadi sebab tidak maksimalnya ikatan emosional yang mendalam seperti komunikasi tatap muka.

Penelitian tersebut juga menyebutkan adanya hierarki komunikasi dalam interaksi digital, di antaranya video chat dan panggilan telepon memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik dibandingkan hanya sekadar pesan teks.

Effort To Value Ratio

Dalam jurnal komunikasi digital, terdapat konsep investasi sosial. Jika lawan bicara hanya membalas singkat “hahaha” sedangkan Anda panjang lebar mengetik pesan, bisa jadi secara algoritma perilaku lawan bicara Anda sedang melakukan minimal effort response. Hal ini disebabkan ketimpangan dalam proses penginputan komunikasi melalui teks.

Ini juga menjadi indikasi bahwa subjek lawan bicara sedang mengalami kelelahan kognitif atau kehilangan minat. Ini bisa berlaku untuk komunikasi tatap muka, di mana jika seseorang mulai menanggapi singkat, sementara lawan bicara banyak mengeluarkan kalimat, bisa jadi ada indikasi ketimpangan respons.

Dari perspektif psikologi, khususnya studi tentang Phatic Communication (komunikasi yang bertujuan menjaga hubungan sosial daripada menyampaikan informasi), seringkali “hahaha” adalah cara sopan untuk mengakhiri pembicaraan tanpa terlihat kasar. Secara psikologis, ini disebut strategi negative politeness untuk menghindari kondisi terbebani dalam merespons atau menjawab sebuah pertanyaan atau pernyataan yang dianggap kompleks.

Lawan bicara memberikan pesan bahwa pesan Anda menarik, lucu, atau dapat diterima, tetapi ia tidak perlu merasa berkontribusi lebih jauh dengan narasi tersebut. Dari situ, kita bisa simpulkan bahwa jika seseorang hanya membalas “hahaha” atau “wkwkwk” setelah Anda melemparkan pernyataan untuk memulai percakapan, dan ini terjadi secara berulang, bisa jadi indikasi bahwa lawan bicara tidak berminat membangun jembatan komunikasi lebih jauh.

Pentingnya Analisis Respons dalam Komunikasi Digital

Dengan dunia yang semakin canggih, efisiensi waktu sangat dibutuhkan, sehingga komunikasi melalui pesan singkat seperti WhatsApp atau apa pun itu merupakan salah satu jembatan dalam komunikasi. Namun, penting untuk mulai menelaah respons dalam komunikasi agar tidak terjadi miskomunikasi.

Hal ini juga berlaku tidak hanya dalam hubungan romantis, tetapi juga dalam pola komunikasi organisasi pemerintahan atau swasta. Dengan mulai melakukan analisis respons komunikasi, diharapkan tidak ada lagi miss komunikasi yang merugikan organisasi maupun individu.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *