Tas Nongkrong Tidak Sekadar Bermanfaat
Di tengah arus mobilitas harian yang serba cepat, kebutuhan membawa barang esensial seperti smartphone dan dompet dengan cara yang sederhana bisa membuat aktivitas terasa jauh lebih efektif dan efisien. Untuk memenuhi kebutuhan itu, penggunaan tas dengan beragam ukuran dan model menjadi penting serta kian populer terutama bagi mereka yang suka nongkrong.
Omong-omong soal tempat nongkrong di era digital, tas nongkrong adalah salah satu produk dari sekian ribu produk yang cenderung bisa menjadi fesyen dan gaya hidup serta berpotensi menggeliatkan pertumbuhan ekonomi. Potensi tersebut tentunya dipandang sebagai peluang pasar yang menjanjikan bagi banyak produsen. Baik produsen pabrikan maupun produsen rumahan atau yang lebih dikenal sebagai produk UMKM.
Peluang itu nyatanya tampak sudah direalisasikan oleh banyak produsen lewat berbagai produk tas nongkrong dengan berbagai tipe, merek, model, bahan, ukuran, kualitas dan harga, yang dijual di berbagai toko daring dan luring. Sehingga konsumen mempunyai banyak pilihan untuk menentukan tas nongkrong yang hendak dibeli, dimiliki dan dijadikan teman penyimpan, pengaman, fesyen hingga gaya hidup dalam setiap tongkrongan.
Oleh karena itu, nongkrong bawa tas di era generasi topping sepertinya tidak lagi sekadar untuk mengambil kemanfaatan yang bisa membuat aktivitas harian bagi setiap individu menjadi lebih efektif dan efisien, tetapi juga kebutuhan fesyen dan gaya hidup. Makanya tas nongkrong yang digunakan oleh pelajar, mahasiswa, para pekerja sampai influencer (Selebgram, Youtuber, SelebTiktok, dll) sekarang, sangat cenderung harus bernilai gaya hidup minimal bernilai fesyen selain nilai manfaatnya. Memang apa yang membuatnya berbeda?
Tas Nongkrong Antara Manfaat, Fesyen dan Gaya Hidup
Tas nongkrong antara manfaat, fesyen dan gaya hidup bagi pemilik atau pemakainya secara otomatis akan membedakan usia pengguna (asal generasi), pekerjaan dan status sosialnya. Berikut adalah uraian perbedaannya:
1. Manfaat Tas Nongkrong
Nilai manfaat tas nongkrong merupakan kebutuhan dengan mengutamakan peruntukannya dalam membawa barang (penyimpanan), pengaturan, keamanan, kenyamanan dan daya tahan termasuk efektifitas dan efisiensi. Pengguna tas nongkrong yang mengutamakan kemanfaatan umumnya adalah mereka yang berusia paruh baya ke atas, pekerja lapangan yang lokasi tongkrongannya lebih banyak di tepi jalan dengan penghasilan minim, tidak mengejar konten, tidak butuh validasi dan lebih banyak yang berstatus sosial golongan menengah ke bawah.
2. Tas Nongkrong Bernilai Fesyen
Nilai fesyen berhubungan dengan kecocokan out fit, warna, model, jenis bahan, merek meski tidak dominan, tampilan yang estetis, keren, elegan, modis, tren dan konten-able. Sehingga saat nongkrong di lokasi mana pun, difoto dan divideokan, kemudian menjadi bagian dari konten, tas yang dipakai akan selalu tampak bagus, adaptif dan fashionable. Ditahap ini keinginan untuk gaya hidup sebenarnya mulai tumbuh.
Pengguna tas nongkrong di sini tidak sepenuhnya mengindahkan kemanfaatan tetapi lebih mengutamakan kebutuhan fesyen, yang umumnya berusia remaja dan dewasa (generasi topping terutama gen Z), memilih lokasi nongkrong yang konten-able, membuat konten tidak terlalu mengejarnya, membutuhkan validasi (tidak harus di dunia digital) dan berasal dari berbagai level pekerjaan serta status sosial.
3. Nilai Gaya Hidup dalam Tas Nongkrong
Sedangkan untuk nilai yang mengarah pada gaya hidup, selain menyandang nilai fesyen, tas nongkrong harus mengandung unsur harga yang premium, kemewahan, merek yang sudah mempunyai nilai branding, memiliki banyak tas (lebih dari satu atau dua tas) yang digunakan sesuai acaranya, dres code-nya, keseuaian out fit-nya dan berpotensi kejut saat ikut tas menjadi atribut konten (viral).
Pengguna tas nongkrong yang mengutamakan gaya hidup tentunya tidak menolak kebutuhan fesyen, yang usianya cenderung beragam, berasal dari banyak generasi, memilih lokasi nongkrong yang konten-able, mengejar konten, membutuhkan validasi, memburu popularitas, menaikan lagi status sosial, berasal dari berbagai profesi pekerjaan, dan uniknya tidak hanya berasal dari kalangan menengah ke atas dengan penghasilan tinggi. Mereka yang berasal dari kalangan menengah ke bawah bahkan dengan cara berutang pun banyak yang menggunakan barang (tas nongkrong) hanya untuk terlihat gaya dan berharap meraih viral, validasi, popularitas dan cuan kemudian mewujud menjadi apa yang diinginkannya.
Kesimpulan
Memiliki tas nongkrong bukan lagi soal tren, kemanfaatan tetapi juga aktualisasi diri, validasi, popularitas dan branding personal untuk mendapatkan cuan. Produk tas, dalam hal ini tas nongkrong yang identik dengan aktualisasi diri, penampilan, fesyen, pamer kemewahan, tidak lagi bisa dinilai sebagai sebuah produk dari sisi manfaat dan fungsinya saja.
Tas nongkrong adalah branding, tren, jati diri, harga diri, gengsi, strata sosial, jalan popularitas, nilai sosial dan semua hal tentang kemapanan. Tetapi yang paling utama, tas nongkrong kini memberi ruang hidup bagi banyak orang, yang pada akhirnya kembali pada individu masing-masing untuk memilih ruang hidup dari sisi yang mana.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











