My WordPress Blog
Budaya  

Ramen, Mie Kuah Jepang yang Merajai Hati Warga Indonesia

Perkembangan Restoran Ramen di Indonesia

Jika pernah berjalan-jalan ke mal dan melakukan window shopping, coba hitung berapa banyak gerai makanan khas Jepang yang menjual ramen. Banyak sekali! Dalam beberapa tahun terakhir, franchise makanan Jepang-Jepangan mengalami peningkatan yang signifikan. Beberapa contohnya adalah Ramen-1, Marugame Udon, Ichiban Sushi, Shojin Ramen & Udon, Waroenk Ramen, Ramen Ya, Ramen Niku, Ramen Osaka, Tokyo Ramen, Hoka-Hoka Bento, Gokana Ramen & Teppan, Woody Do Cafe, Hotto Ramen, Eat.ramen Makassar, Eatboss, dan masih banyak lagi.

Mengapa ramen begitu laku? Karena rasanya yang enak dan cocok dengan lidah orang Indonesia. Ramen adalah hidangan mie kuah khas Jepang yang terbuat dari mie gandum dan disajikan dalam berbagai jenis kaldu, sering kali dengan tambahan berbagai topping.

Jenis-Jenis Kuah Ramen

Dalam satu tempat makan ramen saja, mungkin ada lebih dari 10 varian ramen yang ditawarkan di menu. Berdasarkan kuahnya, ramen dapat dibedakan menjadi empat jenis:

  • Shoyu ramen: kuah berbasis kecap kedelai yang gurih dan ringan.
  • Miso ramen: kuah yang kaya rasa, terbuat dari pasta miso.
  • Shio ramen: kuah berbasis garam yang lebih ringan.
  • Tonkotsu ramen: kuah yang kental dan creamy.

Selain itu, ada juga kuah yang dicampur keju, serta dibagi menjadi dua varian lagi yaitu ori dan spicy.

Sejarah Ramen

Meskipun ramen berasal dari Jepang, sebenarnya memiliki akar sejarah yang kuat dari Tiongkok. Mie ini biasanya terbuat dari gandum dan memiliki tekstur kenyal. Ramen disajikan dalam mangkuk dengan kuah yang beragam, seperti kaldu daging, sayuran, atau miso, dan sering kali dilengkapi dengan berbagai topping seperti irisan daging, daun bawang, rumput laut, dan telur rebus.

Ramen pertama kali diperkenalkan ke Jepang pada awal abad ke-20. Makanan ini mulai dikenal luas di Jepang setelah Perang Dunia II, ketika kelangkaan makanan mendorong inovasi dalam penyajian ramen. Seorang pengusaha bernama Momofuku Ando menciptakan ramen instan yang menjadi sangat populer.

Alasan Ramen Laku di Indonesia

Ada beberapa alasan mengapa ramen bisa sangat laris di Indonesia:

  • Hidangan dari mie dekat dengan perut orang Indonesia: Ingat, mie instan ada di mana-mana.
  • Pengaruh film: Seperti halnya Korea mempengaruhi orang Indonesia dengan teoppoki dan kimchi, ramen juga dikenalkan melalui film. Bahkan film/drama Korea pun suka menampilkan orang makan ramen.
  • Gaya hidup: Orang Indonesia suka mencoba hal baru dan memenuhi restoran Jepang adalah bagian dari gaya hidup.
  • Rasa sesuai lidah: Entah di daerah asalnya, namun ramen yang dijual di Indonesia sudah masuk lidah orang Indonesia.

Ramen dalam Kehidupan Sehari-Hari

Keluarga saya mungkin salah satu keluarga yang menggemari ramen. Meski tidak sepenuhnya menggemari, saya dan suami berusaha mengikuti keinginan anak. Anak-anak saya semuanya Gen-z dan sering memilih restoran ramen sebagai tempat makan siang jika kebetulan sedang jalan-jalan di mal.

Awalnya saya mengira bahwa ramen hanya dinikmati anak-anak muda. Namun perkiraan saya terbukti salah ketika saya juga menemukan beberapa pasangan lansia makan ramen di restoran ramen. Ramen telah menyasar ke segala kalangan usia!

Kekhawatiran Terhadap Makanan Tradisional

Ramen cukup masuk di lidah saya, walaupun mungkin rawon lebih menggigit. Apalagi rujak cingur lebih bikin saya ngeces. Ya memang bukan perbandingan apple to apple tapi saya yakin anak-anak saya tidak akan sepakat dengan saya. Sebab lidah antar generasi ini sudah berbeda.

Menyikapi meningkatnya jumlah restoran ramen dan hidangan ala Jepang lainnya, saya berpikir mungkin ini normal. Tapi juga sebaiknya tidak dinormalisasi. Pangan lokal seharusnya tetap menempati sebagian besar hati masyarakat Indonesia.

Caranya bisa dengan membuat lomba-lomba masak makanan tradisional. Membuat event di sekolah dengan menghidangkan hanya makanan tradisional saja saat itu. Tujuannya agar anak-anak sekolah mengenal masakan tradisional dan timbul rasa cinta pada taste asli anak bangsa.

Promosi makanan tradisional juga bisa dilakukan melalui film atau serial. Ya, kalau kimchi dan jjajangmyeon bisa terkenal gara-gara drama Korea, rawon dan gado-gado mestinya juga bisa kondang lewat film atau serial Indonesia.

Atau mungkin saya belum saatnya khawatir karena warung coto dan sop saudara masih saja penuh pengunjung? Kedai pempek masih ngantre yang beli? Sate Madura tiap hari lengan penjualnya pegel ngipasin sate karena pembeli membludak?

Mari yuk kita pikirkan bersama posisi masakan tradisional Indonesia di tengah gempuran franchise asing. Kalau terlalu santuy berleha-leha, jangan sampai suatu saat kita sulit mencari warung yang jualan makanan khas karena selera sudah disikat habis sama hidangan dari negeri oriental.

Salam coto Makassar, pempek Palembang, brongkos Jawa Tengah, rawon Jawa Timur dan masih banyak lagi…

Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *