Suasana Haru di Rumah Kos Tomohon
Pada malam hari Kamis (15/1/2026), suasana haru menyelimuti sebuah rumah kos di Tomohon, Sulawesi Utara. Di depan pintu yang tertutup rapat, cahaya temaram dari puluhan lilin menyala, mengiringi doa dan air mata keluarga serta rekan-rekan Evia. Alunan lagu “Allah Peduli” yang berkumandang di lokasi menambah suasana magis.
Tomohon berjarak sekitar 25 kilometer dari Manado, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Utara. Jarak tersebut dapat ditempuh dalam waktu 55 menit dengan berkendara melalui jalur darat. Di depan pintu yang tertutup rapat, cahaya dari lilin menyala, mengiringi doa dan air mata keluarga serta rekan-rekan Evia.
Evia merupakan mahasiswi Unima yang ditemukan meninggal dunia di salah satu kamar kos tersebut. Ibadah ini menjadi semacam momen perpisahan bagi keluarga dengan Almarhumah Evia. Alunan lagu Allah Peduli yang berkumandang di lokasi menambah suasana magis.
Ibunda Evia tak kuasa menahan tangis, terus menutup mulut dengan kedua tangannya. Di sampingnya, sang ayah berusaha tegar menenangkan sang istri meski duka jelas berpendar dari wajahnya. Kesedihan juga terlihat pada adik almarhumah. Sambil menggenggam lilin, ia menatap ke arah kamar kos tempat sang kakak mengembuskan napas terakhir.
Kuasa hukum keluarga, Niczem Alfa Wengen, menjelaskan bahwa momen ini bukanlah agenda yang direncanakan jauh-jauh hari. Ia menjelaskan alasan di balik pertemuan tersebut kepada media pada Jumat (16/1/2026). “Tadi malam itu, spontan ibadah dan doa bersama dilakukan oleh keluarga dan rekan mahasiswa dari almarhum Evie,” terang dia.
Niczem mengungkapkan bahwa ibadah ini dipicu oleh kerinduan dan kegelisahan sang ibu. Pasalnya, dalam beberapa pekan terakhir, almarhumah dikabarkan kerap hadir di dalam mimpi ibunya dengan membawa berbagai petunjuk. Atas dasar itulah, pihak keluarga merasa perlu menggelar doa bersama di tempat kejadian perkara (TKP).
Selain sebagai bentuk penghormatan terakhir, ini juga menjadi seruan bagi masyarakat Sulawesi Utara untuk turut mengawal kasus ini hingga tuntas. Pihak keluarga berharap kebenaran di balik kematian Evia yang dinilai janggal dapat segera terungkap. “Kami meminta dukungan masyarakat Sulut untuk terus berjuang demi keadilan bagi keluarga almarhumah,” terang Niczem.
Keluarga Bantah Evia Alami Masalah Study
Keluarga Evia, membantah dugaan bahwa Evia mengalami masalah study akademis. Niczem Alfa Wengen, Kuasa hukum keluarga menuturkan, Evia tidak memiliki masalah akademis. Ia memastikan ini setelah menghubungi Dekan serta dosen penguji Evia. “Saya minta raportnya dan nilainya semua tinggi, dari semester 1 hingga 8 berkisar di A dan B,” kata dia Kamis (15/1/2026). Bahkan, kata dia, nilai Evia di semester 8 semuanya A. IPK nya sangat tinggi. “IP nya 3.73, jadi tak ada masalah akademis,” kata dia.
Aku dia, pihak keluarga agak terkejut dengan pernyataan pihak Polda Sulut bahwa Evia bunuh diri karena salah satunya masalah study. Untuk itu, kata dia, pihak keluarga akan bertemu dengan pihak PPA untuk membawa bukti.
Polda Sulut akhirnya menyampaikan press release pengungkapan kasus kematian Evia Maria Mangolo, mahasiswi UNIMA di tempat kos Tomohon. Dirreskrimum Polda Sulut, Kombes Pol Suryadi, menjelaskan dari penyelidikan sementara, Evia meningal karena gantung diri. “Ini kesimpulan sementara dari hasil penyelidikan korban gantung karena depresi,” ujar Suryadi didampingi Dires PPA /PPO Noni Sengkey dan Iptu Hasi Berto, Senin (12/1/2025).
Suryadi mengungkapkan, korban diduga mengalami depresi karena ada tekanan masalah yang dihadapi selama ini. “Dari bukti-bukti yang kami temui diduga korban depresi karena masalah keluarga, studi dan hubungan asmara,” ujar tutur Suryadi. Menurutnya, penyidik masih mendalami kasus ini dengan meminta keterangan dokter terkait depresi yang dialami korban. “Kita juga meminta keterangan pihak keluarga, dan juga pacar dari korban. Yang pasti kasus ini terus kita dalami karena ini sudah dilaporkan ke Polda Sulut,” pungkasnya.
Tentang Tomohon
Kota Tomohon adalah sebuah kota otonom di Provinsi Sulawesi Utara yang dikenal dengan julukan Kota Bunga. Kota ini terletak di dataran tinggi di kaki Gunung Lokon dan Gunung Empung, sekitar 25 km di selatan Manado, dan memiliki udara yang sejuk serta panorama alam yang indah. Berada pada ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut, Tomohon memiliki lingkungan pegunungan yang kaya akan sumber air dan area resapan air.
Dikenal sebagai pusat pertanian sayuran dan industri bunga terbesar di Indonesia. Selain itu, kota ini juga terkenal dengan produksi rumah kayu tradisional Minahasa, gula aren, dan sebagai pusat pelayanan Kristen serta kota pelajar. Budaya lokalnya kental dengan suku Minahasa, yang memiliki tarian perang tradisional bernama Kabasaran.
Daya tarik wisata utamanya meliputi, Tomohon International Flower Festival, Festival bunga tahunan yang menampilkan parade bunga hias. Ada juga Danau Linow. Danau vulkanik dengan air yang dapat berubah-ubah warna. Nama “Tomohon” berasal dari kata Tou Mu’ung yang berarti “orang mata air”, merujuk pada wilayahnya yang kaya akan sumber air di masa lalu.
Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tomohon saat ini menjabat untuk periode 2025-2030 yakni Wali Kota Caroll Joram Azarias Senduk, S.H. dan Wakil Wali Kota: Sendy G. A Rumajar, S.E., M.I. Kom. Kota ini berjarak sekitar 24,9 kilometer dari Kota Manado. Estimasi waktu tempuh yakni 55 menit dengan berkendara.











