Kehilangan Besar dalam Dunia Militer dan Diplomasi Indonesia
Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo, seorang tokoh militer, pemikir pertahanan nasional, serta arsitek reformasi TNI melalui “Paradigma Baru TNI”, meninggal dunia di usia 78 tahun. Kepergiannya menyisakan duka mendalam bagi dunia diplomasi dan militer Indonesia.
Agus Widjojo wafat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, pada Minggu (8/2/2026) malam. Setelah sempat disemayamkan di ruang jenazah RSPAD, jenazah almarhum kemudian dibawa ke rumah duka di Puri Cikeas, Depok, Jawa Barat. Rencananya, almarhum akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.
Profil Singkat Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo
Agus Widjojo lahir pada 8 Juni 1947 dan meninggal pada 8 Februari 2026. Ia adalah purnawirawan tentara berkebangsaan Indonesia yang pernah menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Filipina dari Januari 2022 hingga akhir hayatnya pada Februari 2026. Sebelumnya, ia juga pernah menjadi Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) sejak 15 April 2016 hingga 12 Januari 2022.
Selain itu, Agus juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat mewakili Fraksi TNI/Polri periode 2001–2003 menggantikan Hari Sabarno yang diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri dalam Kabinet Gotong Royong.
Karier dan Kontribusi yang Berkesan
Agus Widjojo lulus dari Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) tahun 1970. Ia seangkatan dengan dua mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Subagyo Hadi Siswoyo dan Tyasno Sudarto. Ayahnya, Mayjen TNI (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo, adalah salah satu pahlawan revolusi yang gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September (G30S).
Selama menjabat sebagai Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI (SESKO TNI), ia bertanggung jawab atas restrukturisasi doktrin politik dan keamanan TNI. Agus juga memainkan peran penting dalam pembaruan militer. Pada tahun 1998, ia berpendapat bahwa militer seharusnya keluar dari politik.
Pada masa itu, Letjen Agus Widjojo dan Letjen Susilo Bambang Yudhoyono adalah jenderal bintang tiga semasa Wiranto waktu itu Panglima TNI, diminta menyiapkan konsep reformasi TNI. Konsep tersebut dinamakan “Paradigma Baru TNI”. Saat menjadi Wakil Ketua MPR, Beliau-lah yang memimpin Fraksi TNI/Polri untuk mundur dari parlemen dan fraksi tersebut dilikuidasi.
Pandangan tentang Tugas TNI
Dalam peluncuran bukunya tahun 2015 mengenai Transformasi TNI, dia mengemukakan bahwa banyak peran di luar profesi kemiliteran yang “dititipkan” untuk dilaksanakan TNI, seperti mewujudkan swasembada pangan. Menurut Widjojo, peran utama TNI adalah pertahanan negara. Ia menegaskan bahwa kepercayaan diri kalangan elite dan pucuk pimpinan sipil negara ini dapat ditinggikan dengan lebih menumbuhkan kapasitas di antara mereka.
Tentara Nasional Indonesia perlu memusatkan perhatian pada tugas pokoknya menjaga pertahanan nasional. Dengan demikian, TNI harus melepaskan tanggung jawab di sektor keamanan dalam negeri, seperti dalam kasus tumpang tindih TNI AL dengan Bakamla.
Peran dalam HAM dan Isu Politik
Dalam bidang Hak Asasi Manusia (HAM), Agus Widjojo juga sempat menjabat sebagai anggota Komisi Kebenaran dan Persahabatan RI-Timtim yang menangani dugaan pelanggaran HAM Indonesia di Timor Timur. Meski ayahnya merupakan korban tragedi G30S, Agus memiliki perhatian mengenai tragedi politik Indonesia pada 1965. Ia juga menjadi penasihat Forum Silaturahmi Anak Bangsa, forum yang didirikan pada 2003 yang mempertemukan anak-anak korban konflik politik 1965.
Terbaru, ia juga merupakan penggagas sekaligus Ketua Panitia Pengarah Simposium Nasional membedah Tragedi 1965 yang diadakan melalui Kemenkopolhukam pada 2016.
Jabatan dan Kiprah di Berbagai Lembaga
Agus pernah menjabat sebagai Deputi Kepala Unit Kerja Presiden Pengelolaan Program dan Reformasi (UKP3R) pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono periode pertama. Dia juga Senior Fellow dari Centre for Strategic and International Studies dan Visiting Fellow Senior dari Institut Pertahanan dan Studi Strategis di Singapura.
Ia juga merupakan penasihat di Dewan Institut Perdamaian dan Demokrasi (IPD), Universitas Udayana, Bali yang menggagas Bali Democracy Forum. Ia telah menulis berbagai artikel tentang isu-isu keamanan di wilayah Asia-Pasifik.
Visi untuk Lemhannas
Pada 15 April 2016, Presiden Joko Widodo resmi melantik Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo sebagai Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), di Istana Merdeka, Jakarta. Surat pengangkatan Agus tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 43/TPA/2016 Tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Gubernur Lemhannas.
Agus mengatakan, ke depan dia akan membawa Lemhannas lebih sering menyentuh kepada kegiatan masyarakat. Tujuannya agar kehadiran Lemhannas bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. “Ke depan saya sudah minta pengarahan dari Bapak Presiden agar Lemhannas tidak hanya dirasakan di dalam ruang-ruang Lemhannas, tetapi juga seluruh kegiatan sehari-hari masyarakat Indonesia pada seluruh wilayah,” ujar Agus usai pelantikan dirinya di Istana Negara.
Selain itu, Agus ingin agar Lemhannas bisa menangani hal-hal yang bersifat mendesak. “Tujuannya untuk membantu kebijakan yang diambil pemerintah,” katanya.











