Sejarah Kelam Eks Kamp Cideng yang Tersembunyi di Balik Rumah Tua
Atun (50), seorang warga yang tinggal di rumah tua di Jalan Tanah Abang II, Jakarta Pusat, selama puluhan tahun, tidak pernah mengetahui bahwa bangunan tersebut merupakan bagian dari eks Kamp Cideng. Kamp ini digunakan oleh tentara Jepang untuk menahan warga sipil Belanda selama masa pendudukan Jepang pada tahun 1942–1945. Ia baru mengetahui fakta ini setelah rombongan turis asal Belanda datang dan berziarah ke tempat tersebut.
Awalnya, Atun hanya tahu bahwa ia tinggal di rumah lama yang diberikan oleh pemiliknya. Tujuan utamanya adalah agar bangunan tersebut tetap terawat. Namun, kisah misterius mulai terungkap ketika rombongan turis Belanda datang dengan menggunakan bus besar. Mereka mengatakan ingin melihat tempat nenek atau orang tua mereka dulu ditahan.
“Dulu saya enggak tahu sejarahnya. Tiba-tiba ada rombongan turis Belanda datang, pakai bus besar. Mereka bilang mau lihat tempat nenek atau orang tua mereka dulu ditahan,” ujarnya.
Dari pengunjung itulah, Atun mengetahui bahwa rumah yang ia tempati ternyata pernah menjadi lokasi penahanan warga sipil Belanda oleh tentara Jepang. Para perempuan dan anak-anak ditawan dan dipaksa bekerja selama masa pendudukan.
Pengalaman Mistis yang Menghantui
Setelah mengetahui sejarah kelamnya, Atun mulai merasakan suasana berbeda ketika tinggal di rumah tersebut. Ia mengaku kerap merasakan hawa yang menurutnya “seram”, terutama pada malam hari.
“Rumahnya lama kosong, enggak terawat. Kalau malam suasananya beda, sunyi sekali,” kata Atun.
Ia juga pernah melihat sesosok bertubuh besar tanpa kepala. Meski terdengar mengerikan, ia mengaku bahwa itu adalah pengalamannya sendiri.

Kondisi Rumah yang Tidak Terawat
Pantauan di rumah yang diyakini sebagai eks Kamp Cideng menunjukkan bahwa kondisinya sangat memprihatinkan. Pagar seng setinggi dua meter menutupi rumah tua tersebut. Di bagian pagar tersebut terpampang pengumuman bahwa bangunan itu disewakan. Ada juga tulisan larangan untuk berjualan di depan rumah tersebut. Sisanya, tulisan vandalisme memenuhi hampir seluruh pagar seng.
Dari luar, terlihat bagian genteng rumah tersebut banyak yang bolong. Pepohonan juga tampak tumbuh tinggi, menandakan bangunan sudah lama tak terawat. Di sisi kanan rumah tua itu sudah berdiri kantor dengan bangunan baru. Sedangkan di sisi kirinya kini dijadikan gudang logistik.
Sejarah Kamp Cideng
Sejarawan Nunus Supardi menjelaskan bahwa dalam sejarah perang, pihak pemenang biasanya akan merampas segalanya dari pihak yang kalah. Saat Jepang menguasai Batavia dari Belanda, mereka tidak hanya mengambil alih harta benda, tetapi juga menawan penduduknya.
“Penduduk, harta benda, sampai putri-putrinya itu dirampas untuk pemenang perang,” ujar Nunus.

Ketakutan Jepang akan Pemberontakan
Nunus menjelaskan bahwa alasan utama Jepang membangun kamp-kamp tahanan adalah faktor keamanan. Saat itu, ada sekitar 300.000 orang Belanda yang bermukim di Indonesia. Karena khawatir akan terjadi pemberontakan massal, Jepang memutuskan untuk mengisolasi dan menawan mereka di lokasi-lokasi tertentu, salah satunya di Cideng.
Ditempati Puluhan Ribu Warga Belanda
Nunus mengatakan bahwa sekitar 200 rumah yang ada di Cideng kala itu dipaksa menampung jumlah manusia yang tidak masuk akal. Catatan yang ia dapat berbeda-beda, ada yang bilang 8.000 ada yang 10.000 orang. Bayangkan 200 rumah ditempati orang sebanyak itu, seperti apa rasanya.











