My WordPress Blog
Budaya  

Artikel ke-3.500: Jelajah Literasi dan Perlindungan Pikiran



Artikel ke-3.500: Sebuah Peziarahan Literasi dan Penjagaan Nalar

Hari ini, jam dinding waktu seolah berdetak lebih lambat namun pasti. Hampir dua belas tahun telah berlalu—tepatnya sebelas tahun lewat tujuh setengah bulan—sejak huruf pertama saya tancapkan di ladang digital. Hari ini, angka di monitor menunjukkan sebuah pencapaian yang bagi sebagian orang mungkin hanya statistik, namun bagi saya adalah sebuah monumen batin: Artikel ke-3.500.

Mengingat kembali masa-masa awal, gairah itu meledak-ledak. Saya ingat betul target ambisius yang saya tetapkan sendiri: menelurkan 500 tulisan dalam setahun. Pada tiga atau empat tahun pertama, target itu terlampaui dengan relatif lancar. Menulis saat itu terasa seperti bernapas. Namun, sebagaimana sebuah peziarahan panjang, jalan tidak selalu mulus. Ada fase-fase di mana kendala teknis, perbaikan sistem platform, hingga kejenuhan melanda. Pada tahun-tahun terakhir, harus saya akui, semangat saya tidak lagi segebu dulu. Kehadiran berbagai media alternatif sebagai sarana menuangkan gagasan juga membuat fokus saya terbagi. Namun, konsistensi tetap menjadi kompas yang menuntun saya hingga ke titik ini.

Menajamkan Pena, Menjernihkan Pikiran

Lalu, apa yang sebenarnya saya peroleh dari ribuan artikel ini? Hal yang paling nyata adalah kemampuan menulis yang kian terasah. Menulis bukan lagi sekadar menyusun kata, melainkan proses “menangkap” momentum. Begitu ada fenomena menarik, otak secara otomatis mengolahnya menjadi kerangka gagasan yang siap ditayangkan.

Dulu, adalah satu-satunya rumah bagi pemikiran saya. Kini, cakrawala itu meluas. Tulisan-tulisan saya kini tersebar di berbagai etalase: web pribadi Susyharyawan.com, Katolikana, Sesawi, Brayatminulyo.net, hingga SuryaPos. Saya juga mengenang kolaborasi kreatif bersama rekan-rekan di Ngawursiana dan SpartanNusantara. Melalui menulis pula, pintu-pintu kolaborasi terbuka lebar, melahirkan beberapa buku tematik yang lahir dari rahim diskusi para penulis hebat. Saya banyak belajar dari para Kompasianer senior yang luar biasa, yang secara tidak langsung menjadi guru-guru tanpa kelas bagi saya.

Keras Bukan Sarkas: Belajar dari “Karantina”

Peziarahan ini juga melatih kekritisan saya agar lebih terampil dan beradab. Dulu, saya akrab dengan label “karantina”, pencabutan label, hingga penghapusan artikel oleh admin. Alih-alih marah, saya menjadikannya laboratorium pembelajaran. Saya belajar bagaimana tetap bersikap kritis tanpa kehilangan etika; bagaimana tetap “tajam” namun tidak melukai secara serampangan.

Saya memegang prinsip: keras itu wajar, namun harus dikemas dengan cerdas. Keras bukan berarti sarkas. Menulis adalah cara saya melatih konsistensi otak. Dengan menulis dua hingga tiga artikel sehari, saya memaksa energi saya mengalir ke kanal yang positif. Proses ini menuntut saya untuk terus membaca, mencari informasi, dan menggali inspirasi agar setiap tulisan memiliki “isi” dan tidak sekadar menjadi sampah digital.

Persahabatan di Ruang Hampa

Satu hadiah tak terduga dari dunia tulis-menulis adalah persahabatan. Melalui tulisan, saya menemukan rekan-rekan baru dari berbagai latar belakang. Kami bisa bertukar pikiran, berdebat, hingga bercanda setiap saat di ruang-ruang diskusi virtual, padahal secara fisik kami belum pernah bertatap muka.

Ada satu kenangan menggelitik saat seorang rekan bertanya, “Mas Susy, apakah Anda pernah dipanggil Bareskrim?” Saya tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan itu. Ketika saya tanya alasannya, dia menjawab dengan polos, “Habisnya, tulisan-tulisan Mas itu seperti orang yang mengajak gelut (berkelahi).” Rupanya, gaya tulisan saya yang lugas sering kali dianggap provokatif bagi sebagian orang, padahal itulah cara saya menjaga nalar kritis.

Idealisme dan Filosofi “Ludah Babi”

Menulis juga mengajarkan saya tentang integritas hidup. Pernah suatu ketika, saya dihadapkan pada tawaran yang sangat menggoda: menjadi pegawai pemerintah (P3K) dengan syarat yang relatif sangat mudah. Di titik itulah idealisme saya diuji. Saya akhirnya memutuskan untuk tidak mengambil kesempatan itu.

Mengapa? Karena saya ingin tetap bebas. Saya ingin tetap menulis dengan lugas dan cerdas tanpa beban struktur jabatan. Mayoritas artikel saya selama ini berisi kritik atas perilaku bernegara yang menyimpang. Jika saya masuk ke dalam sistem tersebut namun tetap mengkritiknya, saya merasa harga diri saya akan jatuh.

Saya sering menggunakan analogi babi—binatang yang sering dianggap jorok, namun sebenarnya memiliki prinsip kebersihan yang unik. Babi konon tidak mau memakan makanan yang sudah terkena ludahnya sendiri. Nah, masa saya kalah dengan babi? Tidak mungkin saya “meludah di piring tempat saya makan”. Saya tidak mungkin melakukan kritik tajam di tempat saya memperoleh penghidupan. Menolak jabatan tersebut adalah cara saya menjaga martabat tulisan saya.

Jejak yang Berbekas

Tentu, tidak semua pembaca setuju dengan saya. Saya pernah menerima pesan di media sosial yang bertanya, “Apakah ini Mas Susy yang nulis di ? Mbok kalau menulis soal partai (Demokrat), yang objektif…” Jawaban saya sederhana: “Silakan tulis menurut versi Anda.” Bagi saya, tulisan adalah ruang dialektika, bukan kebenaran mutlak yang harus diterima semua orang.

Namun, di antara keraguan itu, ada pula kebahagiaan kecil yang bermakna. Beberapa kali saya dihubungi mahasiswa untuk menjadi narasumber skripsi mereka terkait aktivitas saya di . Saya merasa terhormat, sekaligus bertanya-tanya, “Siapalah saya ini?”

Jika ditanya apa momen paling berkesan, jawabannya jelas: Kompasianival 2016. Saya ingat betul berada di antara para nominator yang namanya sudah sangat besar. Di antara mereka, saya merasa bukan siapa-siapa. Namun, kehendak Semesta berkata lain; saya yang justru membawa pulang penghargaan itu. Kebahagiaan serupa terulang di tahun 2019 saat saya meraih predikat “Pembaca Terbanyak Sepanjang Tahun” dengan lebih dari 400.000 pembaca. Sekali lagi, saya hanya bisa bergumam, “Siapa sih saya ini…”

3.500 artikel telah tayang. Ini bukan akhir, melainkan sebuah jeda sejenak untuk menarik napas sebelum melangkah ke artikel berikutnya. Menulis adalah jalan hidup, dan saya akan terus berjalan di atasnya selama jemari masih bisa menari di atas papan ketik.

Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *