Pengomposan merupakan cara praktis untuk mendaur ulang sampah rumah tangga dan mengubahnya menjadi barang bermanfaat untuk tanaman di kebun. Meski kompos kedengarannya ide yang menarik, mencampur berbagai limbah organik ternyata tidak semudah itu. Beberapa jenis sampah organik dapat terurai dengan sangat baik, sementara jenis lainnya seperti produk susu, daging, dan kardus tidak hanya dapat merusak kompos, tapi juga menarik bakteri berbahaya.
Karena itu, penting untuk mengetahui bahan apa saja yang boleh dan dilarang dimasukan ke dalam wadah kompos. Untuk mencegah hal tersebut, berikut adalah sejumlah bahan yang tidak boleh dimasukkan untuk kompos beserta alasannya.
Gulma yang sudah berbiji dan rumput
Jenny Rose Carey, penulis buku dan ahli hortikultura, mengatakan jika kamu menempatkan gulma, terutama yang sudah berbiji ke dalam kompos dapat menyebabkan gulma tersebut tumbuh kembali. Jadi jika kamu menyebarkan kompos dari gulma di kebun, maka kamu berisiko untuk menyebarkan gulma tersebut ke seluruh kebun juga.
“Untuk mengomposkan gulma, diperlukan suhu yang sangat tinggi, tumpukan kompos rumahan biasanya tidak dapat mencapai suhu yang cukup panas untuk mematikan gulma tersebut sehingga gulma tersebut justru bisa tumbuh kembali di dalam kompos,” kata Jenny.
Selain itu, meskipun rumput bermanfaat untuk tanaman di kebun, manfaat ini hanya bisa diperoleh dari rumput organik yang tidak diberi herbisida atau pupuk kimia. “Jika rumput mengandung herbisida dimasukan ke dalam tumpukan kompos, maka kemungkinan bahan kimia tersebut akan tetap ada dalam kompos dan pada akhirnya membunuh tanaman di kebun saat digunakan,” kata Jodi Danyo, pendiri sekaligus CEO Cherry Valley Organics.
Gulma berbiji yang tidak digunakan lebih baik dibuang ke tempat sampah biasa, atau cara lain yang cukup efektif adalah membuangnya ke tempat daur ulang yang mengolah gulma, untuk diolah secara mekanis menjadi kompos yang lebih efektif.
Stiker produk
Umumnya buah dan sayuran yang dijual di supermarket atau toko ritel dilengkapi dengan stiker kecil yang ditempelkan. Label ini biasanya terbuat dari plastik atau bahan berlapis plastik yang dirancang untuk tahan terhadap kelembapan. Artinya, label tersebut tidak akan terurai di dalam tempat pengomposan.
Andrew Miano, pakar hortikultura senior di Baker Creek Heirloom Seed Co menjelaskan bahwa ukuran stiker produk yang kecil membuat bahan ini sering terlewat saat membuang sisa sayur atau buah ke dalam kompos. “Jika tidak sengaja tercampur, label tersebut justru akan mencemari kompos dengan potongan-potongan plastik yang sulit dihilangkan dan mengurangi kualitas kompos yang kamu miliki,” imbuh Miano.
Untuk menghindari hal ini, lepas semua stiker produk begitu barang belanjaan di bawa ke rumah dan membuangnya ke tempat sampah, biasakan untuk memeriksa dan melepas label.
Minyak, produk susu, dan daging
Selanjutnya, bahan yang dihindari untuk dimasukan ke wadah kompos adalah makanan berlemak. Minyak, produk susu, dan sisa daging justru akan menurunkan kualitas kompos kamu. Saat terurai dalam wadah kompos, makanan tersebut juga akan menghasilkan bau yang tidak sedap.
“Minyak dan lemak akan membentuk lapisan di sekitar bahan nabati dan dapat memperlambat proses dekomposisi. Selain itu, makanan ini juga dapat menarik tikus dan serangga yang tidak diinginkan,” kata Jodi Danyo. Hal yang sama disampaikan Ofra Gaito, CEO dari perusahaan tanaman Verdant Lyfe, jika kamu memasukan bahan tersebut ke tumpukan kompos dapat mengganggu proses pengomposan karena terurai secara lambat dan tidak efektif dengan sendirinya, bahan tersebut jauh lebih baik jika dibuang ke tempat sampah.
Cangkang telur yang belum diolah
Cangkang telur memang berguna untuk menyuburkan tanaman. Tapi, jika kamu tidak mencuci cangkang tersebut dengan bersih sebelum memasukkannya ke wadah kompos, kamu justru akan mengundang lalat karena bau yang ditimbulkan. Jessica Mercer, Koordinator Pemasaran Konten Senior dan Ahli Tanaman di Plant Addicts, mengatakan telur dapat menyebabkan masalah yang sama seperti produk susu dalam kompos dan mengeluarkan bau tidak sedap yang menarik hama.
Jika diolah dengan tepat, cangkang telur yang dibilas dan dihancurkan dapat menjadi sumber kalsium yang bagus untuk kompos. Ingat untuk mencuci tangan setelah menghancurkan cangkang telur untuk mengurangi risiko penyebaran salmonella.
Tanaman yang sakit
Sama seperti gulma, tanaman sakit dari kebun sebaiknya tidak ditambahkan ke dalam kompos rumahan karena dapat mendorong penyebaran infeksi ke tanaman lain. Spora jamur, patogen penyakit, dan infeksi virus pada tanaman yang sakit tetap hidup karena proses pengomposan tidak mencapai suhu yang cukup tinggi.
“Jika kompos kamu tidak cukup panas, tanaman yang terserang penyakit akan bertahan hidup. Hindari melakukan hal ini daripada kebun kamu berakhir dengan tanaman invasif yang menyebar,” kata Andrew Miano. Wadah pengomposan rumahan, tidak dapat mencapai suhu yang dibutuhkan untuk membunuh organisme penyebab penyakit pada tanaman sakit tersebut secara efektif. Karena itu, cara paling aman adalah dengan membuang tanaman sakit di tempat lain atau dibakar, di mana panas dan kerak memastikan patogen hancur.
Bawang bombay, bawang putih dan kulit jeruk
Menambahkan sedikit bawang bombai, bawang putih, dan kulit jeruk ke dalam wadah kompos sebenarnya tidak menjadi masalah. Namun, jika bahan-bahan tersebut dimasukkan dalam jumlah berlebihan, kandungan alaminya yang kaya vitamin dan senyawa aktif justru dapat berdampak buruk bagi kualitas tanah kompos.
“Bawang bombai, bawang putih, dan kulit jeruk adalah insektisida alami, menambahkan sedikit bahan-bahan ini dalam kompos tidak masalah, tapi jika terlalu banyak dapat mengurangi aktivitas mikroba bermanfaat dan membuat tanah menjadi asam,” kata Sally McCabe, Wakil Direktur Pendidikan Komunitas Pennsylvania Horticultural Society. Sebagai gantinya, lebih baik manfaatkan sisa kulit jeruk, bawang bombay dan bawang putih untuk kebutuhan lain atau buang ditempat sampah.
Kotoran hewan peliharaan pemakan daging
Hampir semua kotoran hewan peliharaan memang dapat dimasukan ke dalam kompos, tapi kotoran hewan pemakan daging dapat mengandung banyak bakteri yang tidak sehat jika berada di sekitar kebun atau di dekat rumah. “Kotoran hewan peliharaan dari pemakan daging dapat membawa bakteri dan parasit berbahaya, seperti cacing gelang, yang dapat bertahan hidup di kompos dan menimbulkan risiko kesehatan,” kata Jessica Mercer.
Selain itu, menambahkan sampah ini akan membuat kompos berbau tidak sedap. Cara paling aman untuk membuang kotoran hewan peliharaan dari hewan pemakan daging adalah dengan membuang ke tempat sampah biasa, diikat dalam kantong sampah.
Tulang
Tulang dari sisa daging saat makan malam tidak boleh dimasukkan ke dalam tumpukan kompos karena akan memperlambat proses pengomposan. Jadi, sebaiknya tulang tersebut diberikan pada hewan karnivora untuk dikunyah atau buang saja ke tempat sampah biasa. “Kamu harus berhati-hati untuk tidak menambahkan apapun yang dapat berdampak negatif pada tanaman ketika akhirnya menggunakan kompos yang sudah jadi di kebun Anda,” kata Ofra.
Menambahkan tulang ke dalam campuran akan menghasilkan kompos yang kasar, karena tulang akan tetap berada di dalam tanah hingga ratusan tahun. Selain memperlambat proses pengomposan, tulang juga dapat menarik hama seperti tikus dan dapat menghasilkan bau tidak sedap saat mulai membusuk.











