Sejarah dan Peran Masjid Agung Al-Fathu Soreang
Masjid Agung Al-Fathu Soreang, yang berdiri sejak tahun 1985, menjadi simbol penting dalam perpindahan pusat pemerintahan Kabupaten Bandung dari wilayah Baleendah yang rawan banjir. Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini kini menjadi pusat aktivitas religi dan ekonomi masyarakat, terutama selama bulan Ramadan 1447 H.
Perpindahan ibu kota Kabupaten Bandung ke wilayah Soreang pada pertengahan tahun 1980-an tidak hanya mengubah struktur administratif, tetapi juga membawa perubahan dalam bentuk arsitektur dan budaya. Di balik momen tersebut, bangunan Masjid Agung Al-Fathu menjadi salah satu penanda utama perpindahan itu. Awalnya, Kecamatan Baleendah direncanakan sebagai ibu kota Kabupaten Bandung, namun rencana ini dibatalkan karena seringnya terjadi banjir di wilayah tersebut.
Karena kondisi wilayah Baleendah yang tidak memungkinkan, pemerintah akhirnya menetapkan Kecamatan Soreang sebagai ibu kota baru, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1986. Dalam proses perpindahan ini, pembangunan Masjid Agung Al-Fathu dimulai pada tahun 1985. Masjid ini dirancang untuk mendampingi momentum perpindahan pusat pemerintahan.
Menurut Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Agung Al-Fathu, Agus Qustholany, pembangunan masjid terinspirasi dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Ia menjelaskan bahwa perpindahan ibu kota Kabupaten Bandung ke Soreang dimaknai sebagai sebuah hijrah, sehingga keberadaan masjid menjadi simbol penguat spiritual di tengah perubahan administratif.
“Secara prinsip ini mengadaptasi peristiwa hijrah, seperti perpindahan dari Mekkah ke Madinah. Awalnya ibu kota itu di Baleendah, lalu pindah ke Soreang,” ujarnya saat ditemui di Masjid Agung Al-Fathu pada Kamis (26/2/2026).
Perkembangan Kawasan Sekitar Masjid
Setelah beberapa dekade, kawasan sekitar Masjid Agung Al-Fathu telah berkembang menjadi ruang aktivitas masyarakat. Di sisi samping masjid, terdapat deretan pedagang UMKM yang berdiri rapi. Seperti saat ini di bulan Ramadan, aneka makanan dan minuman dijajakan. Menjelang waktu berbuka, jemaah yang datang tidak hanya memadati area dalam masjid, tetapi juga untuk membeli takjil atau makanan.
Lingkungan sekitar masjid tampak bersih dan tertata. Aktivitas warga terlihat ramai namun tetap teratur. Tak jauh dari masjid, terdapat Lapangan Upakarti yang kerap digunakan masyarakat untuk berolahraga. Kehadiran masjid dan lapangan dalam satu kawasan membuat aktivitas jasmani dan rohani berjalan beriringan.
Renovasi dan Ciri Khas Arsitektur
Secara historis, bangunan Masjid Agung Al-Fathu sebenarnya sempat mengalami sejumlah perubahan hingga akhirnya seperti saat ini. Pada awal berdirinya, masjid ini belum memiliki kubah seperti sekarang. Lalu pada 2007, renovasi besar-besaran dilakukan setelah adanya bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Dalam proses itu, kubah dipasang dan menjadi salah satu ciri arsitektur yang melekat hingga kini.
Agenda Kegiatan Selama Ramadan
Pada bulan Ramadan 2026 atau 1447 Hijriah ini, Masjid Agung Al-Fathu melaksanakan berbagai agenda kegiatan rutin. Salah satunya yaitu menggelar pesantren kilat atau sanlat selama bulan Ramadan. Kegiatan sanlat ini umumnya diikuti oleh anak-anak, mulai dari tingkat TK hingga SMA.
“Biasanya mereka memerlukan sertifikat Madrasah Diniyah, sehingga sanlat ini sekaligus untuk mengeluarkan sertifikat untuk persyaratan masuk SMP,” kata Agus Qustholany.
Selain agenda rutin seperti sanlat, berbagai pengajian juga akan digelar selama Ramadan. Pengajian biasanya dilaksanakan selepas salat wajib, baik yang diinisiasi DKM maupun masyarakat.
“Ada pengajian-pengajian, biasanya setelah salat. Banyak juga yang meminta jadwal untuk mengadakan pengajian di masjid,” ucapnya.
Sebagai salah satu masjid yang berada di kawasan strategis di Kabupaten Bandung dan kerap dilintasi oleh masyarakat luas, Masjid Al-Fathu juga sering menjadi titik berbagi takjil.
“Kadang-kadang ada juga yang menitipkan takjil di sini, dan kami tampung. Biasanya ada pembagian takjil gratis di depan masjid,” ujarnya.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











