Isu Boikot Piala Dunia 2026 Menguat di Eropa
Isu boikot Piala Dunia 2026 semakin menguat di Eropa setelah Inggris dan Skotlandia mengikuti langkah Jerman dalam menyuarakan penolakan terhadap turnamen tersebut. Desakan ini muncul sebagai respons atas memanasnya hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat akibat kebijakan dan ancaman yang disampaikan oleh Presiden AS, Donald Trump.
Inggris dan Skotlandia sejatinya tengah mempersiapkan diri untuk tampil di Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Namun, ketegangan politik yang dipicu oleh pernyataan Donald Trump membuat sejumlah tokoh politik mendesak agar partisipasi kedua negara tersebut ditinjau ulang.
Tim nasional Inggris yang kini ditangani pelatih asal Jerman, Thomas Tuchel, dijadwalkan bersaing di Grup L bersama Kroasia, Ghana, dan Panama. The Three Lions, julukan tim nasional Inggris, bahkan masuk dalam jajaran kandidat kuat juara turnamen. Sementara itu, Skotlandia asuhan Steve Clarke bersiap mencatatkan sejarah dengan tampil di Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1998. Mereka tergabung di Grup C bersama Brasil, Maroko, dan Haiti.
Namun, persiapan olahraga tersebut kini dibayangi ketegangan diplomatik antara Britania Raya dan Amerika Serikat. Ambisi Trump atas Greenland menjadi pemicu utama ketegangan ini.
Ambisi Trump atas Greenland Picu Krisis
Pemicu utama ketegangan ini adalah ambisi Donald Trump untuk mengakuisisi Greenland dari Denmark dengan dalih keamanan global. Presiden ke-45 dan ke-47 Amerika Serikat itu bahkan mengancam akan mengenakan tarif tambahan kepada negara-negara yang menghalangi rencananya, termasuk Inggris, Jerman, dan Prancis.
Melalui platform Truth Social, Trump mengumumkan rencana pengenaan tarif 10 persen mulai Februari 2026 yang akan meningkat menjadi 25 persen pada Juni 2026 apabila kesepakatan belum tercapai. “Kami telah mensubsidi Denmark, dan semua negara Uni Eropa, dan negara-negara lain, selama bertahun-tahun dengan tidak mengenakan tarif kepada mereka, atau bentuk remunerasi lainnya,” tulis Donald Trump dalam pernyataannya dikutip dari Sportbible, Rabu (21/1/2026).
“Hanya Amerika Serikat, di bawah PRESIDEN DONALD J. TRUMP, yang dapat memainkan permainan ini, dan dengan sangat sukses! Tidak seorang pun akan menyentuh sebidang tanah suci ini, terutama karena Keamanan Nasional Amerika Serikat, dan dunia pada umumnya, dipertaruhkan.”
Desakan Keras dari Parlemen Inggris
Di Gedung Parlemen Inggris, suara untuk mengambil langkah tegas kian menguat. Mantan menteri Partai Konservatif, Simon Hoare, meminta pemerintah bertindak tegas demi menjaga martabat negara. “Nah, itu akan baik-baik saja jika kita memiliki penghuni Gedung Putih yang memahami semua itu dan yang menghormati semua itu, tetapi sekarang dia tertawa, bukan hanya secara diam-diam, tetapi secara terang-terangan di depan kita sebagai akibat dari itu,” ujar Simon Hoare.
“Apakah kunjungan kenegaraan harus dilanjutkan tahun ini? Apakah tim sepak bola harus bermain di stadion Amerika untuk Piala Dunia? Ini adalah hal-hal yang akan mempermalukan presiden di dalam negeri. Sekarang kita perlu melawan api dengan api,” tegas Hoare.
Pandangan serupa disampaikan anggota Partai Liberal Demokrat, Luke Taylor, yang menilai pendekatan diplomasi Trump tidak rasional. “Diplomasi bergantung pada aktor-aktor rasional, namun bahkan dalam dua minggu terakhir kita telah melihat Donald Trump menyatakan bahwa dia tidak terikat oleh hukum internasional, melainkan hanya moralitasnya sendiri,” timpal Luke Taylor.
Jerman Lebih Dulu Suarakan Boikot
Desakan boikot Piala Dunia 2026 sebelumnya lebih dulu muncul dari Jerman. Pemerintah Jerman menyatakan dukungan moral terhadap wacana boikot menyusul rencana invasi Amerika Serikat ke Greenland dan ancaman tarif terhadap Uni Eropa.
Meski demikian, pemerintah Jerman menegaskan tidak akan mencampuri urusan olahraga dan menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB). “Pemerintah federal menghormati otonomi olahraga. Keputusan tentang partisipasi atau kemungkinan boikot terhadap acara internasional besar sepenuhnya merupakan tanggung jawab federasi olahraga terkait, bukan politisi,” kata Sekretaris Negara untuk Olahraga Christiane Schenderlein dalam sebuah pernyataan kepada AFP.
Politisi Uni Demokrat Kristen, Juergen Hardt, menyebut boikot sebagai opsi terakhir untuk menekan Trump. “Pembatalan keikutsertaan di turnamen Piala Dunia 2026 hanya akan dipertimbangkan sebagai upaya terakhir untuk membuat presiden Trump mempertimbangkan kembali masalah Greenland,” kata Hardt dalam artikel BILD yang dikutip dari Sports Illustrated. “Kami yakin bahwa kami akan mencapai pemahaman bersama tentang keamanan di dalam NATO terkait Greenland.”











