Honda BeAT yang muncul pada tahun 2020 memiliki garis bodi yang tajam dan dinamis. Garis-garis tajam tersebut memberikan kesan agresif dan sporty pada kendaraan ini. Tim kami menggunakan All New BeAT tahun 2020 sebagai kendaraan harian, dan kini ingin mengetahui bagaimana hasil tesnya. Apakah hasilnya mirip dengan Genio? Apa keunggulan dan kekurangannya?

Posisi Duduk yang Cocok untuk Indonesia
Posisi duduk dari All New BeAT Tahun 2020 terasa sangat sesuai dengan kebutuhan orang Indonesia. Rasanya pas untuk mayoritas tinggi badan penduduk Indonesia yang tidak terlalu tinggi. Jok yang rendah, dengan tinggi dari tanah hanya 740 mm, memudahkan pengendara dengan tinggi sekitar 160 cm untuk mengaksesnya. Busa jok juga empuk dan nyaman.

Jok rendah tersebut dikombinasi dengan posisi dek yang cukup tebal. Ketebalan ini disebabkan oleh adanya aki di bawah pijakan kaki. Efeknya bagi pengendara dengan tinggi lebih dari 170 cm dan kaki panjang adalah posisi paha datar dan lutut dekat setang saat berbelok. Sementara itu, posisi setangnya rendah dan sempit, tetapi terasa ringan dan memudahkan berkendara harian, terutama di jalanan yang padat dan perlu selap-selip.

All New BeAT Tahun 2020 didukung oleh sasis eSAF yang sama dengan Genio, dengan bobot hanya 90 kg (versi CBS-ISS), membuatnya lincah dalam handling. Menikung kencang terasa enak, lincah, dan nurut. Grip ban bawaan yang sudah tubeless juga bagus baik saat kering maupun hujan. Suspensi yang empuk meskipun untuk satu orang tetap nyaman saat melibas jalan tak rata. Namun, suspensi yang empuk dan bobot ringan juga memiliki kelemahan, yaitu di kecepatan tinggi lebih dari 80 km/jam terasa melayang.
Mesin Baru Lebih Irit
Mesin yang digunakan All New BeAT Tahun 2020 benar-benar berbeda dari generasi sebelumnya, tetapi persis seperti Genio dengan beberapa perubahan. Perbedaan besar ada di air cleaner, muffler, dan fuel injection system. Mesin ini berkonstruksi overstoke, langkah piston jauh melebihi diameter pistonnya. Perbandingannya 47 mm x 63,1 mm. Tenaga maksimal 8,9 dk di 7.500 rpm, sedangkan torsi maksimum 9,3 Nm di 5.500 rpm. Karakter yang ingin diraih adalah torsi besar dengan putaran mesin tidak terlalu tinggi, sehingga cocok untuk berkendara harian dan efisien konsumsi bensin.
Untuk pengendara yang suka berkendara santai, mesin baru BeAT Tahun 2020 ini cocok karena cukup responsif meski digas sedikit saja. Untuk situasi stop and go di kemacetan juga pas. Namun, buat yang butuh skutik kecil yang agresif dan sering menyalip rasanya kurang cocok karena di putaran dan kecepatan menengah, kisaran 50-70 km/jam, terasa tertahan. Karakter membuka gasnya harus diurut, jika dibuka langsung besar cenderung ‘ngok’. Jadi, saat akan menyalip atau ketemu tanjakan harus menjaga kecepatan agar tidak kehilangan momentum.
Uniknya, selepas jarum spidometer melewati angka 70 km/jam akan kembali enteng ngacir hingga kisaran 90 km/jam, baru kemudian merambat pelan lagi hingga lebih dari 100 km/jam. Jadi karakter mesinnya enak untuk santai atau melibas rute keluar kota yang jalannya relatif sepi.
Dengan karakter agak ngeden di kecepatan menengah, maka tak heran jika catatan waktu saat dites akselerasi lebih responsif BeAT lama. Data lengkapnya ada di tabel:
Data Tes:
– 0-60 km/jam: 7,8 detik
– 0-80 km/jam: 14,2 detik
– 0-100 km/jam: –
– 0-100 m: 8,8 detik (@63,4 km/jam)
– 0-201 m: 13,9 detik (@78,7 km/jam)
– 0-402 m: 22,1 detik (@95,9 km/jam)
– Top speed spidometer: 108 km/jam
– Top speed racelogic: 99,6 km/jam
*data diambil menggunakan racelogic performance box
Contoh, untuk meraih kecepatan 0-60 km/jam, perlu waktu 7,8 detik, bandingkan dengan BeAT generasi sebelumnya yang hanya 6,5 detik! Untuk meraih jarak 0-201 meter di angka 13,9 detik, sedangkan BeAT generasi sebelumnya 13,2 detik. Tapi All New BeAT Tahun 2020 unggul kecepatan puncaknya, di Racelogic tertera bisa mentok di angka 99,6 km/jam, sedangkan BeAT generasi sebelumnya cuma 96,8 km/jam. Lumayan kan?
Padahal klaim Honda, All New BeAT Tahun 2020 ini hanya mentok 94 km/jam. Dengan karakter mesin barunya ini, tampak memang dikembangkan untuk lebih efisien konsumsi bensinnya, makanya saat dipakai seakan pengendara dipaksa untuk menahan kecepatan tak lebih dari 50 km/jam. Berapa hasilnya? Buat harian dengan gaya berkendara agresif, pokoknya lebih sering gas dibetot mentok biar ngacir, ternyata rata-rata masih bisa dapat 51 km/liter. Itu pakai bensin beroktan 92, sesuai rasio kompresinya 10:1. Bisa dibayangkan kan kalau yang ngegas lebih kalem, selalu berusaha agar Eco Indicator menyala dan mau menuruti kecepatan tak lebih dari 50 km/jam? Tampaknya klaim Honda sebesar 60,6 km/liter bisa tercapai.
Data Spesifikasi :
– Tipe mesin: 4 Langkah, SOHC 2 katup, eSP berpendingin udara
– Volume: 109,5 cc
– Sistem suplai bahan bakar: Injeksi (PGM-FI)
– Diameter x langkah: 47,0 x 63,1 mm
– Tipe tranmisi: Otomatis, V-Matic
– Rasio kompresi: 10,0:1
– Daya maksimum: 8,9 dk (6,6 kW/9,0 PS)/7.500 rpm
– Torsi maksimum: 9,3 Nm (0,95 kgf.m)/ 5.500 rpm
– Tipe starter: Elektrik dan Kick Starter
– Tipe kopling: Otomatis, Sentrifugal, Tipe Kering
– Tipe rangka: Tulang Punggung – eSAF (enhance Smart Architecture Frame)
– Tipe suspensi depan: Teleskopik
– Tipe suspensi belakang: Lengan Ayun dengan Peredam Kejut Tunggal
– Ukuran ban depan: 80/90–14 M/C – Tubeless
– Ukuran ban belakang: 90/90–14 M/C – Tubeless
– Rem depan: Cakram Hidrolik dengan Piston Tunggal
– Rem belakang: Teromol
– Sistem pengereman: Combi Brake System (Tipe CBS dan CBS-ISS)
– Panjang x lebar x tinggi: 1.877 x 669 x 1.074 mm (BeAT)
– Tinggi tempat duduk: 740 mm
– Jarak sumbu roda: 1.256 mm
– Jarak terendah ke tanah: 147 mm
– Curb weight: 89 Kg (tipe CBS), 90 Kg (Tipe CBS-ISS)
– Kapasitas tangki bahan bakar: 4,2 Liter
– Kapasitas minyak pelumas: 0,65 Liter Pada penggantian Periodik
– Tipe baterai atau aki: Baterai 12V-3Ah, Tipe MF (Tipe CW dan CBS), Baterai 12V-5Ah, Tipe MF (Tipe CBS-ISS)
– Sistem pengapian: Full Transisterized, Baterai
– Tipe busi: NGK MR9C-9N/DENSO U27EPR9-N9











