My WordPress Blog

Tikus Cina Berhasil Melahirkan Setelah Misi Antariksa



Sebuah kisah yang menarik datang dari luar angkasa. Seorang tikus betina yang menjadi bagian dari misi antariksa China berhasil membuktikan bahwa karier dan keibuan bisa berjalan bersamaan. Tikus tersebut baru saja menyelesaikan dua minggu di lingkungan mikrogravitasi di pesawat luar angkasa Shenzhou-21 dan stasiun luar angkasa Tiangong. Setelah kembali ke Bumi, ia melahirkan sembilan anak. Meski tiga di antaranya meninggal tidak lama setelah lahir, para peneliti mengatakan angka ini masih normal bagi spesies tikus yang dikenal memiliki jumlah kelahiran besar. Hasil ini semakin menakjubkan karena selama misi, tikus-tikus tersebut sempat mengalami gangguan pasokan makanan.

Manusia telah sejak lama mengirim hewan ke luar angkasa. Sebelum anjing jalanan bernama Laika diluncurkan oleh Uni Soviet, tidak ada yang tahu apakah di luar atmosfer terdapat ancaman yang bisa menyebabkan kematian seketika. Bahkan setelah astronaut menghabiskan beberapa bulan di orbit Bumi rendah, berbagai hewan kecil tetap dikirim ke luar angkasa untuk riset. Salah satu pertanyaan besar yang belum sepenuhnya terjawab adalah apakah perjalanan antariksa berisiko bagi reproduksi makhluk hidup, terutama jika manusia suatu hari ingin menetap di Bulan atau Mars?

Untuk menjawab pertanyaan itu, Chinese Academy of Sciences (CAS) mengirim empat ekor tikus ke luar angkasa dan mencoba melihat apakah mereka tetap mampu bereproduksi setelah misi. “Misi ini menunjukkan bahwa perjalanan antariksa jangka pendek tidak mengganggu kemampuan reproduksi tikus,” kata Profesor Wang Hongmei dari CAS. “Misi ini juga menyediakan sampel yang sangat berharga untuk meneliti bagaimana lingkungan luar angkasa memengaruhi tahap awal perkembangan mamalia.”

Keempat tikus astronaut tersebut diluncurkan pada 31 Oktober 2025 dan kembali ke Bumi pada 14 November 2025. Masa kehamilan tikus berkisar 19 hingga 21 hari, dan anak-anak tikus itu lahir pada 10 Desember 2025. Anak yang bertahan hingga Natal dinyatakan sehat dan menyusu secara normal. Layaknya astronaut manusia, tikus-tikus ini tidak dipilih sembarangan. CAS melakukan berbagai tes kebugaran, keseimbangan, ketahanan terhadap mabuk perjalanan, hingga uji ketekunan menghadapi rintangan sebelum memasukkan mereka ke dalam misi.

Sebelumnya, CAS juga merilis video yang memperlihatkan tikus-tikus tersebut tampak aktif dan beradaptasi dengan baik di dalam kandang. Untuk mengatasi masalah rambut dan kotoran tikus yang bisa melayang di kondisi mikrogravitasi, kandang dirancang dengan aliran udara khusus yang mengarahkan partikel ke permukaan lengket di bagian bawah. Pemantauan kesehatan induk dan anak-anaknya masih terus dilakukan untuk melihat apakah ada dampak jangka panjang dari perjalanan tersebut. Siklus hidup tikus yang pendek membuat dua pekan di luar angkasa setara dengan lebih dari satu tahun misi antariksa bagi manusia.

Meskipun begitu, para ilmuwan mengakui penelitian ini belum menjawab seluruh kekhawatiran soal dampak antariksa terhadap kesuburan betina. Sang induk tidak hamil maupun melahirkan di kondisi mikrogravitasi. Ia juga tidak melewati sabuk radiasi Van Allen, sehingga tetap terlindung dari paparan radiasi tertinggi.



Tekanan tambahan muncul ketika sampah antariksa menunda kepulangan mereka yang semula direncanakan menggunakan Shenzhou-20. Akibatnya, stok makanan tikus menipis. Sebagai solusi darurat, susu kedelai milik para taikonaut dinilai sebagai suplemen paling aman untuk mereka.

Reproduksi Manusia dan Antariksa

Sejak 1964, dunia sebenarnya sudah tahu bahwa penerbangan luar angkasa tidak mematikan kesuburan. Valentina Tereshkova, perempuan pertama di luar angkasa, melahirkan anak kurang dari setahun setelah misinya bersama kosmonaut Andriyan Nikolayev. Namun, misi singkat kala itu belum tentu mencerminkan dampak perjalanan antariksa jangka panjang. Tikus sendiri telah dikirim dalam penerbangan sub-orbital sejak 1950, bahkan lima ekor tikus mengorbit Bulan pada misi Apollo 17 tahun 1972. Sayangnya, keempat tikus yang selamat kala itu harus dieutanasia sebelum sempat bereproduksi. Pada 2018, 20 tikus juga dikirim ke ISS untuk dibandingkan kesehatannya dengan saudara kembar mereka di Bumi.

Pertanyaan selanjutnya adalah, kapan badan antariksa dunia mengirim hewan yang lebih besar, seperti babi atau sapi ke luar angkasa untuk melihat apa yang akan terjadi pada mereka.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *