My WordPress Blog

Curhat Warga Bengkulu di Kamboja Saat Rapat Daring dengan DPRD, Menangis Lihat Teman Disiksa

Pengalaman Menyedihkan Empat Warga Kota Bengkulu di Kamboja

Empat warga Kota Bengkulu, yaitu Deni Febriansyah, Ardi, Engga, dan Imron, mengungkapkan pengalaman buruk mereka saat berada di Kamboja dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu. Rapat tersebut dilakukan pada Senin (2/2/2026), dan dalam acara tersebut, pihak Komisi IV melakukan video call dengan warga yang tinggal di Kamboja.

Deni, salah satu dari empat warga tersebut, menerima panggilan video call dan menceritakan seluruh kejadian yang dialaminya. Dalam video call itu, ia menangis karena teringat pengalaman yang sangat menyedihkan.

Awalnya, keempat warga ini ditawarkan pekerjaan di Vietnam sebagai penjual barang elektronik dengan gaji sebesar Rp12,8 juta per bulan. Mereka sempat berpamitan kepada istri mereka, namun ada yang menolak untuk pergi ke Vietnam. Akhirnya, keempat orang tersebut berangkat dari Bengkulu ke Jakarta pada tanggal 6 Januari 2026.

Biaya keberangkatan ditanggung oleh pihak yang menawarkan pekerjaan. Sesampainya di Jakarta, mereka langsung pergi ke Bekasi untuk mengurus paspor dan harus menunggu selama lima hari untuk mendapatkan paspor tersebut.

Setelah mendapatkan paspor, mereka berangkat ke Malaysia dan tiba di sana sekitar pukul 11 malam waktu setempat. Mereka menginap di Malaysia dan berangkat kembali ke Vietnam pada pukul 9 pagi. Saat perjalanan, mobil membawa mereka ke perbatasan Vietnam dan Kamboja.

Di perbatasan, visa mereka sudah diurus dan mereka melanjutkan perjalanan ke Kamboja. Di Kamboja, mereka diminta untuk menaiki mobil perusahaan lagi dan akhirnya sampai di salah satu gedung. Di gedung tersebut, mereka disuruh masuk, tetapi handphone dan paspor mereka ditahan.

Sesampainya di gedung itu, Deni dan rekan-rekannya melihat orang lain bekerja sebagai scammer penipuan. Namun, rekan Deni tidak mengetahui situasi yang terjadi di dalam gedung. Mereka diminta untuk bekerja sebagai scammer selama tujuh hari. Ada orang di sana yang bilang bahwa mereka sudah dijual dan jika tidak bisa bekerja, mereka akan dipaksa bekerja.

Deni menangis saat menceritakan pengalaman tersebut. Ia juga menangis saat mengingat temannya disiksa karena tidak bisa memahami komputer. Setelah disiksa selama tujuh hari, mereka memutuskan untuk kabur. Mereka kabur dengan membawa dompet dan pakaian di badan. Beruntung, sekitar pukul 2 dini hari, mereka bertemu warga lokal yang sedang mengendarai mobil dan menawarkan tumpangan.

Selama perjalanan sekitar empat jam, mereka diminta uang 300 dolar. Akhirnya, mereka menghubungi istri-istri mereka untuk sumbangan. Deni dan rekan-rekannya meminta agar kepulangan mereka dipercepat karena mereka sudah tidak kuat lagi di penampungan. Pakaian yang mereka bawa hanya selembar dan makan hanya dua kali sehari.

Pemulangan Empat Warga Bengkulu

Pemerintah Provinsi Bengkulu menegaskan komitmennya untuk memberikan perlindungan dan penanganan maksimal terhadap empat warga Bengkulu yang diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Kamboja. Keempat warga tersebut adalah Deni Febriansyah, Ardi, Engga, dan Imron. Saat ini, mereka berada dalam penampungan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Phnom Penh, Kamboja, sambil menunggu proses pemulangan ke tanah air.

Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni, hadir dalam rapat dengar pendapat bersama DPRD Provinsi Bengkulu. Rapat tersebut dipimpin oleh Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu, Usin Abdisyah Putra Sembiring, serta dihadiri keluarga korban, unsur Polda Bengkulu, dan instansi terkait lainnya.

Dalam rapat tersebut, peserta rapat melakukan panggilan video langsung dengan para korban untuk memastikan kondisi terkini sekaligus mendengarkan kronologis peristiwa yang mereka alami.

Salah satu korban, Deni Febriansyah, mengungkapkan bahwa dirinya bersama tiga rekannya awalnya mendapat tawaran pekerjaan di Vietnam. Mereka dijanjikan gaji sebesar Rp12,8 juta per bulan dengan tugas sebagai pemasaran penjualan elektronik secara daring. Namun, kenyataan di lapangan jauh dari yang dijanjikan. Setibanya di luar negeri, para korban justru dibawa ke Kamboja dan dipaksa bekerja melakukan penipuan berbasis judi online.

Selama berada di sana, paspor dan telepon genggam mereka disita oleh pihak yang mempekerjakan. Karena tidak mampu memenuhi target pekerjaan, para korban mengaku mengalami intimidasi dan perlakuan kekerasan. Dalam kondisi tertekan, mereka akhirnya melarikan diri dan melapor ke KBRI untuk meminta perlindungan.

Penjabat Sekda (Pj) Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni, menyampaikan bahwa pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk KBRI dan instansi pusat, guna mempercepat proses pemulangan para korban. Biaya kepulangan disepakati akan ditanggung sepenuhnya oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu melalui Baznas Provinsi Bengkulu.

“Sesuai instruksi Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, pemerintah daerah hadir memberikan perlindungan maksimal bagi warga Bengkulu yang mengalami persoalan di luar negeri. InsyaAllah, keempat korban segera dipulangkan dan dapat kembali berkumpul dengan keluarga,” ungkap Herwan dalam keterangan rilis, Senin (2/2/2026).

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu, Usin Abdisyah Putra Sembiring, mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mengawal proses pemulangan agar berjalan lancar dan aman hingga para korban tiba di Bengkulu. “Kita berharap proses pemulangan ini berjalan dengan baik sehingga empat warga Bengkulu tersebut bisa kembali dengan selamat,” tutup Usin.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *