Chiki Fawzi Mengikhlaskan Pencopotannya sebagai Petugas Haji
Chiki Fawzi, seorang seniman dan aktivis kemanusiaan, mengungkapkan bahwa dirinya sudah ikhlas setelah resmi dicopot dari tugas sebagai petugas haji. Ia menyatakan bahwa mimpinya untuk memberikan pelayanan kepada jemaah haji tidak bisa diwujudkan. Dalam sebuah video yang dipostingnya di Instagram, Chiki mengatakan bahwa ia telah menerima keputusan tersebut dengan tulus.
“Semalam tuh aku dicopot dari petugas haji,” ujarnya dalam video tersebut. Ia juga menulis, “Udah ya. Aku udah move on.” Chiki memposting foto dirinya sambil menunjukkan sikap tenang dan ikhlas terhadap situasi yang dialaminya.
Saat ini, Chiki sedang fokus pada promosi film Titip Bunda di Surgamu, yang ia dukung. Film ini dibintangi oleh Meriam Bellina, Acha Septriasa, Kevin Julio, dan Abun Sungkar. Ia juga menyampaikan bahwa ia tidak akan mempermasalahkan keputusan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) karena ia yakin itu adalah perintah dari atasan.
Diklat yang Diikuti oleh Chiki Fawzi
Sebelum pencopotannya, Chiki sedang menjalani Diklat PPIH yang diselenggarakan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur. Ia termasuk dalam layanan Media Center Haji (MCH) di Makkah, Arab Saudi selama masa penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Dalam Diklat tersebut, ia mengikuti berbagai agenda pelatihan yang berbasis semi-militer.
Chiki mengaku bersyukur bisa menjadi bagian dari proses tersebut. Ia mengungkapkan bahwa setiap hari, ia harus bangun pada pukul 04.00 pagi untuk salat Subuh bersama peserta lainnya. Setelah salat, kegiatan dilanjutkan dengan apel pagi, senam bersama, dan jalan santai mengelilingi kompleks Asrama Haji sebelum menerima materi diklat sepanjang hari.
Namun, proses pencopotannya terjadi secara mendadak. Menurut Chiki, hal ini disebabkan oleh arahan dari atasan. Meski begitu, ia memilih untuk tidak memperluas masalah tersebut.

Pencopotan 13 Petugas Haji
Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak mengungkapkan bahwa ada 13 calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Tahun 2026 yang dicopot dalam proses pendidikan dan pelatihan (Diklat). Menurut Dahnil, pencopotan ini merupakan bentuk penerapan disiplin bagi para calon petugas haji.
“Setidaknya tadi malam laporan ke saya itu ada 13 orang yang dicopot dari proses Diklat,” kata Dahnil setelah Pembekalan Peserta Pendidikan dan Pelatihan PPIH Arab Saudi 2026 di Lapangan Galaxy Markas Komando Daerah Operasi Udara I, Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (30/1/2026).
Menurut Dahnil, beberapa pelanggaran yang dilakukan oleh para petugas haji antara lain kasus indisipliner, pemalsuan absensi, serta kondisi kesehatan yang dinilai berisiko bagi petugas lain dan jemaah. Contohnya, ada yang memalsukan absensi dari hari pertama hingga hari kesepuluh tanpa hadir, sehingga langsung dicopot. Selain itu, ada juga yang sakit namun tidak mengakui kondisinya, seperti kasus TBC yang bisa membahayakan petugas lain dan jemaah.
Fokus pada Disiplin dan Penguatan Fisik
Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan menyatakan bahwa Diklat PPIH Arab Saudi Tahun 2026 fokus pada aspek disiplin dan penguatan fisik. “Pertama, disiplin pasti. Yang kedua, fisik. Karena kegiatan haji itu memerlukan fisik. Jamaah haji perlu fisik, apalagi petugas haji, fisiknya harus kuat,” ujar Gus Irfan.
Selain itu, pengenalan tugas sejak awal juga menjadi perhatian utama. Para petugas, kata Gus Irfan, sudah dibagi berdasarkan lokasi dan tanggung jawab masing-masing agar tidak terjadi kebingungan ketika berada di Tanah Suci. “Kemudian yang ketiga, pengenalan tugas. Sejak di sini kita sudah bagi, Anda di mana. Anda di mana, tugasnya apa, sudah tahu dari sini,” ucapnya.
Diklat ini juga bertujuan untuk membangun kekompakan atau bonding antar peserta diklat. “Karena mereka berasal dari seluruh Indonesia, berasal dari berbagai institusi, dan mereka baru kenal di sini. Karena itu, 20 hari kita bonding-kan supaya mereka bisa bekerja dengan baik,” tambah Gus Irfan.
Selain Gus Irfan, pembekalan tersebut juga dihadiri oleh Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak, Menko PM Muhaimin Iskandar, dan Menteri Agama Nasaruddin Umar.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











