Sejarah dan Perjalanan Kepemimpinan Bobby Afif Nasution di Sumatera Utara
Genap satu tahun kepemimpinan Bobby Afif Nasution sebagai Gubernur Sumatera Utara, publik kembali menyoroti sejauh mana visi dan misi yang dijanjikan saat kampanye telah direalisasikan. Bobby Afif Nasution, yang merupakan menantu mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi), mengusung sejumlah program prioritas yang bertujuan untuk membangun Sumut menjadi daerah yang unggul, maju, dan berkelanjutan.
Bobby Afif Nasution dilantik bersama Wakil Gubernur Surya oleh Presiden RI Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025. Sebelumnya, dalam pemilihan kepala daerah atau pilkada Sumatera Utara 2024, Bobby Afif Nasution berpasangan dengan Surya sebagai calon gubernur dan wakil gubernur. Pasangan ini terpilih dengan perolehan suara sebesar 3.645.611, sementara saingannya, Edy Rahmayadi dan Hasan Basri Sagala hanya meraih 2.009.311 suara.
Sebelum menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara, Bobby Afif Nasution pernah menjabat sebagai Walikota Medan dan dikenal sebagai menantu mantan Presiden Joko Widodo. Selain itu, ia juga memiliki latar belakang politik yang kuat, yang membantunya meraih posisi tersebut.
Visi dan Misi Bobby Afif Nasution dan Surya
Bobby-Surya mengusung visi “Kolaborasi Sumut Berkah menuju Sumatera Utara yang Unggul, Maju, dan Berkelanjutan”. Untuk mewujudkan visi tersebut, mereka memiliki lima misi utama:
- Meningkatkan kualitas sumber daya manusia
- Menjaga stabilitas makro ekonomi daerah
- Meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan
- Mengembangkan dan menata infrastruktur yang berkualitas, estetik, dan ramah lingkungan
- Memperkuat ketahanan sosial dan budaya untuk membangun masyarakat Sumut yang tangguh
Pengunduran Diri Banyak OPD: Tanda-tanda Masalah?
Pengamat Kebijakan Publik Sumut, Elfanda Ananda, menilai bahwa pengunduran diri banyak pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara bukan hanya sekadar administratif, melainkan bagian dari tekanan politik. Ia menyampaikan bahwa pengunduran diri yang terjadi cukup sering dalam waktu dekat menunjukkan adanya masalah yang tidak biasa.
Menurut Elfanda, pengunduran diri kepala dinas adalah hal yang biasa. Namun, jika terjadi dalam jumlah besar dan dalam waktu yang berdekatan, maka ini menjadi sebuah permasalahan. Hal ini bisa berdampak negatif terhadap kinerja organisasi dan efektivitas kebijakan yang diterapkan.
Ia juga menyoroti bahwa banyak pejabat eselon dua diambil dari luar Sumut, seperti dari Pemko Medan. Pejabat impor ini cenderung lebih dibela, sementara pejabat lokal justru dianggap tidak tahu diri jika mengundurkan diri.
Dampak Negatif dari Pengunduran Diri
Pengunduran diri pejabat di lingkungan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) dapat menyebabkan kerugian waktu dan penyesuaian kebijakan. Kepala dinas baru akan membutuhkan waktu untuk mempelajari tugas dan tanggung jawabnya, sehingga kebijakan yang sudah ada harus disesuaikan. Hal ini bisa mengganggu proses kerja dan efisiensi pemerintahan.
Elfanda menegaskan bahwa Bobby Nasution harus melakukan evaluasi terhadap struktur organisasi yang dipimpinnya. Ia menilai bahwa kebijakan yang diterapkan tidak selalu transparan dan adil. Misalnya, ada pejabat yang ditetapkan sebagai tersangka korupsi tetapi masih dibiarkan bertahan, sementara pejabat lain yang mengundurkan diri dianggap tidak tahu diri.
Evaluasi dan Tanggung Jawab Gubernur
Selain itu, DPRD Sumatera Utara juga diminta untuk memanggil dan mengevaluasi Gubernur Bobby Nasution. Karena kepala dinas bertugas mengurus kebutuhan warga, maka DPRD harus aktif dalam memastikan bahwa kebijakan yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Diketahui, sejak awal jabatannya, total ada enam kepala dinas yang mengundurkan diri. Beberapa alasan yang diberikan antara lain ingin fokus pada keluarga, sakit, atau pensiun dini. Namun, beberapa di antaranya juga dikaitkan dengan kasus korupsi dan tekanan politik.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, satu tahun kepemimpinan Bobby Afif Nasution di Sumatera Utara menunjukkan berbagai tantangan, baik dalam realisasi visi dan misi maupun dalam pengelolaan organisasi. Pengunduran diri banyak pejabat menjadi indikator bahwa ada masalah yang perlu segera diatasi. Evaluasi terhadap struktur organisasi dan kebijakan yang diterapkan sangat penting untuk memastikan kinerja pemerintahan yang efektif dan transparan.











