My WordPress Blog
Budaya  

Festival Nongkrong Mengundang Warga Lokal dan Wisatawan Kenali Indonesia

Acara Nongkrong di Melbourne: Jembatan Budaya Indonesia dan Australia



Ribuan orang memadati Federation Square di jantung kota Melbourne, pada Sabtu, 14 Februari 2026. Di sana berlangsung “Pasar Senja”, yang merupakan bagian dari Nongkrong Festival. Matahari yang terik tidak menghentikan langkah para pengunjung mengantre makanan, atau duduk di atas karpet sambil menikmati penampilan tarian tradisional dan musik Indonesia.

Pihak penyelenggara mengatakan tema “Pasar Senja” digarap dengan konsep tanda waktu “senja” yang dianggap romantis, karena hadir tepat di Hari Kasih Sayang. Selain gerobak makanan, pengunjung dihibur penampilan Gamelan DanAnda bersama Sanggar Lestari, tarian Suara Dance, dan musisi seperti Candra Darusman, Ali, Komang, Matahara, dan lainnya. Acara tersebut berlangsung sampai pukul 10 malam.

Campuran Acara Indonesia dan Australia

Ini adalah kedua kalinya Sylvie Komala, warga Indonesia yang sudah tujuh tahun di Melbourne, pergi ke acara Nongkrong. Sylvie mengatakan Nongkrong berbeda dengan acara-acara Indonesia yang pernah ia kunjungi di Melbourne. “Nongkrong salah satu acara Indonesia yang cocok vibe-nya sama saya, dibanding acara Indonesia yang lain … enggak kaku-kaku amat,” ujarnya.

“Saya merasa Nongkrong acara Indonesia, tapi mixed dengan kebudayaan di Melbourne.” Sylvie menyukai konsep dari acara Nongkrong yang menurutnya menjembatani kedua kebudayaan Indonesia dan Australia, khususnya Melbourne. “Jadi orang masih bisa relate,” ujarnya. “Di satu sisi acaranya baru, untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia, tetapi enggak terlalu asing, ibaratnya.”

Jesica Manurung, yang duduk di sebelah Sylvie, mengatakan baru pertama kali datang ke acara Nongkrong. Ia tertarik ikut setelah melihat susunan acaranya, yang memuat “banyak penampilan yang kami rindukan dari Indonesia.” “Kalau [Nongkrong] lebih ke [konsep] anak mudanya sih, yang membedakan dengan acara-acara lain di Melbourne,” katanya. “Terus saya juga baru pertama melihat booth-booth makanannya, kok kayak warteg ya? Otentik, dibandingkan acara-acara Indonesia lainnya.”

Ia pun merasa acara ini tidak “eksklusif untuk orang-orang Indonesia saja.” “Seperti pasangan-pasangan kita kan mereka juga nanya, ‘Oh ini acara apa sih?’, jadi mereka tertarik, enggak cuma untuk orang Indonesia, tapi buat orang Australia lainnya,” katanya.

Berharap Menawarkan Perspektif Berbeda

Acara Nongkrong disponsori dan didukung oleh pemerintah setempat, melalui program ‘Events and Partnership Program’ (EPP) dari City of Melbourne. Lord Mayor Nick Reece mengatakan kepada ABC Indonesia bahwa Melbourne adalah “kota paling multikultural”, dengan adanya lebih dari 160 kebudayaan berbeda. “Kami sangat antusias mendukung ‘Nongkrong presents Pasar Senja’ di Fed Square, yang merayakan seni budaya Indonesia melalui pertunjukan, gamelan interaktif, tari, dan lokakarya kerajinan,” ujar Nick.

“Melbourne telah dibangun di atas kesuksesan komunitas multikultural kami dan semoga hal itu terus berlanjut.” Martin Fatmaja Hoggart, panitia Nongkrong, khususnya programmer musik, mengatakan festival ini menawarkan “perspektif yang berbeda tentang Indonesia.” “Nongkrong berbeda dengan acara Indonesia lainnya di Australia karena kami generasi baru keturunan Indonesia, ada anak campuran seperti saya, anak yang baru pindah ke sini, mahasiswa,” katanya.

“Dan kami membawa perspektif dan sikap terhadap kebudayaan Indonesia yang berbeda dan pentingnya merayakan dan mempromosikan kebudayaan kita.” Ia berharap Nongkrong bisa menawarkan perspektif lintas budaya Australia dan Indonesia. “Kadang ada stereotip tentang kebudayaan tradisional, kebudayaan eksotis, di mana Indonesia hanya Bali saja,” katanya. “Tapi untuk Nongkrong, yang terpenting bagi kami adalah untuk menunjukkan bahwa kebudayaan Indonesia masih berkembang, dan bahwa budaya Indonesia tidak sesempit yang diketahui kebanyakan orang Australia.”

Warga Lokal Terdorong untuk Mengenal Indonesia

Warga Australia yang turut hadir adalah Aya Uchida, yang terlihat sedang menyantap makanan Indonesia, ketika dihampiri ABC Indonesia. Ia mengatakan memang sudah mengincar makanan di acara Nongkrong, dan tetap hadir, meski teman yang mengajaknya tidak jadi datang. “Ramai sekali acaranya, dan saya tidak memiliki ekspektasi apa pun, tapi banyak banget yang bisa dilihat di sini,” katanya. “Saya beli ayam dan rendang dengan sambal.”

Aya mengakui bahwa ia baru pernah ke Bali, tapi kunjungannya ke Nongkrong membuatnya ingin belajar lebih banyak tentang Indonesia. “Saya suka kebudayaan Indonesia,” katanya. “Saya suka makanannya dan bagaimana warganya menyukai alam, negaranya menyenangkan sekali.” Aya yang juga membeli beberapa produk seni yang dijual di Nongkrong mengatakan ingin datang lagi ke acara Nongkrong selanjutnya.

Diminati Turis

Posisi Nongkrong yang diadakan di pusat kota Melbourne turut menarik perhatian para turis. ABC Indonesia sempat berbincang dengan dua turis, Joe Sweeney dan Kathleen Sweeney yang baru mendarat ke Melbourne dari Skotlandia pada hari itu. Pasangan tersebut terlihat sedang duduk santai di karpet sambil menikmati penampilan musik. Kathleen mengatakan sedang mengikuti tur yang titik bertemunya di Federation Square, ketika ia melihat panitia Nongkrong sedang mempersiapkan acaranya yang dimulai pada sore hari. “Lalu kami berpikir untuk ke sini lagi ketika acara mulai jam 3 sore,” ujarnya. “Ternyata musiknya enak dan kios-kios makanannya juga menarik, jadi kami tetap di sini.”

Kathleen dan Joe, yang belum pernah ke Indonesia, mengatakan festival tersebut membuat mereka penasaran soal Indonesia. “Kami enggak sabar mencoba makanannya di sini,” ujar Kathleen yang menunggu antreannya semakin pendek. “Ini adalah acara yang bagus.” Martin mengatakan ke depannya, ia berharap Nongkrong tetap bisa diadakan lagi di Federation Square, dan bahkan berkembang sampai ke kota-kota lain di Australia. “Prinsip dan harapan jangka panjang kami adalah untuk terus berbagi tentang komunitas Indonesia, baik bagi diaspora Indonesia dan warga Australia juga,” katanya.

Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *