Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi: Pemimpin yang Mengubah Wajah Pendidikan Islam
Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi adalah sosok yang tidak hanya dikenang sebagai seorang pengasuh, tetapi juga sebagai pionir dalam menggabungkan tradisi dengan modernitas dalam dunia pendidikan Islam. Lahir di Cirebon pada 17 November 1976, beliau memiliki latar belakang pendidikan yang kuat, termasuk gelar S3 dari Departemen Studi Strategis Internasional, Universiti Malaya, Malaysia. Selain itu, beliau aktif menulis di berbagai media nasional, menjadikannya salah satu tokoh yang memiliki kontribusi besar dalam perbincangan publik tentang pendidikan dan agama.
Dalam sejarah Pondok Modern Darussalam Gontor, beliau menjadi Profesor pertama yang mampu memadukan kedalaman ilmu agama dengan wawasan akademis modern. Dengan pendekatan ini, beliau berhasil menciptakan kurikulum pendidikan pesantren yang relevan, adaptif, dan berdaya saing global, sambil tetap menjaga prinsip-prinsip dasar pesantren. Ini menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan nilai-nilai pesantren di tengah dinamika dunia yang terus berkembang.
Salah satu misi utama beliau adalah mendesiminasikan model pendidikan Gontor ke berbagai pesantren di Indonesia. Beliau percaya bahwa metode Gontor adalah solusi untuk menciptakan generasi yang mandiri, berintegritas, dan siap memimpin. Baginya, “muamalah” atau interaksi dan penerapan kurikulum haruslah sederhana dan tidak rumit, karena didasari oleh niat tulus untuk kemajuan pendidikan Islam.
Kehilangan almarhum adalah kehilangan seorang nakhoda yang memandu arah pendidikan pesantren menuju masa depan yang visioner. Di tangan beliau, urusan muadalah (penyetaraan) menjadi sederhana, karena yang terpenting bagi beliau adalah penyebaran ilmu, bukan birokrasi yang membelenggu. Kepergian almarhum meninggalkan luka yang mendalam bagi keluarga besar Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA), termasuk saya sendiri.
Masih jelas dalam ingatan saat beliau melangkahkan kaki bersilaturahmi ke BIMA. Kedatangannya bukan sekadar kunjungan formal, melainkan sebuah restu dari seorang ayah kepada anaknya. Meskipun secara formal hanya mengenyam pendidikan di Gontor kurang dari satu bulan, ikatan batin saya dengan “Ibu Kandung” Gontor tak pernah putus. Kelima putra-putri saya pun saya titipkan di Gontor. Di BIMA, detak jantung Gontor berdenyut kencang; dari 300 pengajar kami, 62 di antaranya adalah alumni Gontor. Bahkan, nafas organisasi dan kegiatan ekstrakurikuler kami banyak terinspirasi dari disiplin Gontori.
Sambil menatap lingkungan BIMA dengan pandangan visionernya, beliau berceletuk lembut namun penuh penekanan:
“Dari 5000an santri di BIMA, setidaknya buatlah satu kelas khusus, minimal 50 orang, yang menggunakan kurikulum Gontor secara murni.” Itu bukan sekadar saran, itu adalah amanah. Beliau ingin Gontor tidak hanya menjadi menara gading di Ponorogo, tetapi menjadi benih yang tumbuh subur di ladang-ladang pendidikan lain, termasuk di Bina Insan Mulia.
Di depan ribuan santri BIMA, beliau berdiri dengan wibawa seorang Profesor namun dengan kerendahan hati seorang santri. Beliau menitipkan tiga pilar yang kini menjadi jimat bagi kami: Keikhlasan, Kejujuran, dan Kesederhanaan. Beliau memberikan gambaran yang begitu indah tentang bagaimana seharusnya seorang alumni Gontor berbakti. Beliau ingin setiap alumni Gontor satu visi dengan perjuangan di BIMA, karena bagi beliau, di mana pun kurikulum Gontor diterapkan, di sanalah panji-panji Trimurti dikibarkan.
Kini, sosok yang mempermudah jalan dakwah dan pendidikan itu telah kembali ke haribaan-Nya. Gontor kehilangan pilar utamanya, dan kami di Bina Insan Mulia kehilangan mentor yang selalu menyemangati untuk terus bergerak maju. Selamat jalan, Kiai Amal. Wasiatmu tentang “Kelas Gontor” di BIMA akan kami jaga sebagai komitmen cinta kami kepada nilai-nilai yang engkau tanamkan. Engkau telah tuntas menunaikan tugas, meninggalkan warisan intelektual dan spiritual yang takkan lekang oleh waktu.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











