BALIKPAPAN — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) sedang mempersiapkan kebijakan yang berpotensi mengubah wajah bisnis ekstraktif di wilayah tersebut. Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud meminta seluruh perusahaan pertambangan, kehutanan, dan perkebunan untuk menempatkan kantor operasional mereka di Kalimantan Timur.
“Saya minta semua perusahaan pertambangan, kehutanan, dan perkebunan semuanya berkantor di Kaltim,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (3/3/2026). Instruksi ini disampaikan di hadapan jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang dipimpin oleh Sekretaris Daerah Sri Wahyuni, serta disaksikan oleh Ketua Tim Ahli Gubernur Irianto Lambrie, Senin (2/3/2026).
Keputusan ini muncul dari kekhawatiran terhadap anomali yang selama ini terjadi. Banyak perusahaan besar yang mengeksploitasi sumber daya alam Kaltim, tetapi aktivitas administratif dan keuangan mereka justru berpusat di Jakarta atau kota-kota besar lainnya.
Strategi Transformasi Ekonomi Kaltim
Langkah ini merupakan bagian dari strategi transformasi ekonomi Kaltim. Rudy mengingatkan bahwa pembangunan ke depan akan sangat bergantung pada pendapatan asli daerah (PAD), sementara ketergantungan pada transfer ke daerah (TKD) harus segera dikurangi. “Kita harus segera beradaptasi dan bertransformasi,” ujarnya.
Namun, kebijakan wajib berkantor ini bukan sekadar soal relokasi geografis. Orang nomor satu di Benua Etam itu merancang skema yang lebih komprehensif dengan melibatkan badan usaha milik daerah (BUMD) dalam ekosistem bisnis perusahaan ekstraktif tersebut.
Kerja Sama dengan BUMD
Kajian regulasi sedang disiapkan untuk mewajibkan perusahaan tambang menjalin kerja sama dengan BUMD Kaltim. Contohnya, Bank Kaltimtara dapat digunakan untuk sistem pembayaran gaji karyawan, sementara PT Bara Kaltim Sejahtera (BKS) untuk aktivitas bisnis pertambangan.
Selain itu, pemerintah provinsi juga menyiapkan berbagai insentif sebagai pemanis. Reformasi birokrasi dijanjikan melalui penyederhanaan proses perizinan hingga relaksasi biaya-biaya pendirian perusahaan. Dengan menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif, diharapkan perusahaan tidak merasa terbebani dengan kewajiban berkantor di Kaltim.
Percepatan Investasi dan Optimalisasi Pajak
Rudy juga mendorong percepatan investasi melalui pemetaan ulang potensi di sektor-sektor unggulan. Investasi yang tumbuh, menurutnya, akan secara langsung mendongkrak pendapatan daerah.
Sebagai konsekuensi logis dari kebijakan berkantor lokal, pemerintah provinsi mengantisipasi peningkatan signifikan pada berbagai pos penerimaan pajak daerah. Badan Pendapatan Daerah dituntut bekerja lebih optimal dengan koordinasi lintas instansi, termasuk pemerintah kabupaten dan kota.
Beberapa sektor pajak yang menjadi sasaran optimalisasi antara lain pajak kendaraan bermotor (PKB), pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB), hingga pajak air permukaan (PAP).
Penyesuaian Pajak dan Pendataan Aset
Terkait PAP, Rudy menyoroti kesenjangan dengan daerah lain, seperti Pemerintah Provinsi Sumatra Barat yang meraup Rp150 miliar dari lahan perkebunan seluas 270.000 hektare. “Sedangkan PAP Kaltim hanya Rp15 miliar,” ungkapnya.
Selanjutnya, penguatan pendataan alat berat di perusahaan tambang, perkebunan, dan kehutanan juga menjadi prioritas. Dengan perusahaan berkantor di Kaltim, pendataan aset dan operasional akan jauh lebih mudah dilakukan. Hal ini berkorelasi langsung dengan konsumsi bahan bakar yang pada gilirannya meningkatkan penerimaan PBBKB.
Untuk PKB, berbagai terobosan dan inovasi tengah disiapkan, termasuk relaksasi pajak dan penghapusan denda. Pendekatan insentif ini diharapkan dapat mendorong kepatuhan sekaligus memperluas basis pajak.
Validasi Data dan Target Pendapatan
Adapun, dia menginstruksikan validasi menyeluruh dengan menggunakan data historis sebagai barometer untuk memastikan target pendapatan realistis dan terukur. “Validasi harus dilakukan hingga kesesuaian dengan kondisi di lapangan. Mencermati berbagai potensi pajak yang belum tersentuh,” pungkasnya.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











